DEMOCRAZY.ID – Gelombang dokumen baru terkait kasus kejahatan seksual Jeffrey Epstein kembali memantik kehebohan di Amerika Serikat dan Eropa.
Sejumlah nama besar, dari tokoh politik sampai miliarder teknologi kembali terseret setelah email dan arsip lama mencuat ke publik.
Dalam tayangan yang diunggah akun X @JesseBWatters pada Sabtu (21/2/2026), sejumlah figur disebut kembali muncul dalam pusaran dokumen Epstein dan rekannya, Ghislaine Maxwell.
“Dokumen-dokumen Epstein meledak di seluruh dunia. Pangeran Andrew jatuh, dan polisi sedang menggeledah rumahnya. Jadi siapa selanjutnya?” kata Jesse dalam unggahannya.
Salah satu nama yang ikut disebut adalah pendiri Microsoft, Bill Gates.
Gates diketahui pernah bertemu Epstein setelah sang finansier divonis dalam kasus prostitusi anak di bawah umur.
Dalam salah satu catatan, Epstein mengklaim Gates memiliki masalah pribadi dan meminta bantuan untuk menutupinya. Gates disebut telah membantah klaim tersebut.
Sorotan juga kembali mengarah ke mantan Ibu Negara sekaligus mantan Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton.
Ia menyatakan tak ingat pernah bertemu Epstein, namun mengakui pernah berjumpa Maxwell.
“Kami tidak memiliki hubungan. Kami memiliki rekam jejak yang sangat jelas yang bersedia kami bicarakan, di mana suami saya mengatakan bahwa dia ikut beberapa penerbangan di pesawat tersebut untuk pekerjaan amalnya. Saya tidak ingat pernah bertemu dengannya,” kata Hillary dalam wawancaranya.
“Pernah pada beberapa kesempatan (bertemu Maxwell), dan ribuan orang datang ke Clinton Global Initiative. Jadi, bagi saya itu bukan sesuatu yang benar-benar menjadi inti dari apa yang dipersoalkan ini,” ujarnya melanjutkan.
Nama lain yang ikut disebut adalah guru spiritual Deepak Chopra. Dalam rekaman yang beredar, ia menyampaikan pernyataan singkat terkait Epstein.
“Semuanya akan terungkap. Semuanya akan terungkap,” ucapnya.
Namun saat diminta menjelaskan lebih jauh, Chopra memilih menutup diri.
“Tidak, terima kasih. Tidak,” ungkapnya.
Sementara itu, tekanan paling keras kini mengarah ke Andrew Mountbatten-Windsor.
Setelah foto penangkapannya bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-66 menyebar luas, polisi kembali menggeledah kediamannya pada Jumat (20/2/2026).
Foto Andrew meninggalkan kantor polisi Aylsham dengan wajah yang dinilai muram langsung menghiasi halaman depan media internasional. Tajuknya nyaris seragam: kehancuran.
Berdasarkan laporan Reuters, penyidik menggeledah dua titik penting.
Pertama, bekas kediamannya di Windsor, barat London, yang lama dikaitkan dengan relasinya bersama Epstein.
Kedua, Wood Farm di Sandringham, Norfolk—tempat ia tinggal setelah gelar kerajaannya dicabut.
Penggeledahan ini menyusul pemeriksaan selama lebih dari 10 jam yang dijalaninya sehari sebelumnya.
Andrew ditangkap atas dugaan serius: membocorkan dokumen rahasia negara kepada Epstein saat masih menjabat sebagai utusan perdagangan Kerajaan Inggris.
Andrew membantah seluruh tudingan. Namun jutaan dokumen yang dirilis pemerintah Amerika Serikat pada Januari lalu membuka fakta baru.
Ia diduga tetap menjalin komunikasi intens dengan Epstein jauh setelah vonis 2008 dijatuhkan.
Bahkan terdapat catatan yang menunjukkan Andrew mengirim laporan internal pemerintah Inggris soal peluang investasi di Afghanistan kepada Epstein.
Tak hanya Afghanistan. Dokumen itu juga memuat penilaian ekonomi tentang Vietnam, Singapura, dan sejumlah negara lain yang ia kunjungi dalam kapasitas resmi sebagai Perwakilan Khusus Pemerintah.
Sumber: Inilah