DEMOCRAZY.ID – Greenpeace Indonesia menyoroti maraknya teror terhadap aktivis dan influencer sebagai ancaman serius bagi kebebasan berekspresi.
Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Iqbal Damanik, adalah salah satu yang mengalami teror.
Iqbal Damanik dikirimi bangkai ayam tanpa pembungkus pada Selasa (30/12/2025). Di kaki ayam tersebut terikat plastik berisi kertas.
Kertas itu bertuliskan pesan “JAGALAH UCAPANMU APABILA ANDA INGIN MENJAGA KELUARGAMU, MULUTMU HARIMAUMU”.
Country Director Greenpeace Indonesia Leonard Simanjuntak menyampaikan hasil analisis pihaknya terkait aksi teror yang dialami Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Iqbal Damanik.
Leonard mengatakan, Greenpeace memperkirakan intimidasi dan ancaman terhadap Iqbal Damanik berkaitan dengan pandangan-pandangan kritisnya terkait bencana di Sumatera, yang dia sampaikan di media sosial.
“Kami memperkirakan cukup yakin bahwa ini terkait dengan pandangan-pandangan kritis Iqbal disampaikan lewat sosial media pribadinya tentang penanganan bencana Sumatra,” kata Leonard, saat dihubungi, Jumat (2/1/2025).
Tak hanya itu, Leonard mengatakan, ada juga kemungkinan teror tersebut lebih spesifik berkaitan dengan pemantauan yang dilakukan Iqbal dan sejumlah aktivis Greenpeace lainnya pada daerah aliran sungai (DAS) Batang Toru, Tapanuli Selatan.
“Ya mungkin saja, mungkin saja karena salah satu yang agak spesifik memang kami kan pada minggu kedua (bencana di Sumatera) termasuk Iqbal dalam tim kecil yang kami kirim untuk melihat kerusakan memang di DAS Batang Toru,” jelasnya.
Terkait hal-hal tersebut, Leonard menilai, ada pihak tertentu yang terganggu dengan sikap kritis para aktivis terkait bencana di Sumatera.
“Jadi, kalau yang kami perkirakan tentunya ada pihak-pihak yang terganggu. Terganggu karena kekritisan kami dan juga misalnya kekritisan para influencer, teman-teman influencer yang juga dikenai ancaman-ancaman teror ini,” katanya.
Meski demikian, Leonard menyampaikan, dia enggan berspekulasi lebih jauh terkait alasan-alasan di balik peristiwa teror tersebut.
Menurutnya, soal itu merupakan kewenangan pihak kepolisian.
“Ya, kami melakukan beberapa analisa, tetapi juga kami tidak ingin berspekulasi terlalu jauh. Karena tentunya ada ranah kepolisian kan nanti kalau misalnya kita melaporkan,” ucap Leonard.
Sejumlah aktivis dan tokoh publik mengalami teror misterius yang mengundang keprihatinan. Hingga kini, pelaku di balik aksi intimidasi tersebut belum terungkap.
Korban teror di antaranya Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Iqbal Damanik, aktivis Virdian Aurellio, influencer Sherly Annavita, DJ Donny, serta aktor Yama Carlos.
Teror yang diterima beragam, mulai dari rumah dilempar bom molotov, kiriman bangkai ayam, telur busuk, kendaraan dicoret-coret, hingga peretasan nomor telepon pribadi dan pesanan fiktif metode Cash On Delivery (COD) bernilai jutaan rupiah.
Rangkaian teror ini diduga berkaitan dengan kritik para korban terhadap penanganan bencana di Sumatra.
Meski demikian, aparat kepolisian belum mengungkap siapa pelaku di balik aksi tersebut.
Beberapa korban, termasuk Yama Carlos, mengaku belum berniat melaporkan kasus ini ke polisi karena keraguan terhadap tindak lanjut laporan.
Situasi ini menambah keprihatinan publik atas maraknya intimidasi terhadap aktivis dan influencer.
Sumber: Tribun