DEMOCRAZY.ID – Mantan penasihat Perdana Menteri Israel, Nir Hefetz, mengungkap kemungkinan skenario politik yang bisa menyelamatkan posisi Benjamin Netanyahu di tengah tekanan hukum dan situasi perang melawan Iran.
Dalam wawancara radio, Hefetz menyebut peluang Netanyahu kembali terpilih sebagai perdana menteri tidak besar, meski masih mungkin terjadi.
Dalam wawancara di radio 103FM, Hefetz menilai kembalinya Yonatan Urich ke kantor perdana menteri memang menguntungkan Netanyahu, tetapi tidak akan mengubah peta politik secara dramatis.
Yonatan Urich meruakan juru bicara utama Netanyahu dan partai Likud saat ini.
Urich dikenal sebagai ahli strategi digital yang mendirikan jaringan sosial untuk IDF dan pendamping Netanyahu dalam beberapa kampanye pemilu.
Ia menjelaskan, Urich lebih berperan sebagai pelaksana kampanye komunikasi, terutama di media digital.
Menurutnya, kemampuan utama Urich ada pada pengelolaan pesan politik dan operasi media sosial, termasuk kampanye negatif.
“Dia bukan orang yang memimpin strategi. Dia pelaksana. Strategi biasanya dipimpin oleh Netanyahu sendiri bersama penasihat lain,” ujarnya dilansir dari Maariv.
Hefetz juga menyebut nama mantan perdana menteri Naftali Bennett sebagai faktor yang bisa menentukan masa depan politik Netanyahu.
Hefetz menduga Bennett bisa saja memilih bergabung dengan Netanyahu dibanding membentuk pemerintahan yang bergantung pada partai-partai Arab.
Menurut Hefetz, ada kemungkinan tercipta kesepakatan politik tertentu untuk menjaga stabilitas pemerintahan.
“Saya bisa membayangkan skenario, Bennett masuk pemerintahan bersama Netanyahu, mungkin dengan rotasi, disertai kesepakatan politik tertentu. Pertanyaan besarnya adalah soal hukum dan isu wajib militer,” katanya.
Hefetz juga mengkritik video Netanyahu yang viral saat membeli kopi di tengah situasi perang.
Ia menilai momen tersebut tidak tepat karena terjadi saat tentara Israel masih bertempur di berbagai front.
“Saya melihat video itu dan ingin muntah. Kita sedang perang, tentara bertempur di Lebanon dan Gaza, pilot mempertaruhkan nyawa, dan dia berdiri santai minum kopi,” ujarnya.
Meski begitu, Hefetz mengakui video tersebut juga bisa ditafsirkan sebagai upaya menunjukkan ketenangan kepada publik.
“Bisa juga dilihat sebagai pesan bahwa negara tetap kuat dan normal, sementara musuh bersembunyi di bawah tanah,” katanya.
Ia menambahkan, pada awal perang sempat muncul persatuan politik yang luas di Israel, namun situasi itu tidak berlangsung lama.
“Sangat disayangkan politik dan perpecahan kembali muncul di tengah perang. Dua minggu pertama penuh konsensus, lalu semuanya kembali ke konflik internal,” ujar Hefetz.
Sumber: Suara