DEMOCRAZY.ID – Guru Besar Universitas Airlangga (Unair), Prof. Henri Subiakto, menyoroti kecenderungan psikologis dan politik para pemimpin yang telah memasuki usia lanjut.
Menurutnya, faktor usia berpengaruh besar terhadap kemampuan seorang pemimpin dalam mendengar, menerima masukan, serta memahami perubahan zaman yang berlangsung sangat cepat.
Henri menjelaskan, secara umum orang yang sudah tua memiliki dorongan kuat untuk berbicara dan didengarkan.
Pengalaman dan pengetahuan masa lalu ingin terus diakui, meskipun sering kali tidak lagi relevan dengan kondisi generasi muda saat ini.
“Kecenderungan orang yang sudah tua itu ingin bicara dan didengarkan. Walaupun lawan bicara mungkin bosan atau tidak tertarik, tetap saja ingin bercerita atau menasihati,” ujar Henri dalam pernyataannya, Ahad (11/1/2026).
Ia menambahkan, keinginan untuk merasa berguna dan diakui kerap membuat keseimbangan komunikasi menjadi timpang.
Kesediaan mendengarkan menjadi lebih kecil dibanding keinginan menumpahkan pengalaman pribadi.
Kondisi tersebut, menurut Henri, berbahaya jika terjadi pada seorang pemimpin negara.
Pemimpin yang terlalu tua berpotensi sulit menerima kritik, masukan, serta pandangan baru, sehingga proses pengambilan kebijakan menjadi tidak adaptif.
“Makanya kalau memilih pemimpin jangan yang sudah terlalu tua. Biasanya akan susah diminta mendengarkan dan menerima masukan,” tegasnya.
Namun demikian, Henri juga menekankan bahwa usia muda bukan jaminan kualitas kepemimpinan.
Ia mengkritik fenomena anak muda yang terlihat maju, tetapi sebenarnya tidak mandiri karena kemajuannya didorong atau “dikarbit” oleh kekuatan besar orang tuanya.
Menurutnya, pemimpin ideal adalah sosok yang berjiwa muda, terbuka, teruji secara mandiri, serta matang melalui pengalaman dan studi yang serius.
“Harus dicari yang masih berjiwa muda, tapi maju karena pengalaman mandiri dan teruji dalam studi. Bukan asal muda atau sekadar tampak progresif,” jelasnya.
Henri juga mengakui bahwa tidak semua orang tua tertutup terhadap perubahan.
Ada pemimpin senior yang justru matang, teruji dalam berbagai jabatan, dan mampu mengikuti perkembangan zaman karena terbiasa mendengarkan masukan.
Dalam konteks global, Henri menyinggung situasi Amerika Serikat sebagai contoh.
Ia menilai, kepemimpinan yang terlalu tua berpotensi melahirkan paradoks demokrasi.
“Punya presiden terlalu tua, seperti Amerika Serikat sekarang, pemerintahannya bersistem demokrasi tapi substansinya cenderung otoriter. Banyak kebijakan mengabaikan masukan karena tidak hirau terhadap dunia yang sudah berubah cepat,” katanya.
Sumber: JakartaSatu