Bakal Kejadian 2 Minggu Kedepan! Ada yang Mulai Bergejolak, Ini Ultimatum Rocky Gerung

DEMOCRAZY.ID – Pengamat Politik, Rocky Gerung melempar peringatan keras dengan tenggat dua minggu.

Ia menyebut publik sedang berada dalam fase menunggu yang melelahkan, terutama soal kapan Presiden Prabowo benar benar mengambil jarak dari pengaruh Presiden Joko Widodo.

Dalam pernyataannya, Rocky menyebut situasi itu bukan sekadar ketegangan politik biasa, melainkan ketidakpastian yang ia anggap bisa berubah menjadi gejolak yang sulit lagi ditampung lewat perdebatan formal.

“Kita disiksa oleh ketidakpastian karena menunggu tadi. Kapan Presiden Jokowi berjarak, itu namanya siksaan,” ujar Rocky dikutip di kanal Youtube Refly Harun.

Ia lalu menambahkan, bila “siksaan” itu tidak dijawab dalam dua minggu ke depan, ia membaca ada sesuatu yang sedang bergerak di bawah permukaan dan siap muncul ke ruang publik.

Rocky mengaitkan potensi itu dengan kemungkinan isu pemakzulan Wakil Presiden Gibran mulai ramai dibicarakan, termasuk di parlemen.

“Bayangkan misalnya kalau proses pemaksulan Gibran itu mulai dibicarakan di parlemen dan pasti akan dibicarakan,” ucapnya.

Di titik ini, Rocky tidak menempatkan gejolak sebagai sekadar urusan elite.

Ia justru menyinggung energi moral di luar institusi, mulai dari mahasiswa, masyarakat sipil, hingga simbol simbol protes yang belakangan mudah viral.

Menurutnya, bila demonstrasi terjadi, aparat sebaiknya tidak menghalangi.

Ia menyarankan aparat membaca perubahan suasana, lalu menyampaikan langsung kepada presiden bahwa keadaan tidak lagi sama.

Rocky juga mendorong cara pandang yang ia sebut lebih moral ketimbang sekadar politis.

Ia menilai Prabowo menang secara elektoral, tetapi kemenangan itu tetap memikul persoalan moral karena lahir dari transaksi politik.

Karena itu, ia mengulang dorongan agar “moral” dikembalikan ke pusat politik dan jarak dari rezim sebelumnya dibuat terang.

Dalam bagian lain, Rocky melontarkan kritik tajam kepada Presiden Jokowi terkait keputusan mendorong “anak kecil” masuk ke arena politik orang dewasa.

Ia menyebut tindakan itu tidak melanggar konstitusi, tetapi ia menuding ada pelanggaran Undang-Undang Perlindungan Anak, bahkan mengeluarkan kalimat provokatif soal konsekuensi hukum.

Pernyataan tersebut ia sampaikan sebagai penilaian pribadi atas kebijakan, bukan serangan pada individu semata, karena ia menegaskan “kita dendam terhadap kebijakan.”

Selain soal moral dan jarak politik, Rocky menautkan ancaman gejolak dengan faktor ekonomi yang ia anggap rapuh.

Ia mengatakan kesulitan ekonomi tidak mungkin selesai dalam waktu singkat, lalu memperingatkan adanya momen “crossfire” ketika tekanan ekonomi bertemu tekanan politik.

“Persepsi investor bisa berubah cepat di era informasi real time. Ia bahkan menyebut investor global bisa memantau diskusi publik seperti ini, lalu mengubah keputusan tanpa menunggu rapat kabinet atau klarifikasi resmi,” katanya

Menurut Rocky, sumber guncangan bisa datang bukan dari demonstrasi besar semata, melainkan dari data kecil yang menggeser kepercayaan.

Ia melukiskan pasar keuangan sangat peka terhadap satu dua informasi atau analisis yang beredar, sehingga situasi dapat bergerak mendadak.

“Contoh peristiwa di Pati untuk menunjukkan bagaimana persoalan lokal bisa berubah menjadi urusan nasional ketika ada akumulasi kekecewaan dan rasa dihina. Ia menarik paralel dengan perubahan politik 1998, untuk menekankan bahwa skala massa bukan satu satunya penentu, melainkan simbol dan momentum,” jelasnya.

Ujung dari seluruh rangkaian pernyataan Rocky bermuara pada satu garis besar.

Ia menilai ketidakpastian hari ini menumpuk di ruang ruang sosial, dari obrolan sehari hari sampai percakapan publik, lalu berpotensi meledak ketika jawaban politik tak kunjung datang.

Karena itu, tenggat dua minggu yang ia sebut bukan sekadar hitungan kalender, melainkan ukuran apakah kekuasaan memberi sinyal jarak moral yang diminta publik, atau justru membiarkan kegelisahan naik kelas menjadi kegaduhan yang lebih sulit dikendalikan.

Sumber: Herald

Artikel terkait lainnya