6 Upaya ‘Penggulingan’ Xi Jinping yang Pernah Mengguncang Kekuasaan China!

DEMOCRAZY.ID – Dianggap sebagai pemimpin paling kuat China sejak Mao Zedong, Xi Jinping memang berhasil mengonsolidasikan kekuasaan nyaris tanpa celah.

Namun di balik stabilitas yang ditampilkan Beijing, sejarah mencatat bahwa upaya melemahkan, menantang, bahkan menggulingkan Xi Jinping tak pernah benar-benar berhenti.

Namun demikian, Presiden Xi juga menghadapi perang faksi elite, pembersihan militer, hingga rumor kudeta terbaru.

Namun, dia selalu selamat karena strategi yang dikembangkan Xi untuk mencengkeram militer China.

Dia pun menjadi pemimpin yang mengendalikan tentara China secara absolut.

6 Upaya Penggulingan Xi Jinping yang Pernah Mengguncang Kekuasaan China

1. Pangeran Keciil Bo Xilai (2012)

Sebelum Xi resmi naik ke puncak kekuasaan, Bo Xilai, Sekretaris Partai Chongqing, menjadi figur paling berbahaya bagi transisi kekuasaan.

Ia membangun basis massa sendiri dengan retorika Maoisme dan jaringan elite kuat.

Skandal pembunuhan yang menyeret istrinya, Gu Kailai, menjatuhkan Bo.

Namun banyak analis melihat kasus ini sebagai perang internal Partai Komunis China (PKC), yang menyingkirkan rival terbesar Xi sebelum ia resmi memegang kendali.

Melansir BBC, Bo Xilai, juga seorang “pangeran kecil”, didukung oleh “kaum kiri” yang menyukai kampanye-kampanyenya yang menonjol untuk membantu kaum miskin dan kurang beruntung di Chongqing.

Kini, rumor beredar luas bahwa salah satu pendukung utamanya dari kalangan “kiri” di Politbiro, kepala keamanan dalam negeri yang berpengaruh, Zhou Yongkang, juga berada di bawah tekanan dan bisa digulingkan.

2. Perlawanan Faksi Jiang Zemin (2014–2016)

Begitu berkuasa, Xi meluncurkan kampanye antikorupsi besar-besaran. Secara formal, ini pembersihan moral partai.

Namun dalam praktiknya, operasi ini menghantam faksi lama loyalis Jiang Zemin.

Puluhan jenderal, pejabat keamanan, dan elite lama tumbang.

Beberapa analis Barat menyebut periode ini sebagai “silent coup attempt”, yakni upaya elite lama memperlambat atau melemahkan dominasi Xi dari dalam sistem.

Melansir BBC, pelindung faksi Shanghai adalah mantan Presiden Jiang Zemin.

Kedua faksi tersebut umumnya dianggap melakukan rotasi kekuasaan di antara mereka, tetapi hal itu mungkin sedang mengalami ketegangan.

3. Aksi Xu Caihou dan Guo Boxiong

Militer adalah kunci kekuasaan di China. Ketika Xu Caihou dan Guo Boxiong, dua mantan Wakil Ketua Komisi Militer Pusat, ditangkap (2014–2015), dunia melihat ini bukan sekadar kasus korupsi.

Keduanya adalah simbol jaringan militer lama yang bisa menjadi ancaman nyata bagi Xi.

Sejak itu, Xi memperketat kendali atas Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) dan menempatkan loyalisnya di posisi strategis.

4. Rumor Kudeta saat Lockdown COVID-19 (2022)

Kebijakan zero-COVID memicu kemarahan publik dan tekanan elite.

Pada September 2022, Xi sempat menghilang dari publik beberapa hari, memunculkan rumor internasional bahwa ia telah digulingkan.

Meski terbukti hoaks, rumor ini menandai rapuhnya legitimasi politik Xi di tengah krisis ekonomi, lockdown ekstrem, dan ketegangan menjelang Kongres Partai ke-20.

5. Spanduk Jembatan Sitong

Oktober 2022, seorang aktivis membentangkan spanduk di Jembatan Sitong, menyerukan penggulingan Xi dan menolak kediktatoran.

Aksi ini cepat disensor, tetapi viral ke dunia internasional.

Meski bukan kudeta, ini adalah perlawanan simbolik paling berani terhadap Xi sejak ia berkuasa, dan memicu gelombang protes kecil di luar negeri.

6. Rumor Kudeta Zhang Youxia (2026)

Pembersihan akhir pekan lalu terhadap jenderal tertinggi China, Zhang Youxia, dan seorang perwira militer senior lainnya, Jenderal Liu Zhenli, telah menimbulkan pertanyaan serius tentang apa yang memicu perebutan kekuasaan elit yang terjadi di negara itu – dan apa artinya ini bagi kapasitas perang China, baik itu ambisi untuk merebut Taiwan dengan kekerasan atau terlibat dalam konflik regional besar lainnya.

Dan rumor itu telah menyebar luas. Melansir Sky News, misalnya, beredar kabar bahwa Zhang dan Liu terlibat dalam rencana kudeta tingkat tinggi untuk menggulingkan Xi.

Dan laporan dari Wall Street Journal menunjukkan bahwa tokoh-tokoh penting telah diberi tahu bahwa Zhang memberikan rahasia nuklir Tiongkok kepada AS.

Melansir BBC, Zhang, 75 tahun, adalah wakil ketua Komisi Militer Pusat (CMC) – kelompok Partai Komunis yang dipimpin oleh pemimpin negara Xi Jinping, yang mengendalikan angkatan bersenjata.

CMC, yang biasanya terdiri dari sekitar tujuh orang, kini telah dikurangi menjadi hanya dua anggota – Xi dan Jenderal Zhang Shengmin.

Semua anggota lainnya telah ditangkap dalam penindakan “anti-korupsi” setelah gelombang penahanan sebelumnya.

CMC bertanggung jawab untuk mengendalikan jutaan personel militer.

Lembaga ini sangat kuat sehingga menjadi ketua badan ini adalah satu-satunya posisi yang dipegang oleh Deng Xiaoping sebagai penguasa absolut China.

Sumber: SindoNews

Artikel terkait lainnya