DEMOCRAZY.ID – Siapa orang Indonesia di dalam dokumen Epstein?
Dokumen Epstein memuat nama beberapa pengusaha Indonesia, salah satunya Hary Tanoesoedibjo.
Pria yang dikenal sebagai Hary Tanoe tersebut adalah pengusaha, politikus, sekaligus pemilik perusahaan Media Nusantara Citra (MNC) Group.
Hary merupakan pendiri dan Ketua Umum Partai Perindo, serta pernah bergabung dalam Partai NasDem dan Partai Hanura.
Nama Hary muncul dalam sebuah dokumen yang mencatat percakapan antara ‘Confidential Human Source’, atau Sumber Rahasia, dengan FBI mengenai statusnya sebagai miliarder dan keterlibatannya dalam pengembangan hotel-hotel Trump.
Dokumen tersebut menuduh bahwa Hary “membeli rumah Trump di Beverly Hills” dengan harga ‘inflated’, atau lebih tinggi dari harga pasaran.
ABC Indonesia sudah menghubungi Hary Tanoesoedibjo untuk meminta tanggapan mengenai tuduhan ini, namun tidak menerima jawaban hingga artikel ini diterbitkan.
Selain Hary, laporan yang sama juga menyebut nama warga Indonesia lainnya Eka Widjaja, yang tercatat membeli rumah mewah Trump di Beverly Hills seharga $9,5 juta secara tunai.
Eka Tjipta Widjaja merupakan pendiri Sinar Mas Group dan salah satu konglomerat Indonesia.
Eka meninggal dunia pada tahun 2019.
Orang Indonesia lain yang tercatat dalam dokumen Epstein adalah Kafrawi Yuliantono.
Dalam salah satu dokumen riwayat email yang ditujukan kepada Jeffrey Epstein, Kafrawi menulis keinginannya untuk melamar pekerjaan di salah satu properti Epstein.
“Sejujurnya, saya sangat tertarik untuk bekerja sama dengan Anda dan untuk Anda di salah satu properti Anda, baik di New York maupun Florida,” bunyi email tersebut.
“Saya sangat berharap mendapat kesempatan untuk bergabung dengan tim Anda untuk menjaga kediaman Anda dan ikut bepergian bersama Anda.”
ABC Indonesia menghubungi Kafrawi untuk menanyakan alasannya ingin melamar pekerjaan di kediaman Epstein.
“Kejadian itu sudah lama sekali, dan saya tidak lolos seleksi,” katanya kepada ABC Indonesia.
“Banyak orang memiliki kesempatan yang sama untuk melamar pekerjaan itu [tapi] saya kurang beruntung, karena saya gagal.”
Di dalam email tersebut, tercatat bahwa Kafrawi bekerja sebagai ‘Banquet Operation Manager’ di JW Marriott Hotel Medan.
JW Marriott Hotel Medan mengatakan kepada ABC Indonesia bahwa Kafrawi tidak bekerja di sana saat ini, namun tidak mengonfirmasi apakah ia sempat bekerja di sana.
Apa implikasi bagi mereka yang disebut dalam dokumen Epstein?
Ketika nama seseorang muncul dalam email atau dokumen lain dalam “Epstein files” tidak berarti pihak tersebut telah melakukan kesalahan atau memiliki hubungan apa pun dengan Epstein.
Hubungan bisnis antara Trump dan Hary bukan berita baru.
Pada tahun 2017, Hary mengatakan kepada ABC keduanya sedang membangun dua proyek Trump, satu di Bali dan yang lainnya di Jakarta, lebih tepatnya di Bogor, Jawa Barat.
Trump International Golf Club Lido di Bogor, Jawa Barat, dibuka pada Maret tahun lalu.
ABC juga pernah melaporkan penolakan warga setempat terhadap proyek di Bali tersebut.
Presiden Indonesia Prabowo Subianto terlibat insiden “hot-mic” saat berbicara dengan Trump dan menanyakan tentang putranya, Eric, salah satu eksekutif di organisasi Trump, pada KTT perdamaian Gaza Oktober tahun lalu.
“Kita akan mencari tempat yang lebih baik,” kata Prabowo kepada Trump.
“Nanti saya minta Eric menghubungi Anda,” jawab Trump.
Dalam wawancara dengan CNN setelah kejadian tersebut, putra Trump, Eric, membenarkan bahwa percakapan itu tentang proyek real estat di Indonesia dan mengatakan bahwa proyek tersebut masih berjalan.
Jutaan dokumen tersebut memuat beberapa nama orang terkenal, salah satunya Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Nama Trump muncul ratusan kali dalam rilis terbaru berkas Epstein, termasuk dalam daftar FBI berisi nama-nama pria yang disebut sebagai subjek “informasi cabul.”
Namun, sejauh ini, belum ada informasi yang mengancam kedudukan politik Trump, atau penemuan baru yang signifikan tentang persahabatannya yang terdokumentasi dengan baik dengan Jeffrey Epstein dan Ghislaine Maxwell.
Dalam 3,5 juta berkas baru tersebut, nama Trump kebanyakan disebut dalam artikel berita, serta dokumen publik lainnya yang tidak berbahaya, dan sepintas dalam email pribadi.
Nama lain yang tercantum dalam dokumen tersebut adalah Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, yang membantah memiliki hubungan dengan pihak yang terlibat dalam kasus Epstein.
“Alhamdulillah, seperti yang disebutkan dalam email itu, sudah lebih dari satu dekade, dan saya sama sekali tidak memiliki hubungan apa pun dengan pihak-pihak yang bertukar email tersebut, terutama Epstein,” ujar Anwar dalam unggahan Facebook-nya.
Nama Perdana Menteri India Narendra Modi juga muncul, dalam percakapan antara Epstein dengan miliarder Anil Ambani.
Tinjauan awal mengungkap email Epstein kepada mantan Pangeran Andrew dan mantan penasihat Trump, Steve Bannon.
Email lain menunjukkan pengusaha miliarder Elon Musk dan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick membahas kunjungan ke pulau pribadi Epstein.
Berkas-berkas tersebut juga mencakup rangkaian email FBI yang merinci tuduhan yang belum terverifikasi yang diajukan terhadap Donald Trump.
Sumber: Detik