DEMOCRAZY.ID – Tragedi tewasnya anak berusia 10 tahun di Nusa Tenggara Timur (NTT) diduga akibat mengakhiri hidup menuai kritik keras.
Salah satunya dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) Yogyakarta.
Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto bersama anggotanya sempat mengirimkan surat resmi kepada UNICEF untuk menyoroti kasus tragis anak berusia 10 tahun di NTT yang diduga mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli alat tulis seharga dari Rp 10.000.
“What kind of world do we live in when a child loses his life because he cannot afford a pen and a book? (Dunia macam apa yang kita tinggali ketika seorang anak kehilangan nyawanya karena dia tidak mampu membeli pena dan buku?),” tulis Tiyo dalam surat tersebut.
Ia menekankan bahwa tragedi ini bukanlah nasib atau kejadian terisolasi, melainkan akibat kegagalan sistemik dan negara melindungi warga paling rentan.
Ia meminta UNICEF meningkatkan perannya di Indonesia, terutama dalam memperkuat perlindungan anak, menjamin anggaran pendidikan, dan mencegah kematian yang seharusnya bisa dihindari akibat kegagalan kebijakan.
Setelah surat tersebut dikirim, Tiyo mengaku mendapatkan teror berupa ancaman, penguntitan, hingga pemotretan dari pihak tak dikenal pada 9-11 Februari 2026.
Salah satu teror yang dialaminya adalah mendapatkan ancaman penculikan melalui sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
“Saya mendapat pesan dari nomor tidak dikenal yang mengancam mau menculik,” ucapnya, Jumat (13/2/2026).
Tak hanya itu, Tiyo juga mengaku sempat mengalami penguntitan, Rabu (11/2/2026).
Penguntitan terhadap Tiyo dilakukan oleh dua orang tak dikenal saat dirinya sedang berada di sebuah kedai.
Menurut penuturan Tiyo kedua orang tersebut laki-laki dewasa dengan postur tubuh tegap.
“Yang menguntit dan memotret dari jauh dua orang laki-laki dewasa. Tubuhnya tegap dan masih relatif muda,” paparnya.
Meski saat itu sempat dikejar namun dua orang yang diduga melakukan penguntitan kepadanya menghilang.
“Dua pria yang tidak dikenal itu ketika kami kejar menghilang,” ujarnya.
Tiyo Ardianto menambahkan bahwa suara yang ia sampaikan dan disebarkan secara luas di media terkait kasus anak bunuh diri di NTT mungkin membuat pihak tertentu tersinggung.
“Apa yang saya suarakan di berbagai media mungkin ada yang tersinggung,” ucapnya.
Ditanya mengenai tanggapan kampus dan aparat, Tiyo menyatakan tidak melakukan komunikasi langsung dengan pihak-pihak tersebut.
“Saya juga tidak berkomunikasi langsung dengan kampus dan aparat soal ini,” ujarnya.
Dalam Instagram pribadinya, Tiyo menegaskan meski mendapat intimidasi, ia tidak akan gentar.
“Saya dan BEM UGM tidak akan takut apalagi gentar. Selama terus lahir orang-orang waras di republik ini, selama itulah penguasa yang zalim tidak akan hidup tenang,” tandasnya.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang telah mendukungnya menyuarakan kebenaran.
“Terima kasih untuk rakyat Indonesia, berkat cahaya doa Anda semua, saya masih baik-baik saja. Saya akan terus baik-baik saja,” jelasnya.
Sumber: Tribun