DEMOCRAZY.ID – Pengamat politik Rocky Gerung memberikan sindiran keras kepada dua menteri Presiden Prabowo Subianto terkait bencana banjir dan longsor yang melanda tiga provinsi di Pulau Sumatera.
Banjir bandang dan tanah longsor itu sebagaimana diketahui terjadi di Sumatera Barat (Sumbar), Sumatera Utara (Sumut) dan Aceh.
Akibat bencana tersebut, ratusan nyawa meninggal, ratusan orang hingga saat ini hilang dan ratusan ribu warga terpaksa mengungsi.
Bencana banjir dan longsor yang menerjang di Pulau Sumatera itu menyebabkan kerugian hingga triliunan rupiah.
Perihal bencana yang terjadi, dua menteri dalam Kabinet Merah Putih dibawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto pun disindir.
Sindiran itu datang dari pengamat politik ternama, yakni Rocky Gerung.
Kedua menteri itu yakni Zulkifli Hasan atau Zulhas Menteri Koordinator Bidang Pangan yang juga Ketua Umum PAN dan Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan yang juga Sekjen PSI.
Keduanya memang jadi sorotan di tengah kritik warga terhadap pemerintah terkait banjir dan longsor di Sumatera.
Sorotan itu pada Menko Zulhat yang viral memanggul beras saat membantu warga terdampak banjir dianggap pencitraan.
Sedangkan, Raja Juli Antoni didesak mundur dari jabatannya buntut bencana.
Rocky Gerung menilai beberapa menteri seharusnya sudah tidak lagi terlihat di media massa berdasar ukuran peradaban.
“Akibat kegagalan mereka, mengelola, memitigasi atau bahkan mempermainkan isu bencana itu,” kata Rocky Gerung dikutip dari akun Youtube Rocky Gerung Official, Minggu (7/12/2025).
Rocky yang mengaku sebagai sahabat Raja Juli Antoni gagal sebagai menteri.
“Saya sahabat, bersahabat dengan dia, tetapi di dalam urusan bencana kemarin harusnya dia sudah ditegur atau menegur diri sendiri bahwa ada yang gagal dia prestasikan selama menjadi menteri,” katanya.
Rocky juga mengenal baik Zulkifli Hasan, seharusnya mundur dari jabatannya.
“Bukan terpojok oleh netizen tapi memang ada sesuatu yang diumpankan pada publik sehingga seolah-olah dengan memanggul-manggul beras itu persoalan selesai dan itu artinya ada perencanaan untuk pameran ya,” katanya.
“Pameran kemanusiaan yang palsu gitu itu yang harus kita perhatikan,” sambungnya.
Ia pun meminta mereka menyadari kesalahan etis dan kebijakan yang dilakukannya.
Rocky juga menilai sejumlah menteri serta pejabat yang terkait dengan penanangan banjir bandang dan tanah longsor seharusnya memiliki kontrol diri.
Hal itu digunakan untuk memudahkan publik mengetahui pertanggungjawaban negara dengan cara mundur.
“Itu juga akan membuat kita percaya bahwa oke Indonesia masih punya etik. Kita mau terangkan itu karena di luar negeri orang nyinyir dengan cara Indonesia menyelesaikan banjir ini,” katanya.
Tak hanya itu, Rocky menuturkan diaspora di luar negeri juga dibanjiri pertanyaan mengenai penanganan bencana di Indonesia.
“Diaspora itu banjir dibanjiri dengan pertanyaan oleh teman-teman mereka di seantero planet dan mereka hanya bisa mentertawakan juga apa yang dilakukan oleh menteri-menteri itu atau pejabat-pejabat di sekitar krisis bencana ini,” katanya.
Rocky melihat setidaknya terdapat tujuh menteri yang harus mundur dari kabinet pemerintahan Prabowo Subianto.
“Itu yang kita ingin ingin dalilkan hari ini supaya Presiden Prabowo juga mengerti bahwa kebijakan negara itu gagal memitigasi, gagal mengantisipasi dan setelah gagal justru pamer-pamer,” jelasnya.
Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Viva Yoga Mauladi, menyatakan sebagai pejabat publik, Zulhas tidak lepas dari kritik, baik terkait kebijakan maupun perilakunya.
Ia menilai hal tersebut merupakan dinamika wajar dalam ruang publik.
“Bang Zul mengangkat karung atau membantu membersihkan rumah dari lumpur bukanlah untuk pencitraan,” kata Viva, Jumat (5/12/2025).
Ia menjelaskan, Zulhas dikenal sebagai sosok yang mudah tersentuh hatinya ketika melihat penderitaan masyarakat.
“Tapi itulah Bang Zul yang mudah tersentuh hatinya jika melihat penderitaan dan selalu berempati. Sisi kemanusiaannya lebih dominan,” ujar Viva.
Viva menegaskan, sikap Zulhas tersebut telah terlihat sejak lama. Bahkan, sejak PAN berdiri pada tahun 1998.
“Tidak ada kepalsuan dalam bersikap. Itu murni dari hatinya. Sejak PAN berdiri tahun 1998, sikap Bang Zul tidak pernah berubah untuk selalu ringan tangan membantu dan menolong orang,” ucap Wakil Menteri Transmigrasi ini.
Bagi Zulhas, kata dia, turun langsung membantu warga yang terkena bencana adalah pekerjaan yang mulia.
“Terjun membantu rakyat, berpeluh mengangkat karung, untuk rakyat yang terkena bencana banjir, adalah pekerjaan yang baik dan mulia,” ungkapnya.
Viva menambahkan, yang tidak baik justru adalah pihak yang tidak pernah hadir membantu warga saat bencana, tetapi kemudian mendiskreditkan orang yang terjun langsung di lapangan.
“Yang tidak baik itu adalah orang yang tidak pernah menolong rakyat yang terkena bencana, dan mendiskreditkan orang yang menolong rakyat dengan dalih yang negatif,” imbuh Viva.
Sementara itu, Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan (Menhut) didesak mundur dari jabatannya.
Desakan tersebut buntut bencana banjir dan tanah longsor yang menerjang 3 provinsi di Pulau Sumatra, Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Penyebab bencana disinyalir karena kerusakan hutan.
Sementara desakan agar Menhut Raja Juli mundur salah satunya datang dari Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Usman Husin saat rapat Komisi IV dengan Kementerian Kehutanan di DPR, Kamis (4/12/2025).
Ia menuding Menhut Raja Juli tidak paham soal kehutanan saat membahas tentang izin pengelolaan hutan di Tapanuli Selatan, Sumut, yang seharusnya tidak keluar, ternyata keluar.
Usman juga meminta Kemenhut untuk fokus upaya penanaman kembali di tiga provinsi di Sumatra yang terdampak banjir bandang.
“Mohon izin teman-teman Komisi IV, mungkin saya keras karena saya paling hatinya kasih, sehingga kalau Pak Menteri tidak mampu, mundur saja,” ujar Usman, dikutip dari kanal YouTube Tribunnews.
Menhut Raja Juli sudah merespons terkait desakan yang meminta dirinya mundur.
Ia menegaskan, hak untuk memilih atau menghentikan menteri ada di tangan Presiden Prabowo Subianto.
“Saya saya yakin namanya kekuasaan itu milik Allah dan itu hak prerogatif presiden. Jadi saya siap dievaluasi.”
“Saya hanya bekerja semaksimal mungkin yang saya bisa. Selanjutnya itu adalah prerogatif Pak Presiden,” tegasnya.
Sumber: Tribun