DEMOCRAZY.ID – Wajah multikulturalisme Australia tercoreng hebat.
Sebuah insiden memalukan pecah di jantung Kota Sydney ketika aparat kepolisian New South Wales (NSW) terekam kamera membubarkan paksa warga Muslim yang tengah menunaikan ibadah salat berjemaah.
Aksi kasar ini pun memicu gelombang kecaman yang kini menyudutkan otoritas keamanan Negeri Kanguru.
Peristiwa ini bermula pada Senin (9/2/2026) malam, di tengah aksi massa yang memprotes kedatangan Presiden Israel Isaac Herzog.
Alih-alih mengayomi, polisi justru menunjukkan sikap represif yang melampaui batas kewajaran.
Video yang viral di media sosial menjadi bukti sahih betapa ‘brutalnya’ tindakan aparat.
Saat jemaah sedang khusyuk bersujud —posisi paling sakral dan rentan dalam ibadah Muslim— polisi datang menarik paksa mereka.
Shahbaz Jamal, salah satu korban, mengisahkan detik-detik dirinya dilempar keluar dari saf.
“Itu mungkin posisi paling rentan yang kami lakukan saat salat. Saya tidak menyangka hal memuakkan seperti ini terjadi di Sydney,” ketusnya kepada SBS News.
Padahal, Jamal dan kelompoknya sudah menjauh dari titik panas demonstrasi untuk mencari ketenangan ibadah.
Bahkan, pengunjuk rasa non-Muslim sempat membentuk perimeter pelindung di sekitar mereka agar salat tak terganggu.
Namun, polisi tampaknya menutup mata dan hati atas nama ‘pembubaran kerumunan’.
Komisaris Polisi NSW, Mal Lanyon, akhirnya muncul ke publik pada Rabu (11/2/2026) untuk meredam api amarah.
Ia mengaku sudah menghubungi para pemimpin komunitas Islam untuk meminta maaf.
“Saya meminta maaf atas segala pelanggaran yang mungkin ditimbulkan terhadap mereka yang sedang beribadah,” ujarnya.
Namun, permintaan maaf itu terasa hambar. Pasalnya, Lanyon tetap membela tindakan anak buahnya dengan dalih operasional keamanan.
Tak hanya itu, ‘permohonan maaf’ ini pun dituding pilih kasih. Federasi Dewan Islam Australia (AFIC) meradang karena merasa diabaikan.
“Tentu saja tidak ada permintaan maaf yang disampaikan kepada masyarakat melalui AFIC,” tegas Presiden AFIC, Rateb Jneid.
Perdana Menteri New South Wales, Chris Minns, mencoba bersikap diplomatis dengan mengatakan bahwa tidak ada niat untuk menyinggung umat beragama.
Ia menjanjikan pertemuan dengan para tokoh Islam untuk mendengarkan kekhawatiran mereka.
Namun, nasi sudah menjadi bubur. Trauma jatuh di atas aspal saat menghadap Sang Pencipta sudah kadung membekas.
Kasus ini bukan sekadar urusan prosedur polisi, melainkan ujian nyata bagi Australia: apakah mereka benar-benar menghargai kebebasan beragama, atau hanya menjadikannya slogan kosong di atas mimbar politik?
Sumber: Inilah