DEMOCRAZY.ID – Pendaki asal Karanganyar, Yazid Ahmad Firdaus (26), ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Selasa (10/2/2026) pagi setelah 23 hari dinyatakan hilang di kawasan Bukit Mongkrang, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Yazid yang merupakan warga Desa Gawanan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, ditemukan di aliran Sungai Mitis, sekitar 1,7 kilometer dari jalan setapak pendakian Bukit Mongkrang.
Jasadnya ditemukan pada pukul 08.54 WIB di titik koordinat 07°41’00” LS dan 111°10’30” BT oleh tim dari Wanadri.
Penemuan ini mengakhiri pencarian panjang yang sempat dihentikan secara resmi oleh Basarnas sebelum akhirnya dilanjutkan secara mandiri oleh Wanadri.
Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) resmi yang dilakukan Basarnas ditutup pada Sabtu (31/1/2026) petang. Namun, upaya pencarian terhadap Yazid tidak berhenti di situ.
Wanadri kemudian memutuskan untuk melanjutkan pencarian secara mandiri yang dimulai pada Sabtu (7/2/2026). Dalam pencarian lanjutan ini, Wanadri bekerja sama dengan tim SAR dari Surabaya.
Sugiarto, anggota Search and Rescue Unit (SRU) Wanadri, bergabung dalam tim pada Senin (9/2/2026). Ia menyebutkan total terdapat 11 orang dalam tim pencarian tersebut.
“Total, ada 11 orang dalam tim kami,” ujar Sugiarto kepada Kompas.com, Rabu (11/2/2026).
Dalam operasi lanjutan ini, Wanadri menerapkan metode pelacakan (tracking mode) untuk mempersempit area pencarian.
Metode ini dilakukan dengan menganalisis kemungkinan lintasan yang diambil korban berdasarkan berbagai data.
Selain itu, tim juga menerapkan sistem flying camp. Dengan metode ini, tim tidak perlu turun-naik gunung setiap hari, sehingga energi dapat dihemat dan pencarian bisa dilakukan secara lebih maksimal.
Untuk mendukung analisis lapangan, tim menggunakan grup WhatsApp sebagai ruang diskusi.
Di dalam grup tersebut, para anggota saling bertukar informasi dan masukan berdasarkan temuan di lapangan.
“Kami ada grup WA untuk menganalisis kondisi lapangan. Di situ kami saling kasih masukan setelah mendeteksi kemungkinan-kemungkinan lintasan subjek ke arah mana saja,” jelas Sugi.
Data yang dianalisis mencakup kronologi pendakian hingga korban dinyatakan hilang, kebiasaan dan pengalaman pendakian korban, serta aspek psikologis seperti tujuan dan perilaku Yazid selama berada di Mongkrang.
Semua data tersebut kemudian dimasukkan ke dalam peta topografi untuk memetakan kemungkinan jalur yang dilalui.
Pada Selasa pagi (10/2/2026), tim kembali melakukan penyusuran mulai pukul 08.00 WIB.
Area yang disisir adalah aliran sungai yang dilalui pipa-pipa air milik warga.
Tim menyusuri sungai dari arah bawah menuju ke atas. Sugiarto berada di posisi ketiga dalam barisan pencarian.
“Selepas 54 menit berjalan, orang paling depan mencium bau busuk,” ujar Sugi.
Tak lama kemudian, jasad Yazid ditemukan sekitar satu meter di depan personel pertama yang menyusuri sungai. Korban ditemukan di pinggir sungai, tertutup pohon pisang dan rimbunan pepohonan.
Titik penemuan berada di ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Penyusuran area sungai bukan dilakukan tanpa alasan.
Berdasarkan analisis sebelumnya, Wanadri menduga Yazid keluar dari jalur resmi pendakian.
Yazid diketahui sebagai seorang trail runner dan telah beberapa kali mendaki Bukit Mongkrang.
Dengan pengalaman tersebut, tim menilai kecil kemungkinan ia tersesat jika tetap berada di jalur setapak resmi.
Dari analisis sementara, Wanadri menduga korban sengaja keluar jalur untuk mencari jalan pintas agar bisa tiba lebih dulu di basecamp dibandingkan rekan-rekannya.
“Kemungkinan korban ingin memberi kejutan kepada teman-temannya dengan mencari jalan pintas dan sampai lebih dulu di basecamp dibanding teman yang ada di depan,” kata Sugi.
Saat mencoba mencari jalan pintas, korban diduga menemukan jalur pipa air milik warga di hulu sungai dan mengikuti jalur tersebut.
“Dia ikuti jalan itu, sampai menemukan jalan buntu,” jelas Sugi.
Karena tidak menemukan akses lanjutan, korban diduga menerobos area tersebut hingga tersesat.
Tim menduga korban kemungkinan terjatuh ke sungai pada hari ia dinyatakan hilang. Tinggi tebing di lokasi tersebut diperkirakan sekitar 7 hingga 10 meter.
Sungai yang dilalui pipa air bersih warga itu cukup lebar, dengan aliran air selebar sekitar 3–5 meter.
Sungai berada di area lembah atau cekungan, dan sekitar 30 meter dari titik penemuan terdapat air terjun setinggi kurang lebih 30 meter dengan aliran yang cukup deras.
Mengenai posisi jasad yang tertutup pohon pisang, Wanadri juga memberikan analisis.
“Ada dugaan saat ia terjatuh, ia sempat memegang pohon pisang. Namun sayang, pohon tak kuat dan justru ikut terjatuh ke dalam sungai,” ujar Sugi.
Tubuh korban diduga tertahan oleh banyak pohon dan bebatuan di sekitar lokasi, sehingga tidak hanyut meskipun musim hujan masih berlangsung dan debit air meningkat.
Keberadaan air terjun di dekat lokasi juga membuat aliran air cukup deras, terutama saat terjadi hujan.
Sumber: Tribun