DEMOCRAZY.ID – Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda kerap menyita perhatian karena sering terjun langsung menemui rakyat.
Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) KPK, Sherly Tjoanda memiliki kekayaan sebesar Rp972.112.709.057 (Rp 972 miliar).
Selain menjadi gubernur, Sherly Tjoanda juga punya berbagai bisnis hingga kekayaannya nyaris menyentuh Rp1 triliun.
Namun, nama Sherly Tjoanda ikut terseret kasus dugaan suap PT Wanatiara Persada di KPP Madya Jakarta Utara.
Sherly disebut-sebut berpotensi diperiksa KPK jika ada bukti yang mengarah ke perizinan tambang. Itu karena PT Wanatiara Persada beroperasi di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara.
Sherly Tjoanda disebut-sebut berstatus Direktur PT Bela Group, perusahaan yang didirikan oleh mendiang suaminya Benny Laos.
Selain sebagai pucuk pimpinan, Sherly juga memiliki 25,5 persen saham di perusahaan tersebut.
PT Bela Group merupakan induk yang membawahi berbagai lini bisnis. Salah satunya adalah Bela Hotel Ternate
PT Karya Wijaya merupakan perusahaan jasa dan pertambangan nikel milik Benny Laos yang diwariskan ke Sherly Tjoanda.
Sherly tercatat sebagai pemegang saham terbesar PT Karya Wijaya. Sementara, sisa saham dipegang anak-anaknya dan Benny.
PT Karya Wijaya awalnya memiliki satu konsesi seluas 500 hektare di Pulau Gebe, Halmahera Tengah. Mereka juga punya Izin Usaha Pertambangan (IUP) hingga 4 Desember 2040.
Perusahaan itu lalu memperluas kawasan konsesi hingga Halmahera Timur seluas 1.145 hektare. Namun, Sherly mengaku sudah tak menjadi pengurus aktif di PT Karya Wijaya.
Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) menyebut Sherly Tjoanda punya saham di PT Amazing Tabara juga, yang merupakan perusahaan tambang emas.
Sherly disebut-sebut memiliki 90 persen saham PT Amazing Tabara. Namun, IUP perusahaan ini sempat dicabut oleh Kementerian ESDM dan BKPM sekitar tahun 2022.
Sherly Tjoanda juga diduga memiliki 15 persen saham di PT Indonesia Mas Mulia.
Perusahaan tambang emas dan tembaga itu beroperasi di Dekat Yaba, Bacan, Halmahera Selatan.
Perusahaan tersebut mengelola konsesi tambang seluas 4.800 hektare.
PT Bela Sarana Permai merupakan perusahaan tambang pasir besi yang juga milik Sherly Tjoanda. Ia punya sekitar 58 persen saham di sana.
Perusahaan ini memegang konsesi tambang pasir besi dan mineral seluas 4.290 hektare di Pulau Obi, Halmahera Selatan.
PT Bela Sarana Permai sempat menyita perhatian sebab diisukan konsesinya mencakup wilayah pemukiman warga Desa Wooi.
Bisnis Sherly Tjoanda dan keluarga tak hanya di bidang pertambangan. Namun, juga pelayaran dengan nama Bela Shipping. Perusahaan ini fokus pada pengiriman barang antarpulau.
Sherly Tjoanda juga mengelola bisnis pengolahan ikan tuna berbasis teknologi cold storage.
Sistem itu bisa menjaga kualitas ikan tetap segar hingga ke pasar ekspor.Adapun produk ikan tuna ini menjadi salah satu komoditas unggulan di Maluku Utara.
Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) KPK, kekayaan Sherly Tjoanda sebesar Rp972.112.709.057 (Rp972 miliar).
Kekayaan itu dilaporkan Sherly Tjoanda pada 24 April 2025 dengan jenis laporan khusus awal menjabat. Berikut adalah rincian kekayaannya:
Total kekayaan (dikurangi utang): Rp972.112.709.057 (Rp972 miliar)
Sumber: Inilah