Aib para pengelola NU satu demi satu sedang dibuka, bukan untuk menghancurkan NU, tapi justru untuk menyelamatkannya dari kehancuran yang lebih dalam.
Karena kalau kebusukan itu tetap ditutup-tutupi dengan narasi “ukhuwah”, “kualat”, “menjaga marwah”, maka lama-lama yang tersisa hanya kulit kosong bertuliskan “Nahdlatul Ulama”, tapi isinya sudah bukan lagi rahmatan lil alamin, melainkan rahmatan lil korporasi, rahmatan lil oligarki, rahmatan lil tambang, rahmatan lil royalti.
Allah membukanya lewat cara yang sangat telanjang:
Semua kasus ini bukan lagi rumor.
Sudah masuk ranah penegak hukum, sebagian sudah P21, sebagian lagi sedang penyidikan KPK dan Kejagung per November 2025.
Bukti transfer, rekaman suara, dokumen kontrak tambang, semua sudah beredar.
Dan yang paling menyakitkan: semua dilakukan atas nama “ekonomi umat”, atas nama “kesejahteraan warga NU”, padahal yang menikmati hanya segelintir elite dan keluarganya. Umat ya tetap miskin.
Kini dibuka lewat cara yang sangat pahit:
Semuanya terbuka.
Tidak ada lagi hijab yang bisa dipakai. Namun justru di situlah rahmat Allah bekerja: dengan membiarkan kebusukan itu tercium sampai ke warga nahdliyin yang paling ndeso sekalipun, sampai ke anak muda NU yang dulu diam saja, sampai juga ke buruh tambang yang anaknya sekolah di pondok NU tapi ayahnya mati tertimbun longsor di lahan yang kini dikelola anak perusahaan NU.
Kalau dulu orang bisa bilang “ahh itu fitnah”, sekarang orang hanya bisa diam, karena buktinya sudah terlalu telanjang.
Jadi biarkan saja terbuka lebar-lebar.
Biar yang busuk terbakar habis oleh api yang mereka nyalakan sendiri.
Supaya yang tersisa adalah NU yang kembali ke jalan sunyi para muassis: miskin tapi punya marwah, teguh melawan yang bathil, dan amar ma’ruf nahi munkar tanpa takut.
NU yang sejati tidak akan mati karena aib pengurusnya terbuka.
NU yang sejati justru akan lebih hidup karena aib itu dibuka.
Karena Allah tidak pernah membiarkan lembaga yang mengatasnamakan ajaran-Nya terus-menerus menjadi alat komodifikasi dan kapitalisasi agama tanpa membersihkannya dengan cara-Nya sendiri.
Jadi, terima kasih Gus Yahya.
Terima kasih Gus Ipul.
Tanpa kalian berdua berebut tambang dan saling bongkar kartu,
mungkin umat ini masih tertidur panjang.
(Sumber: Malika’s Insight 29 November 2025)