Bahkan Juara Olimpiade Matematika ‘Kaget’ Lihat Soal TKA

DEMOCRAZY.ID – Nilai ujian mata pelajaran matematika siswa-siswi se-Indonesia dilaporkan jeblok dalam tes kemampuan akademik (TKA) SMA dan setingkatnya. Bagaimana kata murid-murid soal model ujian akhir terbaru yang dijalankan pemerintah itu?

Salah seorang siswa kelas XII di SMAN 2 Indramayu, Reyfan Athaillah Firdaus mengatakan, soal Matematika yang diujikan dalam TKA tidak seluruhnya sama dengan yang diajarkan selama tiga tahun di bangku SMA. “Sedikit yang samanya, kebanyakan beda,” kata Reyfan, Kamis (27/11/2025).

Reyfan mengatakan, dalam TKA tingkat SMA yang telah digelar, bahkan ada materi yang hanya diajarkan saat sekolah menengah pertama (SMP). Sedangkan saat SMA, materi tersebut tidak diajarkan lagi.

Tak hanya itu, soal TKA Matematika juga berbeda dengan latihan soal kisi-kisi. Ia menilai, kemiripannya hanya sedikit.

Reyfan beruntung karena selama ini ia memang sering berlatih mengerjakan soal-soal Matematika, termasuk les di luar jam sekolah.

Ia juga peraih juara olimpiade Matematika tingkat Kabupaten Indramayu

“Yang susah (di TKA) paling dua soal sih kalau saya, lainnya masih bisa,” kata dia.

Reyfan mengatakan, soal TKA Matematika kemarin lebih banyak penalaran dan penerapan sehari-hari. Butuh pemahaman yang mendalam dari siswa untuk mengerjakannya.

Bagaimanapun, materi yang tidak diajarkan di di sekolah bukan satu-satunya persoalan dalam ujian kemarin.

Reyfan menilai kendala lainnya adalah waktu mengerjakan tes yang kurang. Dalam waktu 45 menit, siswa harus mengerjakan 25 soal. Dengan demikian, satu soal harus bisa dikerjakan dalam waktu 1,8 menit.

Tak hanya waktu pengerjaan yang relatif singkat, gangguan server juga menjadi kendala lainnya. Konsentrasi siswa menjadi terganggu akibat waktu yang terpotong.

Kementerian Pendidikan Dasar menggelar tes kemampuan akademik siswa SMA dan sederajat pada 3-6 November 2025.

Sebanyak 43.967 sekolah dan 3,5 juta siswa mengikuti tes tersebut untuk pertama kalinya. TKA untuk tingkat SMP dan SD akan menyusul pada Maret atau April 2026 nanti.

Patut dicatat, TKA tahun ini dilaksanakan secara daring. Idealnya, menggunakan perangkat komputer atau laptop yang dimiliki sekolah. Jika jumlahnya tak cukup, sekolah bisa meminta siswa membawa gawai sendiri.

Di sekolah tempat Reyfan menuntut ilmu, siswa masih beruntung karena semua siswa yang menjalani ujian kebagian komputer sekolah. Tak demikan di banyak sekolah lainnya.

Ira (12 tahun) murid kelas VI sekolah dasar swasta di Depok, menuturkan ia dan teman-teman diminta membawa laptop dan telepon genggam untuk menjalani uji coba TKA. Bagi siswa-siswi yang mengerjakan dengan gawai, soal sukar terlihat karena sempitnya layar.

“Ada juga yang susah login, ada juga yang di tengah-tengah ujian tiba-tiba loading komputernya.” Uji coba alias try out TKA di sekolahnya bahkan sempat tak jadi digelar karena menurut para guru terjadi kelebihan beban (overload) di server pusat.

Sedangkan Lala (15) siswi kelas IX salah satu SMP negeri di Jakarta Timur menyoroti pembekalan di sekolah yang tak seragam.

“Guru yang satu ngajarin cara ngejawab soal seperti ini, guru yang lain caranya lain,” ujarnya. Walhasil, kata dia, tak ada satupun teman seangkatannya yang meraih nilai lebih dari 60 dalam uji coba TKA terkini.

