DEMOCRAZY.ID – Guru Besar Universitas Airlangga (Unair), Prof. Henri Subiakto, menyampaikan pernyataan keras terkait polemik kepercayaan publik terhadap Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
Ia mengakui bahwa pada awalnya dirinya termasuk akademisi yang sangat percaya terhadap sosok Jokowi, bahkan hampir tanpa keraguan.
“Dulu saya percaya 99 persen foto wisuda itu benar-benar Pak Jokowi. Wajahnya sangat mirip dan meyakinkan,” ujar Prof Henri, Jumat (30/1/2026).
Namun, menurutnya, keyakinan itu perlahan runtuh setelah melalui proses panjang mengamati dinamika politik dan berbagai pernyataan yang dinilainya berubah-ubah dan tidak konsisten.
“Setelah proses panjang, ketahuan tokoh kita ini sering dengan entengnya bicara berubah-ubah. Bicara tidak jujur tanpa beban. Ngomong inkonsisten tanpa malu. Berpolitik tanpa etika, tanpa rasa bersalah,” tegasnya.
Prof Henri menyebut kondisi tersebut sebagai pengalaman yang tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh banyak akademisi yang semula menaruh harapan besar pada Jokowi.
“Kami seperti mimpi di siang bolong. Hal yang dulu tak pernah kita sangka, ternyata benar-benar terjadi. Itu membuat kami ragu dan tidak bisa percaya lagi dengan cara yang sama seperti dulu,” katanya.
Ia mengungkapkan, kekecewaan ini tidak hanya dirasakannya secara personal, tetapi juga oleh sejumlah akademisi lain yang dahulu berada di barisan pendukung dan pemberi harapan terhadap kepemimpinan Jokowi.
“Karena itu kami, dengan beberapa akademisi yang dulunya percaya dan berharap pada tokoh ini, kini berubah total. Sekarang kami pesimis, kritis, dan tidak mudah percaya pada hal-hal yang dianggap biasa,” ujarnya.
Prof Henri menilai banyak peristiwa di negeri ini yang secara logika sulit diterima, namun faktanya benar-benar terjadi di depan mata publik.
“Yang kami saksikan sebenarnya tak masuk akal, tapi ternyata nyata,” imbuhnya.
Terkait polemik lama soal keabsahan ijazah Presiden Jokowi, Prof Henri menegaskan bahwa satu-satunya cara untuk mengakhiri kontroversi berkepanjangan adalah dengan membuka dokumen tersebut secara transparan kepada publik.
“Kalau memang foto-foto dan ijazah itu betul, biarkan konsistensi terjadi. Buka saja ijazah Pak Jokowi di depan publik. Biarkan rakyat melihat dan para ahli independen mengujinya,” katanya.
Ia menekankan bahwa sikap kritis tersebut bukan tanpa alasan, melainkan lahir dari pengalaman berulang merasa dibohongi dan dikelabuhi.
“Mohon maaf, karena sudah berkali-kali merasa dibohongi, saya dan banyak teman sudah tidak bisa mempercayai lagi tanpa bukti-bukti komplit yang diteliti secara ilmiah oleh lembaga independen,” jelas Prof Henri.
Di akhir keterangannya Prof Hendri mengungkapkan foto wisuda Fakultas Kehutanan UGM angkatan Tahun 1980, yang wisuda bukan November 1985 di Balaiirung yang diunggah di akun X-nya
“Alhamdulillah ternyata foto yg lbh jelas gambarnya masih dimiliki teman2 pak Jokowi Fakultas Kehutanan UGM angkatan Tahun 1980, yang wisuda bukan November 1985 di Balaiirung. Jelas ya yg di blkg no 3 dr kanan skrg jd presiden RI ke 7,” katanya.
Waduh cuitan lama dari orang yg sekarang ikut nyerang jokowi
Belom sempat dihapuskah ?
😂https://t.co/1MBwdTxTQ1— Hilik Ku Aink We Lah 😬 (@KangSemproel) January 29, 2026
Sumber: JakartaSatu