Profil 2 Pengusaha Indonesia yang Namanya Masuk di Epstein Files, Sama-Sama Terkait Donald Trump!

DEMOCRAZY.ID – Dua nama pengusaha Indonesia masuk dalam daftar Epstein Files.

Istilah Epstein Files merujuk pada ribuan dokumen pengadilan dan arsip penyelidikan terkait kasus Jeffrey Epstein.

Epstein adalah pemodal asal Amerika Serikat (AS) yang merupakan pelaku kejahatan seksual terhadap anak alias pedofilia.

Dua pengusaha Indonesia yang namanya termasuk dalam daftar Epstein Files adalah Hary Tanoesoedibjo dan pendiri Sinar Mas, Eka Tjipta Widjaja.

Meski demikian, keduanya tidak terkait langsung dengan Epstein.

Dalam Epstein Files, Hary disebutkan terlibat dalam pengembangan hotel-hotel milik Donald Trump di Indonesia.

Hary dan Trump memang bekerja sama sejak 2015, dalam proyek Trump Residences Indonesia yang berlokasi di Bali dan Bogor, Jawa Barat.

Sementara, Eka di dalam Epstein Files, disebutkan terkait penjualan mansion milik Trump di Beverly Hills pada 2009 silam.

Berikut ini profil Hary Tanoesoedibjo dan Eka Tjipta Widjaja:

1. Hary Tanoesoedibjo

Hary Tanoesoedibjo yang memiliki nama lengkap Bambang Hary Iswanto Tanoesoedibjo, merupakan pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur, pada 26 September 1965.

Ia adalah pendiri sekaligus pemilik dari perusahaan konglomerat MNC Group.

Tak hanya di dunia bisnis, Hary juga melebarkan sayapnya di dunia politik dengan mendirikan Perindo dan menjadi Ketua Umumnya.

Sebelum mendirikan Perindo, Hary sempat bergabung dengan NasDem dan Hanura.

Dikutip dari laman resmi MNC, Hary merupakan lulusan Carleton University, Kanada, tahun 1988, dengan gelar Bachelor of Commerce (Honors).

Setahun setelahnya, ia mendapat gelar Master of Business Administration dari Ottawa University, Kanada.

Sebagai pemilik perusahaan MNC Group, Hary menduduki jabatan strategis di perusahaan induk maupun anak perusahaan miliknya.

Ia tercatat telah menjabat sebagai Direktur Utama pada sejumlah perusahaan, yaitu:

  • PT Global Mediacom Tbk sejak 2002;
  • PT Media Nusantara Citra Tbk sejak 2004;
  • PT Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) sejak 2010;
  • PT MNC Land Tbk sejak 2011;
  • PT GLD Properti sejak 2012.

Hary juga menjabat sebagai Komisaris Utama di:

  • PT MNC Sky Vision Tbk (Indovision) sejak 2006;
  • PT MNC Sekuritas sejak 2004;
  • PT Global Informasi Bermutu (Global TV) sejak 2009;
  • PT Media Nusantara Informasi sejak 2009;
  • PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia (MNCTV) sejak 2011.

Menurut catatan Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), bisnis Hary juga berkembang hingga pertambangan dan energi.

Dalam sektor pertambangan batu bara, Hary memiliki PT Bhakti Coal Resources (BCR) yang berada di bawah naungan PT MNC Energy Investments Tbk.

BCR diketahui menaungi sejumlah perusahaan, yakni:

  • PT Bhumi Sriwijaya Perdana Coal;
  • PT Indonesia Batu Prima Energi;
  • PT Arthaco Prima Energy;
  • PT Sriwijaya Energy Persada;
  • PT Energi Inti Bara Pratama;
  • PT Titan Prawira Sriwijaya;
  • PT Primaraya Energy;
  • PT Bhakti Coal Kaltim.

Sementara, di sektor energi, Hary juga memiliki bisnis minyak dan gas lewat PT Bhakti Migas Resources dan PT Suma Sarana yang bernaung di bawah MNC Energy and Natural Resources.

Pada 2011, Hary mulai terjun ke dunia politik, di mana ia bergabung dengan NasDem pada 9 Oktober.

