DEMOCRAZY.ID – Departemen Kehakiman AS kembali merilis jutaan halaman dokumen rahasia yang memicu guncangan hebat di panggung politik internasional.
Sebuah memo FBI tertanggal 30 Januari yang baru saja dideklasifikasi menyatakan klaim kontroversial bahwa Presiden AS Donald Trump telah “dikompromikan oleh Israel” dan menyebut Jeffrey Epstein sebagai agen intelijen Mossad.
Memo yang disusun pada tahun 2020 ini merupakan bagian dari investigasi terhadap pengaruh asing dalam proses pemilihan umum Amerika Serikat.
Laporan ini didasarkan pada keterangan Sumber Manusia Rahasia (Confidential Human Source/CHS) yang memiliki akses ke lingkaran informasi tingkat tinggi.
Dokumen tersebut menyoroti Chabad Lubavitch, sebuah organisasi Yahudi Ortodoks global, yang disebut-sebut berusaha mengooptasi kepresidenan Trump.
Nama menantu Trump, Jared Kushner, muncul sebagai tokoh sentral yang diidentifikasi sebagai pendukung kuat gerakan ini.
Beberapa poin krusial dalam memo tersebut meliputi:
Misteri mengenai identitas asli Jeffrey Epstein juga mendapatkan sudut pandang baru.
Memo tersebut, seperti yang dikutip MEE, menyatakan bahwa sumber FBI sangat yakin Epstein adalah agen Mossad yang direkrut dan dilatih di bawah bimbingan mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak.
Selain itu, dokumen tersebut menyeret nama pengacara kondang Alan Dershowitz. Ia disebut-sebut sebagai orang yang memberitahu Alex Acosta (Jaksa Federal saat itu) bahwa Epstein “milik intelijen”.
Hal inilah yang diduga membuat Epstein mendapatkan kesepakatan pembelaan yang sangat ringan pada tahun 2008 terkait kasus pelecehan seksual anak di bawah umur.
Salah satu bagian yang menarik perhatian publik di tanah air adalah penyebaran detail mengenai transaksi properti mewah Donald Trump.
Dalam laporan The Cradle, memo tersebut mendiskusikan pembelian dan penjualan sebuah rumah besar di Beverly Hills yang dijual dengan harga US$ 800.000 di bawah nilai pasar.
Rumah tersebut dilaporkan dibeli secara tunai oleh entitas Swiss yang terkait dengan keluarga Eka Widjaja, miliarder konglomerat asal Indonesia.
FBI mencatat adanya “sejumlah keanehan dan red flags” dalam transaksi ini, yang memicu dugaan adanya upaya pencucian uang melalui kesepakatan tersebut.
Meski saat ini tidak menjabat secara resmi di pemerintahan, Jared Kushner tetap menjadi penasihat khusus Trump.
Ia dilaporkan memegang peran kunci dalam menyusun rencana pembangunan Gaza (New Gaza) serta memimpin negosiasi dengan Rusia terkait konflik di Ukraina.
Temuan ini menambah daftar panjang spekulasi mengenai betapa dalam jaringan elit global dan badan intelijen asing mempengaruhi kebijakan domestik Amerika Serikat.
Sumber: Suara