‘Prabowo Berteman Netanyahu? Gulingkan!’

PRABOWO BERTEMAN NETANYAHU? GULINGKAN!

Oleh: M Rizal Fadillah | Pemerhati Politik dan Kebangsaan

Masalah sensitif dan berisiko yang tengah dijalani Prabowo yakni hubungan dengan Israel dan pemimpin Israel Benjamin Netanyahu.

Berada bersama di ruang Blood of Peace (BoP) milik Donald Trump menyakiti hati rakyat Indonesia yang mayoritas umat Islam.

Netanyahu itu penjahat kemanusiaan. Darah rakyat Palestina melumuri wajah dan seluruh tubuhnya.

Menoleransi apalagi duduk bersama dengan penjajah adalah menginjak-injak konstitusi bangsa sendiri. Alasan pertemanan harus berbasis ideologis tidak boleh semata pragmatis.

Israel pelaku genosida yang telah dikutuk dan dihukum dunia. Perintah penangkapan Netanyahu telah pula dikeluarkan oleh International Criminal Court (ICC).

Sebagai anggota BoP Netanyahu dan sang Ketua Donald Trump mengendalikan organisasi. Perdamaian hanya kedok untuk penunggangan.

Keduanya memainkan ritme genosida menurut kemauan sendiri dengan mengabaikan peran PBB.

Bom termobarik atau senjata termal milik AS digunakan Israel untuk membumi hanguskan Gaza. Kejahatan biadab seperti ini dibiarkan ?

Prabowo tersanjung diajak gabung Blood of Peace ini. Memberi kebahagiaan kepada Netanyahu yang berambisi melucuti Hamas dan mengatur Gaza.

Prabowo sebagai pemimpin negara dengan semangat ingin membela Palestina terjebak dalam permainan AS-Israel.

Masuk dalam kandang mafia dunia. Umat Islam Indonesia kecewa atas ulah Prabowo yang masuk dalam narasi Guardian sebagai “Klub suap menyuap dominasi Trump” tersebut.

Gagaimana dapat membela dan memperjuangkan kemerdekaan Palestina jika harus duduk bersama dengan penjajah yang ingin mencaplok Palestina?

Sungguh tidak masuk akal dan di luar nalar kewarasan. Blood of Peace akan menjadi ruang lobi Yahudi untuk menaklukan dunia.

Gaza menjadi obyek permainan strategis. Mempercayai Israel sama saja dengan mempercayai bahwa Iblis itu adalah kebaikan.

Prabowo itu pemimpin lemah yang tidak ajeg pendirian. Saat bertemu oposisi bernarasi bersama aspirasi, tapi saat berbincang dengan oligarki ya lain lagi.

Di depan TNI ia sangat berpihak dan siap mengurangi peran Polri. Ketika bertemu Polri ia berbasa basi dan mendukung penggagalan reformasi. Terlalu banyak kaki untuk tipu-tipu dan mitos strategi.

Puja puji atau sanjungan atasnya sangat dinikmati. Mengritisinya dianggap tidak tahu strategi. Semakin dalam dan kental bersama Netanyahu semakin dilematis posisinya.

Rakyat akan sampai pada kesimpulan bahwa Prabowo adalah pemimpin yang membahayakan bagi bangsa dan rakyat Indonesia.

Pilihan menjadi menukik. Prabowo itu rakyat Indonesia atau Netanyahu-Trump ? Palestina atau Israel ?

Jika Netanyahu telah dianggap sahabat maka selesai sudah kepercayaan rakyat padanya.

Desakan impeachment sulit untuk dihindari karena Prabowo dinilai telah siap melawan rakyatnya sendiri.

Mungkin ia lebih percaya pada dukungan dan perlindungan sang penjebak yang bernama Benjamin Netanyahu. ***

Artikel terkait lainnya