DEMOCRAZY.ID – Kepala Dewan Eksekutif Hizbullah, Ali Damoush, melempar pernyataan tajam terkait tensi tinggi di Timur Tengah.
Ia menegaskan bahwa rentetan permusuhan yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Teheran bukan sekadar urusan diplomatik, melainkan upaya sistematis untuk menyingkirkan penghalang utama proyek ekspansi ‘Israel Raya’.
Mengutip laporan kantor berita IRNA pada Sabtu (14/2/2026), Damoush menyebut Republik Islam Iran sebagai satu-satunya negara yang tetap teguh berdiri dalam poros perlawanan (Axis of Resistance).
Karakter Islam dan semangat revolusioner Iran dinilai menjadi ancaman eksistensial bagi dominasi rezim zionis di kawasan.
Damoush mencermati bahwa wacana agresi militer yang belakangan berembus kencang sebenarnya lebih banyak melayani kepentingan Tel Aviv ketimbang Washington.
Menurutnya, Israel sedang berupaya keras menggagalkan setiap celah negosiasi antara Teheran dan AS.
“Perang melawan Iran saat ini, sebelum melayani kepentingan AS, justru lebih condong melayani ambisi Israel. Tel Aviv ingin menciptakan dalih untuk memicu konfrontasi besar demi menghancurkan proses diplomasi,” tegas Damoush.
Dalam pandangan Hizbullah, Iran dan sekutu regionalnya adalah tembok tebal yang menggagalkan skema ‘Israel Raya’.
Proyek dominasi kawasan tersebut mustahil terwujud selama Iran dan poros perlawanan tetap memiliki kekuatan militer dan pengaruh politik yang signifikan.
Beralih ke situasi domestik, Damoush memuji peran perlawanan sebagai sumber kekuatan utama yang menjaga daya tangkal (deterrence) Lebanon terhadap agresi Israel selama tiga dekade terakhir.
Ia memastikan bahwa rakyat Lebanon tidak akan pernah sudi menyerahkan hak-hak kedaulatan mereka kepada pihak mana pun.
“Perlawanan adalah hak yang sah dan simbol martabat Lebanon. Tidak ada satu pun pihak, apa pun jabatannya, yang bisa menghapus atau mencabut hak keberadaan perlawanan ini,” ujarnya dengan nada otoritatif.
Damoush menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa rakyat Iran –yang telah mengorbankan putra-putra terbaiknya– tidak akan pernah membiarkan pencapaian revolusi mereka diinjak-injak oleh tekanan asing.
Bagi Hizbullah, tetap berdiri tegak di samping Iran adalah pilihan sadar demi menjaga keseimbangan kekuatan di Timur Tengah yang kian rapuh.
Sumber: Inilah