DEMOCRAZY.ID – Sejumlah gelagat janggal AKBP Basuki di hari tewasnya dosen Untag Semarang, Dwinanda Linchia Levi (35), terungkap.
Rekaman CCTV, keterangan saksi, hingga pengakuan keluarga memperlihatkan tindakan tak biasa sang perwira sebelum korban ditemukan meninggal tanpa busana di sebuah kostel kawasan Gajahmungkur, Semarang.
Diberitakan sebelumnya, AKBP Basuki tinggal bersama dosen Untag Semarang yang ditemukan meninggal dunia tanpa busana di kostel kawasan Gajahmungkut, Kota Semarang pada Senin (17/11/2025).
AKBP Basuki diketahui menjalin hubungan tanpa nikah dengan dosen Levi selama lima tahun.
Berdasarkan rekaman CCTV berikut ini kejanggalan diperlihatkan AKBP Basuki :
5 kali ke luar masuk kamar AKBP Basuki disebut sempat terekam CCTV keluar masuk kamar DLL sebelum dosen muda itu ditemukan meninggal tanpa busana.
Kuasa hukum keluarga korban, Zainal Abidin Petir, menyebut AKBP Basuki terlihat keluar masuk kamar korban lebih dari lima kali sekitar pukul 03.00 WIB.
“Nah, apakah jam itu Doktor Levi sudah meninggal atau dalam kondisi kritis?” kata Zainal, Kamis (27/11/2025).
Zainal mengatakan dalam rekaman CCTV, AKBP Basuki hanya tampak mondar-mandir tanpa melakukan tindakan apa pun, seperti seseorang yang sedang bingung.
Ia juga mempertanyakan mengapa laporan ke polisi baru dilakukan setelah pukul 10.00 WIB.
“Ini yang perlu didalami penyidik, karena sepertinya AKBP B baru lapor polisi di atas jam 10.00 WIB,” ujarnya.
Zainal menegaskan penyidik sebenarnya sudah memegang dua alat bukti yang kuat dalam dugaan pelanggaran pidana yang melibatkan AKBP Basuki.
“Saya mendapat informasi, tayangan CCTV yang menyorot masuk hotel dan lorong lantai dua tempat mereka menginap tidak mati,” katanya.
Sumber yang sama menyebut AKBP Basuki sudah bersama korban sejak Minggu (16/11/2025) dan keduanya tinggal di satu kamar.
Terkuak bahwa AKBP Basuki sempat menghubungi seorang pria bernama Hananto setelah mengetahui dosen Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang, Dwinanda Linchia Levi (35), ditemukan meninggal dunia.
“Iya, AKBP Basuki ketika itu menghubungi Hananto, dia orang yang pertama kali ditelpon oleh yang bersangkutan,” ujar Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Artanto, Selasa (25/11/2025), melansir dari Tribun Jateng.
Usai mendapat telepon dari Basuki, Hananto kemudian dimintai keterangan oleh penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum).
Ia dianggap sebagai sosok yang pertama kali menerima informasi terkait kematian Dosen Levi.
“Iya Hananto ini teman AKBP Basuki, dia bukan polisi, warga sipil biasa. Mereka berteman,” jelas Artanto.
Sejauh ini, sudah empat orang yang diperiksa dalam penyelidikan kasus tersebut.
Keluarga juga menemukan kejanggalan lain.
Basuki diduga mengirim foto jenazah DLL kepada seorang kerabat, namun foto tersebut langsung dihapus setelah terkirim.
Dalam foto tersebut, disebutkan terdapat bercak pada bagian paha dan perut korban.
“Iya bude kami mendapatkan kiriman foto dari nomor asing tapi kemudian dihapus oleh si pengirim. Dalam foto itu simpang siur (diduga ada bercak darah) sehingga menambah kecurigaan,” kata kakak korban, Vian.
Belakangan, keluarga mengetahui bahwa nomor misterius itu diduga merupakan nomor pribadi milik AKBP Basuki.
Karena melihat berbagai kejanggalan, keluarga akhirnya memutuskan untuk melakukan autopsi.
“Kami akhirnya memutuskan autopsi karena merasa ada yang janggal di situ,” kata Vian.
Keluarga juga mempertanyakan lambatnya informasi yang disampaikan pihak kampus mengenai kematian DLL.
Mereka baru menerima kabar sekitar pukul 18.00 WIB di hari yang sama, padahal korban ditemukan meninggal dunia pada waktu subuh.
“Kampus beralasan sedang mencari nomor saya, karena mereka tidak punya nomor kontak keluarga dari Levi (korban DLL),” kaanya.
Selama hidupnya, DLL dikenal ramah namun sangat tertutup mengenai kehidupan pribadi maupun kondisi kesehatannya.
Keluarga mengaku tidak pernah mendapat keluhan terkait kesehatannya.
“Selama ini saya kurang begitu paham soal kondisi kesehatannya karena enggak pernah cerita,” tukasnya.
Kuasa hukum keluarga, Zainal Abidin Petir, menyampaikan bahwa Basuki menunjukkan respons yang tidak biasa di lokasi kejadian.
Ia bahkan sempat meminta penyidik menyerahkan laptop dan ponsel korban, permintaan yang langsung ditolak petugas.
“AKBP B ini juga panik di lokasi kejadian. Kami menduga kepanikan tersebut ada sesuatu yang disembunyikan,” kata Zainal.
Keanehan tidak berhenti di situ.
Zainal mengungkap bahwa Basuki justru memanggil petugas INAFIS dengan panggilan “komandan”, padahal pangkatnya jauh lebih tinggi.
“Dan anehnya dengan petugas INAFIS yang pangkatnya lebih rendah dari AKBP, dia (Basuki) selalu bilang ndan ndan (komandan), artinya ada kepanikan dia dalam keadaan panik dan bingung,” katanya.
Ketika permintaan mengambil laptop ditolak petugas, Basuki kembali berkata,
“Siap ndan, siap ndan.”
Zainal menilai sikap itu menunjukkan kebingungan yang mencolok.
Dirreskrimum Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Dwi Subagio, mengatakan penyidik telah mengamankan sejumlah barang bukti dan menaikkan status kasus ke tahap penyidikan.
“Selasa kemarin kami telah melakukan gelar perkara internal dan kami tingkatkan ke penyidikan,” kata Dwi di Mapolda Jateng, Rabu (26/11/2025).
Sedikitnya, penyidik telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) tiga kali: dua kali di kamar kostel kawasan Gajahmungkur dan sekali di mobil pribadi AKBP Basuki.
“Kami masih menunggu hasil otopsi dari pihak forensik RSUP Kariadi,” ujarnya.
Sumber: Tribun