Kegagalan Sistemik

Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menilai hasil TKA 2025, khususnya pada mata pelajaran matematika yang anjlok secara nasional, sebagai bukti kuat adanya kegagalan sistemik dalam pendidikan Indonesia. Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, menegaskan bahwa jebloknya nilai matematika bukan persoalan guru semata.

Menurutnya pemerintah, baik Kementerian Pendidikan maupun kepemimpinan nasional, keliru apabila menyederhanakan masalah menjadi kesalahan guru di ruang kelas.

“Ketika nilai matematika ambruk secara nasional, masalahnya bukan di guru, tetapi di ruang perumusan kebijakan. Ini indikator kegagalan sistem yang dikelola negara,” katanya.

Pernyataan ini sekaligus merespons komentar Menteri Pendidikan dan Presiden Prabowo yang sebelumnya menyinggung cara mengajar guru matematika sebagai salah satu penyebab rendahnya capaian TKA.

JPPI menilai pemerintah abai terhadap sejumlah persoalan mendasar yang berkontribusi terhadap buruknya hasil TKA 2025.

Di antaranya, ketidakadilan struktural terhadap guru, baik antara ASN dan honorer maupun guru negeri dan swasta, yang berdampak pada ketimpangan mutu pembelajaran.

LPTK yang tidak menghasilkan guru dengan kompetensi memadai, tanpa reformasi menyeluruh dari hulu. Program peningkatan kapasitas guru yang tidak berkelanjutan, karena selalu berubah mengikuti pergantian kebijakan.

Menurut Ubaid, kondisi ini membuat kualitas penyiapan guru rapuh sehingga turut mempengaruhi hasil asesmen seperti TKA.

JPPI juga menyoroti kebijakan anggaran yang dinilai tidak berpihak pada peningkatan kualitas pembelajaran.

Mereka menyebut pemotongan porsi anggaran pendidikan dan pengalihan ke program Makan Bergizi (MBG) sebagai keputusan yang kontraproduktif.

“Hasil TKA 2025 adalah alarm keras. Menggeser anggaran dari peningkatan kesejahteraan dan kompetensi guru hanya akan memperburuk kualitas pembelajaran,” kata Ubaid.

Merespons buruknya capaian TKA 2025, JPPI mendesak pemerintah untuk melakukan beberapa pembenahan. Pertama, mengakhiri diskriminasi terhadap guru dan memastikan pemerataan kualitas pendidikan.

Kemudian, melakukan reformasi total LPTK agar menghasilkan calon guru yang lebih siap mengajar.

Selanjutnya menyusun sistem pengembangan kompetensi guru yang berjenjang dan berkelanjutan. Terakhir, mengembalikan porsi anggaran pendidikan minimal 20 persen untuk peningkatan mutu guru.

“Jangan salahkan guru. Benahi sistemnya. Buruknya TKA adalah sinyal bahaya yang tidak boleh diabaikan,” katanya mengakhiri.

Sedangkan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) keberatan soal pengumuman hasil TKA yang dianggap jeblok. FSGI mengaku tidak memiliki akses untuk mendapatkan hasil TKA pada semua mata pelajaran termasuk matematika yang disebutkan oleh Mendikdasmen Abdul Mu’ti jeblok.

Apalagi sesuai dengan pedoman TKA, sebenarnya hasil TKA menurut FSGI akan disampaikan pada Januari 2026.

“Makanya kami heran, kenapa hasilnya disampaikan sekarang, walaupun masih penilaian umum dan tidak seluruh mapel. Kalaupun dikatakan jeblok tentukan harus ada standarnya atau semacam passing grade. Tapi di TKA kan tidak ada passing grade karena TKA hanya dijadikan sebagai validator rapor dalam proses SNBP di perguruan tinggi,” kata Sekjen FSGI Fahriza Marta Tanjung kepada Republika, Rabu (26/11/2025).

FSGI menilai apa yang disampaikan Mendikdasmen soal TKA masih prematur atau belum waktunya untuk disampaikan.

