DAFTAR Negara Yang Sudah Buat ‘Buku Panduan’ Hadapi Perang Dunia III Untuk Warganya

DEMOCRAZY.ID – Ketegangan geopolitik global yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir membuat sejumlah negara Eropa mengambil langkah antisipatif.

Salah satu langkah paling nyata adalah membagikan buku panduan kesiapsiagaan perang kepada warga sipil.

Istilah “Perang Dunia III” memang belum menjadi kenyataan, namun skenario konflik berskala besar—baik akibat perang konvensional, serangan siber, sabotase infrastruktur, hingga ancaman nuklir—kini bukan lagi sekadar wacana.

Beberapa negara bahkan secara terbuka mengimbau rakyatnya untuk siap menghadapi kondisi darurat ekstrem.

Berikut negara-negara yang telah atau sedang membagikan panduan kesiapsiagaan kepada masyarakatnya.

1. Belanda

Belanda termasuk negara yang mulai memperbarui sistem kesiapsiagaan sipilnya di tengah meningkatnya tensi keamanan Eropa.

Pemerintah Belanda mendorong warga untuk memiliki persediaan darurat minimal selama beberapa hari, termasuk makanan, air, obat-obatan, baterai, dan radio.

Otoritas keamanan Belanda juga secara aktif mengedukasi masyarakat soal potensi gangguan besar seperti pemadaman listrik massal, serangan siber terhadap sistem perbankan, hingga konflik bersenjata di kawasan Eropa Timur yang bisa berdampak ke negara-negara NATO.

Panduan yang disosialisasikan tidak secara eksplisit menyebut “Perang Dunia III”, tetapi isinya jelas berfokus pada skenario krisis besar, termasuk konflik militer.

Pemerintah menganjurkan setiap rumah tangga memiliki “emergency kit” dan rencana komunikasi keluarga jika jaringan telekomunikasi lumpuh.

2. Norwegia

Norwegia termasuk salah satu negara yang secara resmi membagikan brosur kesiapsiagaan nasional kepada jutaan warganya.

Pemerintah Norwegia mengirimkan panduan yang menjelaskan apa yang harus dilakukan jika terjadi perang, serangan teroris, bencana alam besar, atau krisis nasional lainnya.

Isi panduan tersebut sangat rinci, mulai dari cara menyimpan air bersih, persediaan makanan tahan lama, hingga tips bertahan tanpa listrik selama beberapa hari.

Bahkan dijelaskan pula bagaimana masyarakat harus bersikap jika terjadi evakuasi massal atau mobilisasi militer.

Langkah ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap situasi keamanan di Eropa Utara, terutama setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Norwegia, yang berbatasan langsung dengan Rusia di kawasan Arktik, memiliki kepentingan strategis tinggi dalam menjaga kesiapan nasional.

3. Swedia

Swedia menjadi salah satu negara paling vokal dalam hal kesiapsiagaan sipil.

Pemerintah Swedia bahkan memperbarui dan mendistribusikan ulang buku panduan berjudul “If Crisis or War Comes” kepada jutaan rumah tangga.

Panduan ini secara tegas menyebut kemungkinan perang dan mengajak warga untuk tidak panik, tetapi tetap waspada.

Di dalamnya dijelaskan bagaimana menghadapi serangan udara, propaganda musuh, serangan siber, hingga gangguan distribusi logistik nasional.

Swedia menekankan konsep “total defense”, yakni kolaborasi antara militer dan sipil dalam menghadapi ancaman.

Setiap warga dianggap sebagai bagian dari sistem pertahanan negara.

Bahkan warga diminta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi demi mencegah kepanikan massal.

4. Finlandia

Finland memiliki tradisi panjang dalam pertahanan sipil.

Negara ini dikenal memiliki ribuan bunker bawah tanah yang dapat menampung sebagian besar penduduk kota-kota besar.

Pemerintah Finlandia menyediakan panduan daring dan cetak yang memuat informasi tentang perlindungan diri saat terjadi serangan militer, termasuk ancaman kimia dan nuklir.

Masyarakat juga diedukasi mengenai lokasi tempat perlindungan terdekat.

Dengan sejarah panjang ketegangan dengan Rusia, Finlandia membangun budaya kesiapsiagaan sejak lama.

Setelah resmi bergabung dengan NATO, negara ini semakin memperkuat sistem pertahanan sipilnya.

5. Jerman

Jerman juga telah memperbarui pedoman perlindungan sipilnya dalam beberapa tahun terakhir.

Pemerintah federal menganjurkan warga memiliki persediaan makanan untuk setidaknya 10 hari dan air minum untuk lima hari.

Selain itu, pemerintah Jerman menekankan pentingnya kesiapan menghadapi gangguan energi, terutama setelah krisis pasokan gas di Eropa.

Buku panduan yang disebarkan memuat langkah-langkah konkret menghadapi pemadaman listrik panjang, gangguan distribusi bahan bakar, serta ancaman konflik regional.

Jerman menempatkan kesiapsiagaan sipil sebagai bagian dari strategi keamanan nasional yang lebih luas, sejalan dengan peningkatan anggaran pertahanan mereka.

6. Swiss

Meski dikenal netral, Swiss merupakan salah satu negara paling siap menghadapi skenario perang.

Hampir seluruh penduduknya memiliki akses ke bunker perlindungan nuklir.

Pemerintah Swiss secara rutin memperbarui panduan perlindungan sipil, termasuk prosedur evakuasi, penyimpanan logistik, hingga langkah menghadapi serangan kimia atau radiasi.

Sistem ini merupakan warisan era Perang Dingin, namun tetap relevan hingga kini.

Swiss menekankan prinsip bahwa pertahanan bukan hanya tanggung jawab militer, tetapi seluruh warga negara.

Sumber: SindoNews

Artikel terkait lainnya