DEMOCRAZY.ID – Mantan Penasihat Ahli Kapolri, Irjen Pol (Purn) Aryanto Sutadi, blak-blakan menyebut penanganan kasus dugaan ijazah palsu Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), seharusnya merupakan perkara “enteng”.
Mantan Kapolda Sulawesi Tengah (Sulteng) ini merasa heran mengapa polemik yang secara teknis bisa tuntas dalam dua bulan justru berlarut-larut hingga hampir satu tahun.
Aryanto menduga kuat adanya intervensi politik serta peran “orang ketiga” yang sengaja menghambat proses hukum demi menjaga kegaduhan di ruang publik.
Sebagai purnawirawan perwira tinggi (Polri) dengan pangkat terkahir Inspektur Jenderal, Alumni Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1977 ini menyebut, kasus ijazah Jokowi adalah kasus yang tidak berat untuk ditangani.
Lantaran kasus ijazah Jokowi tak kunjung selesai, Aryanto menduga ada muatan politik yang menunggangi polemik ini.
“Kalau saya menduga pasti ada peran politik. Karena apa? Kasus ini kasus enteng. Ini 2 bulan selesai saya bilang,” kata Aryanto, dikutip dari tayangan YouTube di iNews, Kamis (5/2/2026).
“Kok sampai 10 bulan enggak selesai-selesai itu pasti ada hambat-menghambat,” sambungnya.
Menurut Aryanto, ada intervensi dua kubu dalam kasus ijazah Jokowi ini.
Bahkan, Aryanto menduga ada orang ketiga yang membuat kasus ini menjadi ramai dan tidak selesai-selesai.
“Iya ada orang ketiga juga yang di luar yang pengin kita ramai kaya gini,” ujarnya.
Jenderal bintang dua asal Kebumen tersebut juga meminta pihak-pihak yang vokal bersuara untuk tidak menampik adanya muatan politik di balik polemik ijazah Jokowi.
“Kita jangan pura-pura, kita sudah berpolitik tapi ngomong gini enggak ada politik,” tegasnya.
Aryanto menekankan seluruh pernyatannya didasarkan pada prinsip kejujuran. Ia bahkan mengaku tidak keberatan jika opininya menuai cemoohan.
“Gini ya, kalau saya pribadi dibilang goblok nggak apa-apa, yang penting saya itu ngomong masalah kejujuran,” ucapnya.
“Apa yang saya sampaikan adalah menurut saya kebenaran dan bukan pura-pura,” pungkasnya.
Sumber: Tribun