DEMOCRAZY.ID – Pakar politik, Ikrar Nusa Bhakti, mengaku kecewa dengan Presiden Prabowo Subianto yang menurutnya masih terus menutup-nutupi perkara bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar).
Prabowo sebelumnya menyatakan bahwa pemerintah tetap serius menangani bencana di wilayah Sumatra tersebut, meski hingga kini tidak ditetapkan sebagai bencana nasional.
Pemerintah, kata Prabowo, masih mampu menangani bencana dan akan bekerja sepenuh tenaga untuk membantu penanganan pascabencana.
Pemerintah juga memiliki anggaran yang cukup besar untuk mengatasi masalah ini.
Namun, Ikrar merasa Prabowo masih terkesan menutup-nutupi persoalan bencana di Sumatra itu.
“Saya itu lagi sedih, mengapa? Karena Prabowo itu berupaya masih tetap menutup-nutupi, misalnya bahwa yang namanya persoalan bencana di Sumatra ini masih bisa ditangani dengan baik. Saya tidak yakin itu akan bisa ditangani dengan baik secara cepat,” ungkapnya, dikutip dari YouTube Abraham Samad SPEAK UP, Jumat (2/1/2025).
Ikran mengaku, sebelumnya dia merupakan pendukung Prabowo. Tetapi setelah adanya bencana di Sumatra itu, Ikrar menilai berbeda.
Bahkan, Ikrar sampai mengatakan hal tersebut membuatnya merasa putus asa terhadap kepemimpinan Prabowo dan Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka.
“Saya terus terang ya, itu sampai berapa bulan yang lalu saya masih tetap menjadi pendukung dia (Prabowo) loh. Maksudnya daripada misalnya Jokowi kemudian melakukan suatu tindakan tertentu yang kemudian menjadikan anaknya sebagai presiden. Waktu itu saya masih berpikiran begitu,” ucapnya.
“Tapi melihat bagaimana Prabowo menangani bencana, bagaimana Prabowo menangani persoalan kritik-kritik dari kaum cendekiawan. Di situ saya melihat bahwa kita hopeless punya Presiden Prabowo Subianto dan juga punya Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, karena memang dua-duanya, maaf, tidak kapabel,” sambungnya.
Ikrar kemudian mencontohkan sesuatu yang dinilainya masih ditutup-tutupi Prabowo adalah soal banyaknya kayu gelondongan dalam banjir Sumatra.
“Sekarang saya tanya, apakah kemudian persoalan kayu gelondongan yang turun dari atas sampai ke bawah itu kemudian diakui bahwa itu adalah akibat dari penebangan hutan? Kemudian juga pembalakan hutan?”
“Ataupun bagaimana hutan yang kemudian berubah? Yang tadinya bersifat multiculture menjadi monoculture yang antara lain dikuasai oleh mereka-mereka yang perkebunan kelapa sawit ya,” paparnya.
Ikrar mengatakan, tanaman sawit yang sebelumnya disebutkan Prabowo termasuk pohon dan mempunyai daun, bahkan bisa menyerap CO2 itu berbeda dengan tanaman kelapa.
“Tapi dia juga tidak mengetahui bahwa yang namanya kelapa sawit ini adalah tanaman yang kalau menurut Megawati itu istilahnya adalah genit, di mana tanaman ini tidak seperti kelapa. Kelapa kan ditanam bisa langsung tumbuh dan ini juga tidak perlu sekaligus begitu banyak ya.”
“Tapi kalau kelapa sawit, selain membutuhkan air yang banyak dan kemudian juga lahan yang juga banyak, kenapa? Karena sekali tebang itu harus sekian hektare ditebang agar nanti mereka bisa tumbuh berbarengan dan menghasilkan minyak kelapa sawit dari buahnya itu,” jelas Ikrar.
Sumber: Tribun