Tak Mau Dengar Masukan Eks Menteri dan Pakar, M Sobary: Proyek Kereta Whoosh Bukti Jokowi Otoriter!

DEMOCRAZY.ID – Budayawan Mohamad Sobary melontarkan kritik keras kepada mantan Presiden Jokowi yang menginisiasi pembangunan Kereta Cepat Jakarta Bandung kini bernama Kereta Whoosh.

Karena menciptakan utang jumbo bagi pemerintahan Prabowo Subianto.

Menurut mantan LKBN Antara itu, Jokowi tidak pernah mendengarkan pertimbangan para ahli, termasuk mantan Menteri Perhubungan (Menhub) Ignasius Jonan dan Pakar Kebijakan Publik Agus Pambagio, dalam pengambilan keputusan proyek tersebut.

Dikutip dari siniar Forum Keadilan TV yang dipandu wartawan senior, Margy Syarif, Selasa (17/2/2026), pria kelahiran Bantul yang akrab disapa Kang Sobary itu, menyebut perilaku Jokowi itu mencerminkan kepemimpinan yang cenderung otoriter. Karena mengabaikan saran profesional.

Dia pun menyoroti pembengkakan biaya (cost overrun) proyek Kreta Whoosh menjadi US$7,2 miliar, atau setara Rp118,8 triliun dengan asumsi kurs Rp16.500/US$.

Tentu saja, biaya pembangunan Kereta Whoosh saat ini menjadi beban utang Konsorsium BUMN.

Selanjutnya menjadi beban APBN karena harus mencicil ke China sebesar Rp1,2 triliun per tahun.

Sebelumnya, Pakar Kebijakan Publik, Agus Pambagio menyoroti polemik utang proyek Kereta Whoosh yang kini menjadi beban keuangan negara.

Ia menyebut, proyek yang dipaksakan Jokowi ini, sudah bermasalah sejak awal. Tak ada perencanaan yang matang sehingga wajar jika bermasalah di kemudian hari.

“Saat itu ada dua orang yang menolak, satu namanya Menhub Ignasius Jonan, kedua saya. Kebetulan kami berdua sama-sama membereskan kereta api,” ungkap Agus di kanal Youtube Abraham Samad, Senin (27/10/2025).

Menurut Agus, sejak awal dirinya dan Jonan sudah menilai konsesi proyek kereta cepat terlalu mahal dan tidak masuk akal.

Keduanya pun keras menolak dan tidak gentar meski harus dipecat.

Agus menegaskan, Indonesia sebenarnya belum membutuhkan kereta cepat.

Apalagi proyek tersebut justru bertentangan dengan semangat Nawacita yang menekankan pembangunan di luar Pulau Jawa.

“Tapi kenapa malah dibikinnya di Jakarta-Bandung? Mahal, uangnya dari mana?” tegasnya.

Ia memaparkan, proyek Kereta Whoosh, sejatinya sudah masuk dalam kerja sama bilateral dengan Jepang, melalui paket pembangunan kereta cepat Jakarta-Surabaya.

“Jepang kan sudah bantu dari awal. Tahap pertama harusnya sampai Bandung, berhenti di Karawang karena di sana banyak investasi Jepang. Final itu G-to-G. Tapi kok tiba-tiba berubah, diserahkan ke Cina?” kata Agus heran.

Perubahan mitra proyek dari Jepang ke Tiongkok, kata Agus, langsung mengubah seluruh skema perhitungan dan desain awal.

“Begitu lihat hitung-hitungannya, langsung beda. Di Jepang bunganya 0,1 persen. Tapi setelah ke Cina, malah jadi dua persen. Rutenya pun berubah,” jelasnya.

Sumber: Inilah

Artikel terkait lainnya