‘Jebakan Trump Dalam Skenario Zionis Israel’

‘Jebakan Trump Dalam Skenario Zionis Israel’

Oleh: Gan-Gan R.A | Praktisi Hukum

“Israel sebagai entitas penjajah yang harus dihapuskan dari peta wilayah.” Ayatullah Khomeini, Pemimpin Besar Revolusi Iran.

***
Dalam terminologi militer berlaku ‘asas’ yang berbunyi, “Si vis pacem para belum,” jika kau menginginkan perdamaian bersiaplah untuk menghadapi perang, adagium Latin yang ditulis seorang penulis militer Romawi, Publius Flavius Vegetius Retanus menjadi semacam parameter militeristik dalam medan perang yang membenturkan dua kekuatan besar di tanah Palestina, kemerdekaan yang mutlak versus entitas liar berwatak kolonial.

Berbicara tentang Palestina, hamparan tanah kelahiran para nabi dan rasul seperti menguraikan peta klasik dengan gambar dan aksara yang diburamkan oleh zionisme internasional.

Palestina bukan sebatas nama sebuah bangsa yang akan dilenyapkan dari tanah airnya sendiri melalui genosida, tetapi jauh dari itu, tanah Palestina adalah tanah yang memiliki sejarah sakral berdirinya Solomon Temple atau Bait Suci Pertama untuk kaum Yahudi yang dibangun oleh Nabi Sulaiman di Yerusalem dan Dome of Rock atau yang lebih dikenal Masjid al-Aqsa, kiblat pertama dan situs suci ketiga untuk umat Islam di Yerusalem.

Di atas tanah kelahiran para nabi dan rasul itu, berpuluh-puluh tahun berlangsung konflik bersenjata antara Zionis Israel dengan pejuang Palestina yang menewaskan ribuan rakyat Palestina.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menutup mata dan solusi perdamaian di forum diplomasi hanya menghasilkan harapan kosong bagi bangsa Palestina.

Amerika Serikat yang berdiri tegak di barisan Zionis Israel dengan terang-terangan membela kepentingan Israel dan dengan berbagai macam cara melanggengkan genosida.

***
PBB tidak bisa berkutik menyaksikan pembantaian keji rakyat Palestina oleh pasukan Zionis Israel, gencatan senjata hanyalah tipu daya yang menguntungkan kepentingan Zionis Israel.

Pada tanggal 06 Desember 2017 Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi mengumumkan kepada dunia bahwa Yerusalem sebagai ibukota Israel, keputusan politik luar negeri Amerika ini disertai dengan pemindahan Kedutaan Besar Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Dan pada tanggal 15 Januari 2026 layaknya ‘Sang Juru Selamat’ Donald Trump menggagas dan mendirikan badan pengawas internasional bernama Board of Peace (BoP) yang konon berorentasi kepada kebutuhan mendesak upaya perdamaian permanen pasca konflik bersenjata antara Palestina dan Israel, mengawal stabilitas, rekonstruksi dan perbaikan infrastruktur di wilayah Gaza.

BoP yang beranggotakan 25 negara termasuk Israel dan Indonesia tanpa melibatkan Palestina berlandaskan konsep ‘Two State Solution’, pengakuan dua negara berdaulat yakni Palestina dan Israel, sebuah konsep penyelesaian salah kaprah yang justru akan sangat merugikan kepentingan politik dan hukum rakyat Palestina.

Two state solution adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanat konstitusi Negara Republik Indonesia yang secara tegas menyatakan dalam pembukaan alinea pertama UUD ’45 bahwa “Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. “

Keterlibatan Indonesia menjadi anggota BoP di bawah rezim Presiden Prabowo dengan membayar iuran keanggotan BoP sebesar 1 miliar US dolar sesungguhnya keputusan politik luar negeri yang penuh resiko dan membahayakan perjuangan rakyat Palestina.

Bagaimana tidak membahayakan, kebijakan politik Amerika selama ini tidak pernah memihak kepada perjuangan dan kemerdekaan bangsa Palestina, dan Donal Trump yang menjadi penggagas BoP merupakan Presiden Amerika Serikat yang berani mengeksekusi dan mengakui secara resmi Yerusalem menjadi ibukota Israel.

Board of Peace yang disinyalir akan menjadi organisasi tandingan PBB adalah jebakan politik Trump dalam menjalankan skenario besar Zionis Israel yang tidak pernah mengakui Palestina sebagai negara sah yang berdaulat.

Agenda terselubunng BoP akan menyeret negara-negara yang menjadi anggotanya untuk mengakui kedaulatan Israel dan dengan serta merta pengakuan tersebut diikuti dengan membuka dan menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.

Teringat pernyataan pemimpin besar revolusi Iran, Ayatullah Khomeini yang menganggap Israel sebagai entitas penjajah yang harus dihapuskan dari peta wilayah.

Dalam gagasan perjuangan Imam Khomeini membela Palestina dan bahaya Zionisme Internasional bagi umat manusia seringkali menekankan bersatunya negara-negara berpenduduk mayoritas Islam dalam memerangi kekuatan Zionis Israel.

Pembantaian tanpa ampun yang terus menerus dilakukan oleh Zionis Israel, ancaman kelaparan massal dan isolasi yang menutup bantuan kemanusiaan bagi rakyat Palestina, temuan fakta terbaru yang mengerikan diungkap dalam laporan invstigasi Al Jazeera Arabic berjudul The Rest of The Story tentang penggunaan senjata termal dan termobarik yang disuplai Amerika kepada pasukan Israel menelan korban jiwa di mana 72 ribu warga Gaza tewas sejak agresi brutal Ziones Israel pada Oktober 2023 dan jasad para syuhada Palestina lenyap tidak bisa ditemukan.

Di tengah peristiwa yang tidak mengenal rasa kemanusiaan yang terjadi di tanah Palestina, di Washington pada tanggal 19 Februari 2026 anggota Board of Peace akan berkumpul, termasuk Presiden Prabowo yang dijadwalkan akan menghadiri pertemuan forum BoP tersebut.

Dan ingatan kita dihangatkan kembali ketika pada tanggal 18 April 1995 di Gedung Merdeka di Kota Bandung, para pemimpin negara Asia dan Afrika berkumpul dan menggelar Konfrensi Asia Afrika yang digagas oleh Presiden Soekarno untuk menyatukan tekad dan solidaritas anti kolonialisme dan anti imperialisme.

Dua peristiwa besar dalam sejarah perjuangan Indonesia yang berbeda makna serta maksud dan tujuan, kelak melahirkan pertanyaan kepada anak cucu kita, “Peradaban macam apa ini?”

Pendiri bangsa ini menggagas perjuangan anti kolonialisme dan meniupkan ilham kepada negara Asia dan Afrika untuk melawan penjajahan, sementara pemimpin penerus bangsa ini terlibat dalam organisasi yang digagas oleh pendukung penjajahan dan bersekutu dengan zionis. ***

Artikel terkait lainnya