FSGI menduga ada maksud lain di balik alasan Mandikdasmen membocorkan hasil TKA, terutama pada pelajaran matematika.

“Gaya klasik pejabat kita, kalau ada program yang mau disiapkan atau anggaran yang akan dikucurkan maka bicaranya kesenjangan, persoalan, masalah dan kekurangan. Tapi kalau laporan pasti yang disampaikan selalu keberhasilan,” ujar Fahriza.

FSGI juga mengkritisi apa yang disampaikan oleh Mendikdasmen terkait penyebab jebloknya nilai matematika di TKA tidak memiliki landasan jelas. Sebab yang diukur dari TKA ini adalah hasil belajar siswa, bukan penyebab yang mengakibatkan munculnya hasil belajar tersebut.

“Masih dibutuhkan kajian tambahan untuk melihat penyebab jebloknya nilai matematika di TKA,” ujar Fahriza.

Fahriza menilai yang disampaikan Mendikdasmen soal penyebab jebloknya hasil TKA merupakan simplifikasi persoalan dalam dunia pendidikan. Fahriza menyarankan agar Mendikdasmen melakukan kajian lebih lanjut terkait hasil TKA ini.

“Bisa juga disinergikan dengan hasil ANBK, sebagaimana diketahui bahwa alat evaluasi pendidikan kita secara nasional, di samping TKA ada juga ANBK. Apalagi di ANBK ada pengukuran tingkat kemampuan numerasi siswa yang bisa langsung dikonfirmasi dengan hasil matematika di TKA,” ujar Fahriza.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti sebelumnya mengungkapkan, penyebab rendahnya nilai TKA mata pelajaran matematika kemungkinan akibat cara mengajar guru maupun materi buku pelajaran yang kurang tepat. Pernyataan ini kemudian memicu protes dari para guru.

Dalam rapat rapat kerja bersama Komisi X DPR, Rabu ini, Mu’ti menyatakan analisisnya bisa saja keliru.

“Saya bilang mungkin karena bukunya, mungkin karena salah ajarnya. Kita semua melakukan evaluasi saja,” ujarnya di Kompleks Parlemen Senayan.

Ia mengakui, banyak faktor yang menyebabkan rendahnya nilai TKA mata pelajaran matematika namun tak memerincinya.

“Banyak faktor. Nanti kami lihat secara keseluruhan,” kata Mu’ti.

Mendikdasmen dalam rapat di DPR juga memaparkan hasil monitoring TKA yang menemukan beberapa aktivitas pelanggaran, mulai dari live streaming saat pengerjaan hingga aktivitas menjual soal.

“Pelaksanaan tahun ini juga tidak terlepas dari pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan, baik oleh peserta tes maupun pengawas atau teknisi,” kata Mendikdasmen.

Dalam paparannya, pihaknya menemukan sebanyak 4 kasus terkait penggunaan gawai saat pelaksanaan TKA, 8 kasus terkait live streaming pada saat pengerjaan TKA, dan 3 kasus terkait kegiatan menjual soal TKA.

Sementara terkait pelanggaran pembocoran soal TKA melalui media sosial, Mu’ti memaparkan sebanyak 11 kasus terkait usaha pembocoran soal TKA melalui platform Tiktok, 28 kasus terkait usaha pembocoran soal TKA melalui WhatsApp group, dan 1 kasus terkait usaha pembocoran soal TKA melalui platform X.

“Kami akan menindak tegas setiap bentuk pelanggaran sekecil apapun guna menjaga integritas dan keadilan dalam pelaksanaan TKA,” kata Mu’ti.

Ia berharap hasil monitoring dan evaluasi pelaksanaan TKA tahun ini dapat memperbaiki pelaksanaan TKA pada tahun berikutnya sehingga pelaksanaan tes tersebut semakin efektif dan akuntabel.

“Kami terus berupaya secara maksimal untuk menindaklanjuti temuan-temuan tersebut agar pelaksanaan TKA ke depan semakin lancar, efektif, dan akuntabel bagi seluruh peserta di seluruh daerah,” ujarnya.

Sumber: Republika

Artikel terkait lainnya