Di NasDem, Hary dipercaya memegang jabatan sebagai Ketua Dewan Pakar dan Wakil Ketua Majelis Nasional.

Namun, dua tahun setelah bergabung dengan NasDem, Hary memutuskan mundur dan bergabung dengan Hanura.

Ia langsung menduduki posisi sebagai Ketua Dewan Pertimbangan.

Selanjutnya dipercaya menjadi Ketua Bapilu, bahkan calon wakil presiden dari Hanura, berpasangan dengan Wiranto.

Pada Februari 2015, Hary mendeklarasikan partai politik (parpol) baru, yakni Perindo.

Perindo berawal dari organisasi masyarakat (ormas) yang dideklarasikan pada 24 Februari 2013.

2. Eka Tjipta Widjaja

Eka Tjipta Widjaja adalah seorang imigran asal Quanzhou, Tiongkok, dengan nama Oei Ek Tjhong.

Dikutip dari laman Sinar Mas, Eka ikut sang ayah merantau dari Tiongkok ke Makassar, Sulawesi Selatan, pada 1938, ketika usianya masih 9 tahun.

Di Makassar, Eka dan keluarga mengawali bisnis merka dari toko sederhana.

Toko sederhanya berkembang menjadi toko kelontong grosir pada 1949, dan Eka memulai bisnis besar seperti kopra, kelapa sawit, serta kertas.

Bisnisnya kemudian berkembang, Eka mendirikan kilang minyak goreng kopra pertamanya, Bitung Manado Oil Ltd. (Bimoli) di Sulawesi Utara (Sulut), pada 1968.

Dari Makassar, ia kemudian pindah ke Surabaya, Jawa Timur, dan mendirikan CV Sinar Mas yang berfokus pada minyak goreng serta pabrik kertas dan bubur kertas.

Sukses di bisnis kertas dan sawit, Sinas Mas mengembangkan sayapnya di sektor layanan keuangan, seperti asuransi dan perbankan.

Sinar Mas kemudian mulai beroperasi secara komersial di bidang penyediaan energi, perdagangan besar, serta infrastruktur telekomuniksi, saat krisis ekonomi terjadi pada 1998.

Sinar Mas juga membentuk pilar baru, mulai dari industri telekomunikasi lewat Smartfren, industri properti lewat Sinar Mas Land, kesehatan lewat Eka Hospital, hingga pendidikan lewat Sinar Mas World Academy.

Eka juga membentuk organisasi kemanusiaan, yaitu Yayasan Dharma Eka Tjipta.

Hingga saat ini, Sinar Mas sudah memiliki sejumlah pilar usaha, yaitu:

  • Asia Pulp & Paper (APP), perusahaan yang menaungi sejumlah pabrik pulp dan kertas di Indonesia;
    Sinas Mas Agribusiness and Food, yang bergerak di sektor agribisnis dan pangan lewat Golden Agri-Resources Ltd (GAR);
  • Sinar Mas Land, salah satu pengembang properti terbesar di Indonesia yang menyediakan beragam produk, mulai dari kota mandiri, perumahan, kawasan komersial dan industri, hotel hingga resor wisata;
  • Sinar Mas Financial Services, melalui PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) menyediakan berbagai layanan keuangan bagi nasabah korporasi – termasuk pula usaha mikro, kecil dan menengah – maupun perorangan melalui sejumlah anak perusahaan yang dinaunginya;
  • Sinar Mas Telecommunication & Technology, menghadirkan layanan telekomunikasi terpadu melalui dua entitas utama: XLSMART dan MyRepublic;
  • Sinar Mas Energy & Infrastructures, bergerak dalam penyediaan energi listrik, pertambangan batu bara, infrastruktur, bahan kimia, perdagangan ritel, dan multimedia;
  • Sinar Mas Healthcare;
  • Organisasi kemanusiaan dan pendidikan lewat Yayasan Dharma Eka Tjipta Widjaja, Sinar Mas World Academy, ITSB, Prasetiya Mulia Business School, dan Tzi Chi Cabang Sinar Mas.

Eka diketahui meninggal dunia pada 26 Januari 2019, pada usia 98 tahun.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya