Bikin Umar Heran, Kisah Nabi Muhammad SAW Imami Salat Jenazah Wanita Pezina

DEMOCRAZY.ID – Sejarah Islam mencatat sebuah peristiwa luar biasa di Kota Madinah yang menggetarkan hati dan menguras air mata.

Ini adalah kisah tentang level keimanan tingkat tinggi dari seorang wanita asal kabilah Ghamidiyah, yang memilih merasakan penderitaan di dunia demi menebus dosa dan meraih kesucian di hadapan Allah SWT.

Mengutip kisah dari ragam literatur Sirah Nabawiyah yang merujuk pada Shahih Muslim (No. 1695) dan Sunan Abu Daud (No. 4442), perjalanan taubat wanita ini menjadi tamparan keras bagi umat Islam yang kerap sombong dengan amal ibadahnya.

Datang Menyerahkan Diri

Kisah bermula ketika wanita Ghamidiyah ini mendatangi Nabi Muhammad ﷺ dengan wajah pucat namun penuh tekad.

Ia secara terbuka mengakui telah berbuat dosa besar, yakni berzina. Padahal, Allah SWT telah menutupi aibnya dan ia memiliki ribuan kesempatan untuk melarikan diri atau bungkam seumur hidup.

“Ya Rasulullah, aku telah berbuat dosa (zina). Tolong sucikan aku dengan hukuman!” pintanya.

Mendengar pengakuan itu, Rasulullah ﷺ tidak lantas murka atau langsung menghukum.

Nabi justru memalingkan wajah dan dengan lembut memintanya pulang, bertaubat, serta memohon ampunan Allah secara tertutup. Nabi enggan mendengar aib umatnya.

Namun, wanita itu menolak pergi. Sehari berselang, ia kembali dan mendesak.

“Ya Rasulullah, kenapa engkau memalingkan wajah? Apakah engkau menolakku? Demi Allah, aku sudah hamil karena perbuatan itu!”

Melihat kegigihan dan kondisinya, Nabi Muhammad menatapnya iba dan memberikan penangguhan. Nabi memerintahkan wanita itu pulang hingga bayinya lahir.

Penantian Tiga Tahun yang Teguh

Penangguhan dari Nabi tidak membuat tekadnya luntur. Selama sembilan bulan, ia hidup menanggung aib di perutnya, mengabaikan tatapan sinis penduduk kampung demi satu tujuan: bersih di hadapan Sang Pencipta.

Begitu melahirkan, ia kembali mendatangi Rasulullah membawa bayinya yang masih merah. Namun, Nabi kembali tersenyum sedih dan menundanya.

“Belum saatnya. Pulanglah. Susui bayimu sampai dia disapih (sekitar dua tahun).”

Dua tahun berlalu, dan wanita itu tak pernah berniat kabur. Setelah menyapih, ia datang lagi membawa anaknya yang kini sudah bisa menggenggam sepotong roti.

“Ya Rasulullah, anakku sudah disapih. Dia sudah bisa makan sendiri. Sekarang, tolong laksanakan hukum Allah atasku!” ucapnya tanpa ragu.

Tiga tahun menanti kematian dengan ikhlas demi taubat, ia akhirnya diserahkan untuk menjalani eksekusi.

Anaknya dititipkan kepada salah seorang sahabat, sementara ia dibawa ke lapangan untuk menerima hukuman rajam hingga wafat hari itu juga.

Teguran Keras untuk Khalid bin Walid

Ada satu insiden sarat makna saat eksekusi berlangsung. Darah wanita tersebut tidak sengaja memercik dan mengenai baju sahabat Khalid bin Walid. Secara refleks, Khalid marah dan mencela wanita itu.

Mendengar celaan tersebut, Nabi Muhammad ﷺ langsung menegur Khalid dengan tegas:

“Pelan-pelan wahai Khalid! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh dia telah bertaubat dengan taubat yang seandainya dilakukan oleh seorang penarik pajak (yang zalim), niscaya dosanya akan diampuni.”

Rasulullah melarang keras umatnya menghakimi seorang pendosa yang telah bertaubat nasuha. Sebab, di mata Allah, status wanita itu telah kembali suci layaknya bayi yang baru lahir.

Jawaban yang Menggetarkan Umar bin Khattab

Usai eksekusi, awan kesedihan menyelimuti Madinah. Nabi Muhammad ﷺ secara khusus memerintahkan agar jenazah wanita itu dimandikan, dikafani, dan secara mengejutkan, Nabi sendiri yang maju menjadi imam salat jenazahnya.

Melihat hal tersebut, Umar bin Khattab yang terkenal tegas merasa keheranan.

“Ya Rasulullah, kenapa engkau mensalatinya? Padahal dia sudah jelas berbuat dosa besar?” tanya Umar.

Rasulullah ﷺ kemudian memberikan jawaban yang menggetarkan langit dan bumi, kalimat yang membuat siapa saja iri pada kedudukan wanita tersebut di sisi Allah:

“Demi Allah wahai Umar, wanita ini telah bertaubat dengan taubat yang luar biasa. Seandainya taubatnya itu dibagikan kepada 70 penduduk Madinah, niscaya itu masih cukup bagi mereka semua.”

Merangkul, Bukan Memukul

Kisah wanita Ghamidiyah memberikan pelajaran berharga tentang hakikat taubat sejati.

Ia memilih “sakit yang sebentar” di dunia daripada harus merasakan siksa abadi di akhirat.

Lebih dari itu, kisah ini menjadi pengingat agar kita tidak merasa lebih baik hanya karena aib kita masih ditutupi oleh Allah.

Sering kali, taubat sunyi seorang pendosa di keheningan malam jauh lebih bernilai di mata Allah ketimbang ibadah yang tercampur dengan kesombongan.

Tugas sesama muslim adalah merangkul, bukan memukul; menyayangi, bukan menghakimi.

Sumber: Inilah

Artikel terkait lainnya