GEGER! Ramai Politisi ‘Hilang’ di Negara Ini, Presiden Jadi Target Pembunuhan

DEMOCRAZY.ID – Kekerasan kepada para politisi kini marak terjadi di Kolombia.

Terbaru, seorang anggota senat (DPR) baru diselamatkan dari penculikan, Selasa, saat Presiden melaporkan adanya upaya pembunuhan terhadap dirinya.

Senator Aida Quilcue, seorang aktivis masyarakat adat dan penerima penghargaan hak asasi manusia, diculik oleh orang-orang tak dikenal di Cauca.

Daerah ini merupakan wilayah penghasil koka, namun memang dilanda konflik, di mana sebagian besar masih dikuasai kelompok pemberontak yang sudah dibubarkan Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC).

Dilaporkan bagaimana kendaraan yang ditumpanginya bersama dua pengawal ditemukan terbengkalai.

Namun wanita berusia 53 tahun itu diselamatkan oleh sekelompok masyarakat adat.

“Saya baik-baik saja sekarang,” kata Quilcue sambil menangis dalam video yang diunggah oleh Menteri Pertahanan Pedro Sanchez, yang juga menunjukkan dirinya dimasukkan ke dalam kendaraan lapis baja oleh anggota unit anti-penculikan militer Kolombia, dimuat AFP.

Penculikan itu menimbulkan reaksi Presiden Gustavo Petro.

Ia bahkan memperingatkan para penculik untuk membebaskan Quilcue atau berisiko melanggar “garis merah.”

Di kesempatan itu, ia pun mengklaim bahwa ia juga menjadi target dan lolos dari upaya pembunuhan.

Ia mengatakan sudah berbulan-bulan dirinya mendapat peringatan tentang rencana pembunuhan terhadap dirinya.

“Pada Senin malam, helikopter Presiden tidak dapat mendarat di tujuannya di pantai Karibia karena kekhawatiran bahwa orang-orang yang tidak disebutkan namanya akan menembakinya,” lapor Petro.

“Kami menuju ke laut lepas selama empat jam dan saya tiba di suatu tempat yang seharusnya tidak kami tuju, lolos dari upaya pembunuhan,” ujarnya merujuk geng narkoba.

Kolombia dilanda konflik yang kompleks.

Lebih dari seperempat juta orang telah tewas selama enam dekade konflik bersenjata, melibatkan gerilyawan sayap kiri, paramiliter sayap kanan, pengedar narkoba, dan militer di Kolombia.

Kekerasan menurun drastis setelah FARC, kelompok pemberontak terbesar di negara itu, setuju pada tahun 2016 untuk meletakkan senjata.

Namun, para pembangkang FARC yang menentang kesepakatan damai terus melawan kelompok lain untuk menguasai perdagangan kokain Kolombia, di negara produsen kokain terbesar di dunia itu.

Perlu diketahui, kekerasan memang meningkat menjelang Pemilu yang akan segera dilakukan di Kolombia.

Kolombia dijadwalkan untuk mengadakan pemilihan legislatif pada 8 Maret dan pemilihan presiden pada 31 Mei, dengan putaran kedua direncanakan pada Juni jika diperlukan.

Minggu lalu, sebuah kelompok pengamat Kolombia mengatakan lebih dari 300 kotamadya berisiko mengalami kekerasan karena pemilu.

Ini merujuk ke sepertiga dari wilayah nasional.

Sebelumnya akhir Januari, dilaporkan bagaimana pria-pria bersenjata membunuh dua pengawal seorang senator dalam serangan terhadap konvoinya di wilayah Arauca dekat Venezuela.

Beruntung, senator tersebut tidak berada di dalam mobil.

Petro sendiri telah lama mengklaim bahwa sebuah kelompok perdagangan narkoba telah mengincar nyawanya sejak ia menjabat pada Agustus 2022.

Ia melaporkan upaya pembunuhan lain terhadap dirinya pada tahun 2024.

Sumber: CNBC

Artikel terkait lainnya