Pengamat Mengomentari Kemesraan Anies-AHY: Sinyal 2029!

DEMOCRAZY.ID – Momen keakraban antara mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam acara halal bihalal yang digelar oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Cikeas menjadi perbincangan hangat di kalangan publik.

Pengamat politik Adi Prayitno menilai, kemesraan keduanya sarat dengan pesan dan sinyal politik, terutama jelang Pilpres 2029.

Adi mengungkapkan, kehebohan atas momen tersebut tidak lepas dari latar belakang hubungan politik keduanya yang pernah dianggap renggang.

Menjelang Pemilu 2024, Anies dan AHY sempat digadang-gadang akan membangun kerja sama dan melaju bersama.

Namun, Anies akhirnya memilih berpasangan dengan Muhaimin Iskandar dan diusung oleh Partai Nasdem, PKB, serta PKS.

“Saat itu banyak pernyataan dari kader-kader Partai Demokrat yang menyayangkan manuver politik Anies di titik-titik akhir. Konfigurasi pasangan yang mestinya mengarah pada duet Anies-AHY justru berubah drastis,” ujar Adi dalam kanal YouTube-nya yang tayang Rabu (25/3/2026).

Meski demikian, Adi mengingatkan bahwa dinamika semacam ini adalah hal lumrah dalam dunia politik.

Menurutnya, hubungan antarpolitisi bersifat cair: hari ini bisa menjadi lawan, esok bisa bersatu kembali.

Ia menyebut banyak contoh di mana tokoh-tokoh yang pernah berkonflik akhirnya bahu-membahu dalam satu koalisi.

Adi menyebut faktor ketiga yang membuat momen ini ramai dibicarakan adalah spekulasi publik soal kemungkinan duet Anies-AHY di Pilpres 2029.

Setiap momen yang melibatkan politisi dan partai, ujarnya, selalu dibaca sebagai sinyalemen.

“Ada pihak yang menyebut, jangan-jangan ini adalah tanda-tanda bahwa Demokrat akan mengusung AHY berdampingan dengan Anies Baswedan. Entah AHY sebagai capres dengan Anies sebagai cawapres, atau sebaliknya,” kata Adi.

Menurut Adi, skenario tersebut menjadi relevan mengingat kemungkinan Prabowo Subianto maju untuk periode kedua dengan koalisi besar.

Pertanyaannya, apakah posisi calon wakil presiden otomatis akan jatuh ke AHY? Jika tidak, Partai Demokrat dinilai perlu menyiapkan skenario cadangan, dan Anies Baswedan menjadi salah satu nama yang masuk dalam kalkulasi tersebut.

Adi juga menyoroti putusan Mahkamah Konstitusi yang menghapus ambang batas presiden (presidential threshold).

Dengan aturan baru ini, partai mana pun yang lolos ke parlemen berhak mengusung pasangan calon presiden sendiri.

Artinya, peluang duet Anies-AHY secara teknis sudah terbuka lebar.

Terlepas dari berbagai spekulasi, Adi menegaskan bahwa Pilpres 2029 memang masih sekitar tiga tahun lagi.

Namun, bagi para politisi, ia menilai tahun politik sebenarnya sudah dimulai sejak 2026 dan akan semakin mengeras pada 2027.

Siapa kawan, siapa lawan, dan siapa mitra koalisi, semuanya tengah dipetakan sejak dini.

“Siapa pun yang maju di 2029, dia punya investasi elektabilitas dan popularitas. Publik akan mengingat namanya sebagai sosok yang layak diperhitungkan,” pungkas Adi Prayitno.

Sumber: JakartaSatu

Artikel terkait lainnya