DEMOCRAZY.ID – Dokter Tifauzia Tyassuma atau Dokter Tifa menyorot sejumlah hal dalam beberapa versi salinan ijazah mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Hal ini diungkapkannya dalam konferensi pers pada Senin (16/2/2026). Dokter Tifa memulai dengan menyorot salinan ijazah Jokowi yang dikeluarkan Dekan Fakultas Kehutanan UGM Sigit Sunarta.
“Tepatnya di tanggal 20 Oktober 2022, pertama kali keluar spesimen ijazah official secara resmi dikeluarkan oleh Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Sigit Sunarta,” kata Dokter Tifa, dipantau dari Breaking News KompasTV.
Tifa mengatakan kala itu salinan ijazah yang ditunjukkan adalah dalam bentuk fotokopi di kertas A3.
“Nah, detail dari fotokopi ini menarik, karena dalam fotokopi A3 itu ada lipatannya,” ungkapnya.
Tifa juga menyorot mengenai noktah pada logo UGM di salinan ijazah Jokowi yang ditunjukkan Sigit Sunarta.
“Ada sebuah artefak yang sampai dengan hari ini kami simpan dan kami buka sekarang. Artefak itu adalah noktah pada logo Universitas Gadjah Mada yang dulu kami bersengaja sampaikan itu kemungkinan tumpahan kopi, tumpahan teh, tapi sejalan dengan waktu kami tahu bahwa itu adalah beleberan dari tinta,” ucapnya.
Tifa mengatakan hal itu akan disampaikan pihaknya pada ahli untuk memastikan noktah tersebut apakah betul beleberan tinta sesuai dugaan pihaknya.
“Versi yang kedua adalah tanggal 1 April 2025 yang dikeluarkan oleh kader PSI yang bernama Dian Sandi Utama dan ini adalah spesimen kedua yang kami jadikan sebagai bahan penelitian,” lanjutnya.
Tifa menyorot versi kedua tersebut tidak ada lipatan dan logo UGM dalam keadaan bersih tanpa ada beleberan tinta.
“Artinya, hipotesis kami mengatakan bahwa dua spesimen ini berasal dari dua spesimen yang berbeda,” katanya.
Tifa menambahkan, dalam versi yang diunggah Dian Sandi, ada beleberan tinta di bagian bawah ijazah.
“Artinya menurut Mas Roy dan Bang Rismon, ini adalah hasil dari print out. Jadi printernya yang beleber tintanya, bukan karena rayap, dan yang jelas adalah bahwa ini tidak ada bleberan tinta karena usia. Logo dalam keadaan bersih dan itu tidak wajar untuk logo yang usianya 40 tahun,” ujarnya.
Menurut Tifa, sewajarnya, logo akan mengalami pemudaran seperti di dalam spesimen salinan ijazah asli lulusan Fakultas Kehutanan UGM tahun 1985 yang ditunjukkannya dalam kesempatan itu.
“Ini kami melihat dengan mata kepala sendiri, kami pegang, kami cek, dan kemudian beberapa kali juga kami uji, tampak bahwa karena tahun, 40 tahun, maka logo UGM ini mengalami pemudaran, tintanya kemudian beleber,” jelasnya sambil menunjukkan salinan dokumen tersebut.
Tifa mengatakan beleberan tinta itu kemungkinan menghasilkan sebuah artefak yang berbeda-beda sesuai dengan bagaimana ijazah tersebut diperlakukan.
“Lalu kemudian muncul spesimen ijazah berikutnya pada saat presentasi Bareskrim oleh Dirtipidum waktu itu, Pak Djuhandhani ya. Ini di tanggal 22 Mei 2025. Ini adalah spesimen versi 3,” ucapnya.
Tifa mengatakan dalam versi 3 tersebut, ada dua ciri khas yang sama dengan versi 1 atau yang ditunjukkan Dekan Fakultas Kehutanan UGM Sigit Sunarta.
“Yaitu ada lipatan dan ada beleberan tinta ya, dan ciri yang ada di versi Dian Sandi yaitu ada beleberan tinta di bawah tidak ada (pada versi 3),” jelasnya.
Anehnya, kata dia, pada saat Dirtipidum Bareskrim Polri presentasi, di layar ada dua ijazah muncul.
