Pengakuan Tentara Israel Picu Kemarahan Publik: Kami Tak Cuma Membunuh, Tapi Juga Memperkosa!

DEMOCRAZY.ID – “Kami tidak hanya membunuh, tetapi juga memperkosa,” kata seorang tentara Israel dalam percakapan langsung dengan seorang YouTuber Amerika, berbicara tentang praktik-praktik yang dilakukan tentara terhadap warga Palestina di Jalur Gaza selama perang genosida.

Selama siaran melalui aplikasi TikTok dengan YouTuber Amerika bernama Jeff Davidson, tentara tersebut mengatakan, dirinya saat ini bertugas dalam barisan tentara Israel di Gaza, sambil menampilkan pemandangan kehancuran di sekitarnya, dan berkomentar.

“Jangan kaget, tidak ada rumah di sini, semuanya telah diratakan dengan tanah,” dan pewawancara itu menjawab, “Kalianlah yang menghancurkannya,” dan dia menjawab, “Ya,” dikutip dari Aljazeera, Ahad (15/2/2026).

Dalam konteks pembicaraan tentang warga sipil, YouTuber itu bertanya tentang anak-anak di sektor tersebut, lalu tentara itu menunjukkan foto seorang anak yang membawa senjata, yang menurutnya ditemukan di salah satu rumah.

Perdebatan semakin memanas ketika YouTuber itu berkata, “Jika ada anak-anak yang menunggu dan membawa senjata karena mereka tahu kalian akan datang, saya tidak menyalahkan mereka. Lihatlah apa yang kalian lakukan di Gaza.

Kehadiran anak-anak tidak membenarkan mereka menjadi sasaran.”

Sang tentara pendudukan membalas dengan kata-kata kasar, sebelum mengeluarkan pernyataan berbahaya, “Kami telah membunuh wanita dan anak-anak,” dan menambahkan, “Dan jangan khawatir, kami juga memperkosa mereka,” seperti yang terekam dalam video tersebut.

Video tersebut memicu kemarahan luas di media sosial, di mana para aktivis menganggap pernyataan tentara tersebut sebagai “kesaksian serius” atas pelanggaran yang dituduhkan kepada tentara Israel terhadap warga sipil di Jalur Gaza.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh mars bar (@marsmarsmars231)

Pengguna Twitter menunjukkan pernyataan semacam itu, menurut mereka, mencerminkan perasaan bebas dari hukuman.

Mereka menganggap dukungan politik yang diterima pemerintah Israel, di bawah kepemimpinan Benjamin Netanyahu, dari Amerika Serikat dan sejumlah negara Barat, berkontribusi pada tidak adanya pertanggungjawaban internasional.

Yang lain berpendapat bahwa tentara tersebut tampak yakin bahwa ia tidak akan dimintai pertanggungjawaban, berdasarkan kejadian-kejadian sebelumnya yang menurut mereka tidak ada tindakan hukum yang tegas terhadap para terdakwa yang melakukan pelanggaran, sehingga menciptakan iklim yang memungkinkan terulangnya tindakan-tindakan semacam itu.

Sumber: Republika

Artikel terkait lainnya