DEMOCRAZY.ID – Pernyataan kontroversial Wakil Ketua Umum AMPI, Arief Rosyid, yang siap membela Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia meski dalam posisi salah, terus menuai sorotan tajam. Sikap ini dinilai bukan sekadar bentuk loyalitas, melainkan fanatisme buta yang berisiko menabrak nalar publik.
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, menilai narasi yang dibangun Arief tersebut memang lazim dalam kultur organisasi yang kaku, namun justru memperlihatkan sisi militansi yang “meminta dimaklumi” atas segala perilaku pemimpin.
“Arief itu sepertinya ingin mengatakan bahwa baik buruk seorang pemimpin partai mesti dibela, jangan hanya mau enaknya saja. Pernyataan Arief itu sebenarnya bernada militansi dan satir bahwa berorganisasi itu harus patuh dan tegak lurus,” kata Adi , Rabu (7/1/2026).
Alih-alih mendapat simpati, Adi menegaskan bahwa pola pikir semacam ini justru menjadi bumerang bagi Arief.
Menurutnya, wajar jika publik yang masih memegang akal sehat merasa gerah dan melontarkan kritik keras atau perundungan (bullying) terhadap Arief.
Pasalnya, sikap tersebut seolah menihilkan kebenaran demi jabatan pemimpin.
“Pernyataan yang semacam itu kerap di-bully publik yang memiliki cara pandang beda dengan kader partai seperti Arief. Hal yang semacam ini wajar dalam demokrasi,” tutur Adi, menyoroti resistensi publik terhadap gaya politik “pokoknya bela”.
Sebelumnya, Arief Rosyid memicu kegaduhan lewat potongan pernyataannya dalam acara bedah buku Yang Golkar Golkar Aja yang berbunyi, “Jangankan benar, salah pun kita bela.”
Meski belakangan Arief berdalih dan menyampaikan klarifikasi bahwa ucapannya hanyalah konteks menjaga marwah ketua umum di ruang publik, pembelaan diri tersebut dinilai terlambat meredam persepsi negatif yang kadung terbentuk.
“Sebagai anggota organisasi, saya punya kewajiban membela marwah ketua umum di publik, tetapi mengingatkan di dalam organisasi. Bang Bahlil adalah senior yang respek jika diingatkan,” katanya.
Dalih membedakan kritik internal dan pembelaan eksternal dianggap publik sebagai apologi atas sikap permisif terhadap kesalahan penguasa partai.
Sumber: Inilah