DEMOCRAZY.ID – Anggota tim kuasa hukum Roy Suryo cs, Refly Harun, menyampaikan ada enam versi ijazah Jokowi yang keluar.
Hal itu disampaikan Refly saat mendampingi Roy Suryo dan Dokter Tifauziah Tyassuma, mendatangi Polda Metro Jaya untuk menyampaikan keberatan pelimpahan berkas perkara.
“Jadi, kawan-kawan, saya hanya ingin menambahkan sedikit bahwa ada beberapa versi ijazah Jokowi yang sudah keluar. Dan sudah kita dapatkan juga,” kata Refly kepada wartawan, Jumat, 16 Januari 2026.
Pakar hukum tata negara itu memerinci keenam versi itu diterbitkan masing-masing oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Solo, KPU DKI Jakarta, KPU RI, unggahan Politikus PSI Dian Sandi Utama, konferensi pers Bareskrim Polri pada 22 Mei 2025, dan gelar perkara khusus Polda Metro Jaya pada 15 Desember 2025.
“Jadi ada enam versi. Enam versi itu kita meyakini itu tidak sama. Beda. Entah satu atau dua, yang jelas beda. Karena itu kalau ada satu saja beda, berarti ada yang tidak benar. Tidak mungkin kemudian dua-duanya asli. Yang ada adalah dua-duanya palsu, pasti begitu,” ungkap Refly.
Sementara itu, Roy Suryo bersikeras ijazah Jokowi palsu 99,9 persen.
Ia semakin yakin setelah melihat ijazah Jokowi saat gelar perkara khusus di Polda Metro Jaya pada Senin, 15 Desember 2025.
“Kami, begitu melihat, saat gelar perkara khusus, yang kemudian, sosok kertas seperti ini, yang ditampilkan. Saya langsung saat itu juga, tanpa tadi ngeleng-leng, saya langsung bilang, lah ini palsu, 99,9 persen palsu,” kata Roy Suryo.
Foto pada ijazah itu disebut sangat kontras dan tidak berkesesuaian bila dikatakan foto 40 tahun yang lalu.
Terlebih, antan Wakapolri Komjen Pol. Purnawirawan Oegroseno di Pengadilan Negeri Solo mengatakan kenal dekat dengan Jokowi dan memastikan foto di ijazah itu bukan Jokowi.
Roy membawa ijazah perbandingan yang diyakini asli milik Bambang Budy Harto, yang merupakan lulusan Fakultas Kehutanan UGM tahun 1985.
Ijazah itu diperlihatkan ke publik oleh adik kandungnya bernama Rujito di persidangan Citizen Lawsuit di PN Solo beberapa waktu lalu.
Pada ijazah almarhum Bambang itu, ada embos atau cetak tebal di dekat tanda tangan pemilik ijazah.
Embos itu dibubuhi setelah tanda tangan bukan sebelum. Sementara pada ijazah Jokowi disebut tidak ada embos.
Namun, pada versi ijazah yang dikeluarkan Polda Metro Jaya saat gelar perkara khusus, ada embos samar-samar.
Meski tidak bisa diraba dan dilihat dengan transparan karena keterbatasan penyidik, Roy cs memastikan embos itu tidak asli melainkan printing.
Dokter Tifauziah Tyassuma menambahkan, pada ijazah Jokowi ada pembubuhan meterai warna hijau Rp100.
Sementara pada perbandingan milik Bambang Budy Harto, meterai yang dibubuhkan warna merah Rp500.
“Ini adalah ijazah yang dikeluarkan bulan Mei 1985 dengan materai 500 rupiah. Sementara ijazah yang katanya adalah Joko Widodo dikeluarkan bulan November 1985 masa materainya turun? Tidak mungkin, kan?,” kata Tifa.
Sumber: MetroTv