Setelah Kunjungi Tembok Ratapan Solo, Muslim Arbi: Ada Aktivis Sembuh dari Kanker Usus Stadium 4!

DEMOCRAZY.ID – Pengamat politik dan hukum, Muslim Arbi, kembali melontarkan pernyataan yang memantik perdebatan publik.

Kali ini, ia menyinggung fenomena yang populer disebut sebagai “Tembok Ratapan Solo” dan mengaitkannya dengan klaim mengejutkan tentang seorang aktivis yang disebut-sebut sembuh dari kanker usus stadium 4.

Pernyataan tersebut disampaikan Muslim Arbi dalam konteks diskusi mengenai dinamika politik dan gerakan aktivisme belakangan ini, Sabtu (21/2/2026).

Ia menyebut ada seorang aktivis yang dikabarkan sembuh setelah mengunjungi lokasi yang dijuluki publik sebagai “Tembok Ratapan Solo”, merujuk pada kediaman Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, di Solo, Jawa Tengah.

Istilah “Tembok Ratapan Solo” mencuat di media sosial setelah warganet memberi label tersebut pada lokasi rumah Jokowi di Solo.

Penyebutan itu berkembang menjadi simbolik—ada yang memaknainya sebagai tempat “mengadu” atau “mengeluh” terhadap situasi politik nasional, ada pula yang memaknainya sebagai sindiran satir.

Dalam beberapa waktu terakhir, lokasi tersebut memang kerap menjadi sorotan publik dan viral di berbagai platform digital.

Fenomena ini memunculkan beragam respons, mulai dari yang bernuansa humor hingga kritik sosial dan politik.

Dalam pernyataannya, Muslim Arbi menyebut ada aktivis yang sebelumnya menderita kanker usus stadium 4 dan kemudian diklaim sembuh setelah berkunjung ke lokasi tersebut.

Ia bahkan menyindir bahwa aktivis yang disebut telah pulih itu kini bisa kembali melakukan aksi demonstrasi, termasuk disebut bisa “langsung demo di depan kantor Gubernur Jawa Barat”.

Namun demikian, hingga saat ini tidak terdapat bukti medis, keterangan resmi dari institusi kesehatan, maupun konfirmasi langsung dari pihak yang bersangkutan terkait klaim penyembuhan tersebut.

Dalam konteks kesehatan publik, klaim mengenai kesembuhan dari kanker stadium lanjut memerlukan verifikasi ketat berbasis data medis dan pernyataan resmi tenaga kesehatan.

Para ahli onkologi umumnya menjelaskan bahwa kanker usus stadium 4 termasuk kategori penyakit serius yang penanganannya memerlukan terapi komprehensif, seperti kemoterapi, pembedahan, terapi target, atau kombinasi pendekatan medis lain sesuai kondisi pasien.

Dalam kesempatan yang sama, Muslim Arbi juga melontarkan istilah “aktivis Bodrex”.

Istilah ini merujuk pada sebutan yang kerap digunakan secara satir untuk menggambarkan oknum aktivis yang dinilai mudah menyerang suatu pihak, namun kemudian “reda” setelah mendapat kompensasi tertentu.

Pernyataan ini pun memantik polemik tersendiri.

Di satu sisi, ada yang menilai sindiran tersebut sebagai kritik terhadap praktik transaksional dalam gerakan sosial.

Namun di sisi lain, tudingan semacam itu juga dinilai berpotensi mendiskreditkan gerakan aktivisme secara umum tanpa bukti yang jelas terhadap individu tertentu.

Fenomena “Tembok Ratapan Solo” dan pernyataan Muslim Arbi menunjukkan bagaimana ruang publik Indonesia kini semakin dipenuhi narasi simbolik, satire, serta klaim-klaim yang cepat menyebar melalui media sosial.

Di era digital, pernyataan tokoh publik dapat dengan cepat menjadi viral dan membentuk opini, meskipun belum tentu disertai data pendukung yang memadai.

Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat dalam memilah antara opini, sindiran politik, dan fakta yang terverifikasi.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak yang disebut dalam pernyataan tersebut maupun klarifikasi tambahan terkait klaim penyembuhan yang dimaksud.

Perkembangan lebih lanjut mengenai polemik ini masih dinantikan, terutama jika ada klarifikasi atau bukti yang dapat memperjelas kebenaran klaim yang beredar.

Sumber: JakartaSatu

Artikel terkait lainnya