NGERI! Rocky Gerung Prediksi Akan Ada ‘Konflik Besar’ Awal 2026

DEMOCRAZY.ID – Nada suara Rocky Gerung terdengar tenang, tetapi isinya seperti palu yang dipukulkan berulang-ulang ke dinding republik.

Di hadapan aktivis, mahasiswa, jurnalis, dan publik yang menyimak dalam kanal youtube Refly Harun , filsuf politik itu melontarkan peringatan keras: Indonesia sedang bergerak menuju fase berbahaya, dan awal 2026 bisa menjadi titik letup konflik besar.

Ia mengingatkan kembali lahirnya Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia lima tahun silam, sebuah persekutuan kaum berpikir yang sejak awal memilih kata “menyelamatkan” sebagai penanda keadaan darurat.

Bagi Rocky, istilah itu bukan retorika.

Ia menandai ambang batas—antara hidup dan mati sebagai bangsa. Kini, katanya, situasi justru semakin mengkhawatirkan. Negara, menurut Rocky, “membusuk dari dalam”.

Kepemimpinan nasional, bencana yang datang beruntun, serta krisis kepercayaan publik membuat harapan terasa rapuh.

Ia mengutip data riset yang menunjukkan hampir separuh warga tidak lagi percaya pada prospek ekonomi dan politik.

Ketidakpastian itu bukan hanya tercatat dalam statistik, tetapi hidup dalam emosi, bahkan merasuki mimpi masyarakat.

Bonus demografi, demokrasi, dan janji-janji masa depan kehilangan daya hibur.

Rocky menyoroti paradoks paling berbahaya: tingkat kepercayaan tinggi terhadap presiden di satu sisi, tetapi rendahnya kepercayaan terhadap demokrasi dan lembaga publik di sisi lain.

Baginya, itu pertanda lahirnya kultus individu.

Demokrasi, kata Rocky, justru aman ketika pemimpin dikritik, bukan dielu-elukan. Saat angka kepercayaan personal melonjak, sementara institusi runtuh, republik berada di tepi jurang.

Dari kegelisahan itu, ia membaca potensi “crossfire” pada semester awal 2026—benturan antara frustrasi elite dan “piring kosong” emak-emak.

Sebuah konflik sosial yang lahir bukan dari rekayasa, melainkan akumulasi ketidakadilan, kemiskinan, dan kemarahan yang lama dipendam.

Situasi makin berbahaya ketika perpecahan merembet ke tubuh aparat, ketika tangan kanan dan kiri kekuasaan saling curiga.

Rocky tidak menyembunyikan kritiknya. Ia menyebut demokrasi Indonesia telah direduksi menjadi transaksi sembako—one person, one food.

Suara rakyat murah, masa depan bangsa dipertaruhkan dalam paket beras dan uang tunai.

Dalam sistem seperti itu, plutokrasi menang, uang berbicara, dan kebijakan lahir dari dagang sapi politik.

Ia juga menyinggung warisan kerusakan politik satu dekade terakhir yang, menurutnya, membebani pemerintahan saat ini.

Namun beban itu, kata Rocky, tidak bisa menjadi alasan untuk tunduk pada transaksi lama.

Presiden, ia tekankan, harus menjadi pemimpin, bukan pedagang. Pemilu telah selesai, dan keputusan kini harus otentik—bukan hasil kompromi kekuasaan.

Di ujung pernyataannya, Rocky menyebut pesimismenya bukan sikap putus asa, melainkan rasionalitas.

Ia justru mencurigai optimisme yang irasional, yang meninabobokan publik di tengah tanda-tanda bahaya.

Bagi Rocky, kritik adalah bentuk kecintaan pada negeri, upaya memanggil kembali akal sehat ke dalam republik.

Tepuk tangan menutup pernyataan itu, tetapi kegelisahan tetap menggantung di udara. Awal 2026 disebut-sebut bukan sekadar penanda waktu, melainkan peringatan.

Jika ketidakpercayaan dibiarkan, jika konflik internal terus diremehkan, republik bisa runtuh bukan oleh serangan dari luar, melainkan oleh pertarungan di dalam dirinya sendiri.

Sumber: Herald

Artikel terkait lainnya