DEMOCRAZY.ID – Sebuah video singkat yang diunggah di Instagram kembali mengguncang ruang publik Muslim Indonesia.
Akun @teungkusyarifattari milik Teungku Syarif Attari menjadi rujukan penting dalam meluruskan isu sensitif, yaitu tuduhan adanya Kabah tandingan di Tarim, Hadramaut, Yaman.
Dalam video tersebut, Teungku Syarif Attari yang sedang menuntut ilmu di Tahrim, Yaman, secara langsung menunjukkan kondisi lokasi yang selama ini difitnah.
Ia tidak berbicara dari kejauhan, tidak pula bersandar pada asumsi. Ia berdiri di tempat itu, menunjuk langsung objek yang dituding sebagai “Kabah palsu”.
“Bib, di sini ada Kabah nggak, Bib? Kabah palsu. Kabah? Tuh, guys. Yang ngomong di sini ada Kabah. Lihat tuh, di atas tuh. Nggak ada Kabah,” kata Teungku Attari sambil menunjukkan situasi sekelililing dalam video yang diunggah, Selasa (3/2/2026).
“Nggak ada. Adanya kubah, bukan Kabah. Makanya tonton yang benar,” pernyataan Teungku Attari itu sederhana, tetapi mengandung pesan besar jangan menelan informasi tanpa tabayun.
Teungku Syarif tidak menutup-nutupi kegelisahannya. Ia melihat bagaimana potongan video, sudut pengambilan gambar, dan narasi sepihak digunakan untuk menuduh para ulama Hadramaut membuat tandingan Baitullah.
“Hei! yang bilang Kabah di sini. Fitnahnya…,” tegas Teungku Syarif.
Ia lalu menyerukan ajakan yang sangat Islami dan relevan di era digital ini.
“Tolong share, agar masyarakat Indonesia tidak termakan fitnah bahwa orang Tarim membuat Kabah tandingan di Makam Nabi Hud Hadhramaut Yaman,” ujar Teungku Attari.
Fakta di lapangan, sebagaimana ditunjukkan langsung di lokasi, tidak pernah ada Kabah tandingan.
Yang ada hanyalah bangunan berkubah, arsitektur khas makam dan situs ziarah di Hadramaut, yang secara visual sengaja disalahpahami.
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh Teungku Syarif | Dai Kaum Badui (@teungkusyarifattari)
Pesan Teungku Syarif sejalan dengan prinsip Alquran:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)
Karena itu, ia mengajak publik untuk kembali pada adab ilmu. “Yuk, kita luruskan dengan ilmu dan tabayun, bukan dengan prasangka,” kata Teungku Syarif.
Menurutnya, lokasi yang menjadi sasaran fitnah berada di Lembah Nabi Hud di Hadramaut, Yaman, sebuah kawasan yang sejak ribuan tahun lalu dikenal sebagai tempat ziarah para nabi, ulama, dan wali.
Klarifikasi tersebut juga diperkuat oleh tokoh lain. Ketua PCINU Yaman, Juswandi, menegaskan secara lugas. “Yang fitnah ada Kabah, ada di sini lah. Nggak ada,” kata Juswandi, Ketua PCINU Yaman.
Sementara itu, Gus Ajir Ubaidillah dalam video singkatnya mengungkap fakta yang lebih mengejutkan, ternyata fitnah kaabah tandingan yang mereka gembor-gemborkan itu ada di India.
“Masyarakat sudah banyak terkena fitnahnya. Lantas sekali lagi, apakah sanggup kalian semua bertanggung jawab di hadapan Allah SWT?” imbuhnya.
Pertanyaan terakhir ini bukan sekadar retoris. Ia menampar nurani: siapa yang siap memikul dosa fitnah berjamaah?
Dalam tulisan Muhamad Abror, penulis rubrik Sejarah Islam Klasik di Arina.id, dijelaskan, ziarah ke makam Nabi Hud as. di Tarim bukan tradisi baru, apalagi menyimpang.
Makam Nabi Hud terletak di daerah Syi’ib Hud, sebuah lembah pasir sekitar 80 km dari kota Tarim.
Perjalanan darat memakan waktu sekitar tiga jam. Berdasarkan keterangan di papan komplek makam, tradisi ziarah ini telah berlangsung lebih dari 4.000 tahun.
Bahkan, menurut riwayat yang dituturkan sejarawan Islam klasik Ibnu Hisyam, Nabi Sulaiman dan Dzul Qarnain pernah berziarah ke tempat ini.
Pada masa lalu, ziarah dilakukan setiap hari, terutama saat musim panen kurma. Pasar di Lembah Adam menjadi pusat ekonomi sekaligus spiritual.
Sejak abad ke-10 Hijriah, Syekh Abu Bakar bin Salim menertibkan tradisi tersebut menjadi ziarah tahunan pada 8–10 Sya’ban, yang dikenal hingga kini sebagai Ziarah Agung Nabi Hud.
Model tersebut mirip dengan tradisi ziarah Wali Songo di Indonesia, sebuah warisan Islam Nusantara yang justru selama ini dipuji.
Ziarah ke makam Nabi Hud bukan untuk mengultuskan bangunan, apalagi membuat tandingan Kabah. Ia justru menjadi pengingat kehancuran Suku ‘Ad, kaum kuat yang binasa karena kesombongan.
Kisah Nabi Hud dan kaumnya disebut dalam sekitar 68 ayat di 10 surat Alquran, sementara nama Suku ‘Ad disebut 24 kali. Pesannya jelas yakni kekuatan tanpa tauhid hanya membawa kehancuran.
Fitnah tentang Kabah tandingan di Tarim bukan sekadar kesalahan informasi.
Ia berpotensi memecah ukhuwah, merusak kehormatan ulama, dan menodai tradisi Islam yang telah berusia ribuan tahun.
Video Teungku Syarif Attari menjadi pengingat bahwa Islam tidak dibela dengan amarah dan asumsi, tetapi dengan ilmu, akhlak, dan keberanian mengatakan kebenaran, meski melawan arus viral.
Di era algoritma, barangkali inilah jihad paling sunyi: meluruskan fitnah sebelum ia menjadi dosa kolektif.
Sumber: Inilah