DEMOCRAZY.ID – Proses evakuasi korban tragedi ambruknya gedung musala Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, masih terus berlangsung di tengah isak tangis keluarga.
Hingga Minggu (5/10/2025) siang, tim SAR gabungan telah mengevakuasi 37 jenazah dari balik reruntuhan bangunan empat lantai itu, sementara 26 santri lainnya masih dalam pencarian.
Tim yang bekerja tanpa henti sejak dini hari juga menemukan dua potongan tubuh manusia di antara puing-puing.
Syaiful Rosi Abdillah (13) menjadi korban terakhir yang berhasil diselamatkan dalam keadaan hidup sejauh ini.
Di balik duka yang dalam, terselip kisah-kisah luar biasa dari para santri yang berhasil bertahan hidup — bukan hanya karena keberuntungan, tapi juga karena iman, ketenangan, dan kecerdasan mereka mengambil keputusan di tengah maut.
Berikut deretan kisah mereka yang disebut banyak orang sebagai keajaiban di balik reruntuhan.
Selama dua hari terjebak di bawah beton, Syahlendra Haikal (13) tidak menyerah pada rasa sakit.
Meski tubuhnya terhimpit reruntuhan, ia tetap menunaikan salat dalam posisi terbaring — bahkan sempat mengajak temannya ikut salat bersama. Sayangnya, sang teman meninggal di sebelahnya dalam posisi sujud.
Haikal bertahan dengan cara sederhana tapi bijak: diam dan tidak banyak bergerak untuk menghemat energi, sebuah pengetahuan yang ia ingat dari pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di sekolah.
Kisahnya membuat banyak pihak tersentuh, termasuk senator DPD RI Lia Istifhama, yang menyebut Haikal “bocah beriman dan cerdas yang memberi pelajaran mahal bagi kita semua.”
Kini, Haikal bertekad pulih dan kembali bersekolah di SMPN 1 Probolinggo.
Bagi Al Fatih Cakra Buana (14), tiga hari di bawah reruntuhan terasa seperti mimpi panjang.
Ia sempat mengira sedang tertidur — bermimpi minum lewat selang dan berjalan di tempat gelap.
Ketika akhirnya diselamatkan, barulah ia sadar ponpes tempatnya belajar telah rata dengan tanah.
Tubuh Fatih selamat karena tertutup tumpukan pasir dan kepalanya terlindung lembaran seng. Saat sadar di rumah sakit, ia mengaku tidak merasa sakit sama sekali, hanya seperti “baru bangun dari tidur panjang.”
Kisahnya membuat publik tertegun — sebuah bentuk penyelamatan yang nyaris tak bisa dijelaskan dengan logika.
Tak semua yang selamat bisa keluar tanpa luka besar. Nur Ahmad harus kehilangan salah satu tangannya agar bisa diselamatkan.
Proses amputasi dilakukan langsung di bawah puing-puing dalam ruang sempit, oleh tim medis RSUD Sidoarjo yang mempertaruhkan nyawa mereka sendiri.
“Saya sudah siap mati bersama pasien kalau bangunan itu runtuh,” ujar dr. Aaron Franklyn, salah satu dokter yang mengevakuasi Ahmad.
Langkah berani itu berhasil — Ahmad keluar hidup-hidup setelah operasi darurat paling berisiko itu selesai tengah malam.
Kisah yang tak kalah menggugah datang dari Syaiful Rosi Abdillah (13), korban terakhir yang berhasil dievakuasi dalam keadaan hidup.
Ia tertimpa beton berat selama tiga hari bersama enam temannya. Upaya mereka mendorong reruntuhan tak berhasil, hingga akhirnya Rosi memilih pasrah dan berzikir sambil berharap pertolongan datang.
“Nggak lama nambah ada yang jatuh lagi. Beton semua, nggak bisa dorong. Kami minta tolong bareng-bareng, tapi nggak kedengaran,” tuturnya.
Tanpa makanan dan air, Rosi hanya bertahan dengan selawat dan istighfar. Ia akhirnya ditemukan warga sekitar tengah malam dan segera dilarikan ke rumah sakit.
Meski harus kehilangan kaki kanannya, ia selamat — dan menjadi simbol ketabahan santri yang tak menyerah pada keadaan.
Dari ratusan kisah duka, cerita-cerita ini menjadi cahaya kecil di tengah gelapnya tragedi.
Mereka membuktikan bahwa di balik musibah besar, selalu ada kekuatan yang tak terlihat — iman, ilmu, dan tekad untuk hidup.
Haikal dengan salat dan pengetahuannya, Fatih dengan mimpinya, Ahmad dengan keberanian tim medis, dan Rosi dengan zikirnya — semuanya menunjukkan bahwa Harapan tak pernah benar-benar tertimbun, bahkan di bawah reruntuhan sekalipun.
Sumber: Suara