Tifa mengungkap dua gambar ijazah yang muncul adalah fotokopi ijazah Jokowi versi 3 dan di sudut layar tampak gambar dokumentasi adik ipar Jokowi menyerahkan dokumen yang dikatakan ijazah asli.
Kata dia, gambar ijazah yang diserahkan adik ipar Jokowi itu tidak sama dengan gambar salinan ijazah Jokowi yang Bareskrim tunjukkan atau disebut versi 3.
“Kalau kita zoom, maka kita lihat bahwa pada ijazah ini ciri khas yang ada pada ijazah fotokopi dari Bareskrim tidak ada. Jadi tidak ada tidak ada lipatan, tidak ada noktah, dan tidak ada beleberan tinta,” ucapnya.
Tifa mengungkap pihaknya mempertanyakan perbedaan itu.
“Mengapa Bareskrim mempresentasikan fotokopi ijazah ini (versi 3) dan mengapa Bareskrim tidak mempresentasikan ijazah ini (yang dibawa adik ipar Jokowi)? Ini yang menjadi pertanyaan besar sekali. Jadi yang diuji oleh puslabfor itu itu yang fotokopian ini (versi 3) atau yang katanya ijazah asli yang disita ini (dibawa adik ipar Jokowi)?”
Oleh karena itu, Tifa menyatakan pihaknya menganggap dua salinan ijazah itu adalah spesimen yang berbeda.
“Sekarang ada versi 4 dan 5 yang dikeluarkan oleh KPU Jakarta,” lanjutnya.
Sementara versi 6, kata dia, adalah spesimen yang diklaim sebagai ijazah asli Jokowi, yaitu yang disita dan ditunjukkan oleh Polda Metro Jaya pada gelar perkara khusus tanggal 15 Desember 2025.
Tifa menyebut, dalam kesempatan itu pihaknya hanya ditunjukkan dokumen ijazah Jokowi yang disita Polda Metro Jaya selama 5 menit dan tidak diperkenankan memfoto, men-scan, atau menyentuh.
“Tapi kami pastikan bahwa ijazah yang dikeluarkan oleh Polda Metro Jaya pada waktu tanggal 15 Desember 2025 itu bukan ijazah yang diperlihatkan oleh dekan, bukan ijazah yang ditunjukkan oleh Dian Sandi, bukan juga ijazah yang kelihatan sepintas yang dipegang oleh adik ipar Jokowi Widodo tanggal 22 Mei 2025, bukan juga ijazah yang dipresentasikan oleh Dirtipidum. Kami bisa pastikan,” ujarnya.
Tifa mengatakan dokumen yang ditunjukkan Polda Metro Jaya itu ada watermark dan embosnya.
“Kalau memang ijazah yang ditampilkan pada saat gelar perkara khusus 15 Desember 2025 itu adalah ijazah yang ada watermark dan ada embos, maka jelas bahwa ijazah itu bukan ijazah versi Dian Sandi,” jelasnya.
Tifa mengatakan ijazah yang ditunjukkan oleh Polda Metro Jaya juga tidak sama dengan yang dikeluarkan oleh KPU Jakarta yang digunakan oleh Joko Widodo untuk mendaftarkan diri sebagai presiden pada pemilihan umum tahun 2014 dan 2019.
“Keduanya tidak ada watermark, tidak ada embos (salinan ijazah dari KPU),” ucapnya.
Terkait dengan kemungkinan watermark dan embos tidak terlihat karena dokumen difotokopi, Tifa menepis kemungkinan itu.
Ia mengatakan pihaknya sudah menguji ijazah asli lulusan Fakultas Kehutanan UGM di tahun 1985 yang lain, yang mana ada watermark dan embosnya, tetapi watermark dan embos tersebut masih terlihat meski difotokopi berkali-kali.
“Kami uji setelah difotokopi berkali-kali. Apakah watermark-nya hilang? Apakah embosnya hilang? Ternyata tidak. Ini adalah hasil fotokopi yang kesekian kali dari fotokopi. Watermark tetap ada, embos-nya tetap ada,” katanya.
Tifa kemudian menyinggung mengenai fotokopi ijazah Jokowi yang dikeluarkan KPU yang tidak ada jejak watermark maupun embos sedikit pun.
“Artinya kuat dugaan bahwa ijazah yang digunakan untuk kemudian difotokopi ini bukan ijazah asli ya, ijazah tanpa watermark dan ijazah tanpa embos,” ujarnya.
[DOC]
Sumber: Kompas