DEMOCRAZY.ID – Nama Bahlil Lahadalia kembali menjadi sorotan setelah sejumlah laporan media menampilkan deretan perusahaan tambang yang dikaitkan dengannya.
Meskipun beberapa klaim masih memerlukan verifikasi lebih jauh, sejumlah data dari Bloomberg Technoz, Suara.com, dan catatan advokasi JATAM.
Menunjukkan adanya pola dan jejak perusahaan yang disebut terhubung dengan Bahlil melalui kepemilikan saham maupun jaringan holding.
Perusahaan-perusahaan itu sebagian besar bergerak di sektor nikel dan batu bara, berada di wilayah strategis seperti Konawe Utara, Halmahera, dan Papua.
Sorotan ini tidak muncul tanpa alasan. Bahlil sempat memegang jabatan penting sebagai Menteri Investasi/BKPM, lalu Menteri ESDM
Dua posisi yang sangat dekat dengan proses perizinan pertambangan.
Perusahaan pertama yang paling sering disebut adalah PT Meta Mineral Pradana. Laporan Bloomberg Technoz mengungkap bahwa perusahaan ini memiliki dua Izin Usaha Pertambangan (IUP) nikel di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.
Luas lahannya mencapai 470 hektare dan 165,5 hektare.
Menjadikannya salah satu pemegang konsesi yang cukup signifikan di wilayah tersebut.
Yang membuat Meta Mineral Pradana menjadi sorotan adalah struktur pemegang sahamnya.
Kedua entitas itu disebut dalam berbagai laporan sebagai bagian dari jaringan perusahaan yang dikaitkan dengan Bahlil sejak ia masih aktif di dunia bisnis.
Nama PT Rifa Capital sering muncul dalam laporan media sebagai perusahaan induk yang menaungi sejumlah usaha, termasuk tambang, properti, perkebunan, hingga logistik.
Rifa Capital memiliki lahan tambang di Fak-Fak dan Halmahera, meski detailnya tidak banyak dipublikasikan dalam dokumen resmi yang bisa diakses publik.
Rifa Capital dianggap sebagai salah satu pintu masuk untuk memahami peta bisnis yang dikaitkan dengan Bahlil.
Perusahaan ini juga tercatat sebagai pemegang saham Meta Mineral Pradana, sehingga posisinya menambah perhatian publik terhadap struktur kepemilikan tambang tersebut.
Dwijati Sukses & Bersama Papua Unggul: Nama-Nama di Sekitar Jejaring Bisnis Tambang
Selain Rifa Capital, dua perusahaan lain yang sering muncul dalam pemberitaan adalah PT Dwijati Sukses dan PT Bersama Papua Unggul.
Sementara itu, Bersama Papua Unggul menjadi sorotan karena memegang 90% saham Meta Mineral Pradana, menjadikannya pemilik mayoritas dari konsesi nikel di Konawe Utara.
Kedua perusahaan ini kerap dimasukkan dalam daftar perusahaan yang dikaitkan dengan Bahlil melalui laporan media kredibel.
Namun sama seperti Rifa Capital, publik masih menunggu transparansi lebih jauh terkait aktivitas operasional dan data legal perusahaan-perusahaan tersebut.
Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) menyoroti bahwa beberapa perusahaan yang disebut terafiliasi dengan Bahlil tidak muncul dalam database AHU Kemenkumham.
Temuan ini memunculkan dugaan soal struktur kepemilikan yang tidak transparan, terutama pada perusahaan tambang.
Meski bukan bukti hukum final, temuan JATAM menjadi dasar publik untuk mempertanyakan kelengkapan data terkait perusahaan-perusahaan yang dikaitkan dengan pejabat negara.
Jejak perusahaan tambang ini menjadi isu publik karena Bahlil berada di posisi yang berkaitan langsung dengan sektor pertambangan.
Sebagai Menteri Investasi dan kemudian Menteri ESDM, ia memiliki peran strategis dalam perizinan tambang, hilirisasi nikel, hingga investasi mineral.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan publik tentang dugaan konflik kepentingan, meskipun Bahlil sendiri menyatakan bahwa ia telah melepas segala keterlibatan bisnis saat memasuki dunia pemerintahan.
Dari seluruh data yang tersedia, Meta Mineral Pradana menjadi perusahaan paling jelas keterkaitannya.
Melalui pemegang sahamnya yang merujuk pada perusahaan-perusahaan yang dikaitkan dengan Bahlil.
Sumber: PojokSatu