Bela Jokowi Dituding Cawe-Cawe, Ahmad Ali: Ada Nenek-Nenek Puluhan Tahun Masih Jadi Ketua Partai!

DEMOCRAZY.ID – Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Ahmad Ali heran mengapa Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) diminta publik untuk menyudahi kegiatan politik, sementara ada yang sudah puluhan tahun masih saja menjabati ketua umum parpol.

“Sialnya Pak Jokowi ini gini, dia dihina, dimaki-maki. Tapi ketika dia melawan, dia disuruh, ‘Pak Jokowi harus jadi negarawan’. Terus ketika dia bicara politik, ‘ya sudah waktunya beristirahat’. Loh, ada nenek-nenek yang sudah puluhan tahun jadi ketua partai,” ujar Ali usai memberi arahan dalam Rakorwil PSI Se-Kepulauan Riau (Kepri) di Batam, Kepri, Sabtu (22/11/2025) malam.

Dia tidak menyebut nama nenek-nenek yang dia sindir sudah puluhan tahun menjadi ketua umum (ketum) partai, tetapi tidak kunjung berhenti.

Selain itu, kata dia, ada juga seorang pria yang pernah menjadi Presiden, tetapi masih berpartai hingga lebih dari 20 tahun.

“Ada Bapak Presiden yang sekarang sudah 20 tahun juga tidak disuruh berhenti. Apa sih takutnya Pak Jokowi ini?” sambungnya.

Soal isu ijazah Jokowi

Terkait keaslian ijazah Jokowi yang selama ini dipermasalahkan, Ali menekankan bahwa Jokowi sudah mengikuti kontestasi hingga lima kali.

Dalam setiap kontestasi, menurut Ali, pasti ada masa jeda yang diberikan sebagai ruang untuk masyarakat melakukan sanggahan terhadap setiap calon.

“Sanggahan dua minggu, ada keberatan terhadap dokumen-dokumen pribadi yang di-upload oleh calon presiden, bupati, gubernur. Nah, selama ini kan ternyata tidak,” ucap Ali.

Ali pun meyakini ada yang mengorkestrasi isu ijazah Jokowi palsu.

Apalagi, isu ijazah palsu Jokowi ini masih terus bergulir.

Ali menduga ada pihak yang ingin menjadi cawapres di 2029 mendatang dengan menunggangi kasus ini.

“Seperti Pak Prabowo bilang, ini ada nih yang mengotaki ini, ada yang membiayai. Dan masa iya ada satu isu begitu panjangnya, ya kan? Begitu panjangnya,” imbuhnya.

Sindiran poltisi PDIP

Politikus PDI Perjuangan (PDIP), Mohamad Guntur Romli, menyambut baik pertemuan antara Presiden ke-7 Joko Widodo atau Jokowi dengan Presiden Prabowo Subianto.

“Pertemuan itu menunjukkan kerendahan hati dan keterbukaan Presiden Prabowo yang mau menerima siapa pun dengan segala persoalannya,” kata Guntur kepada Tribunnews.com, Senin (6/10/2025).

Guntur menyampaikan keyakinan bahwa Prabowo akan mampu memimpin pemerintahan secara mandiri tanpa intervensi politik.

“Kami sepenuhnya yakin Presiden Prabowo mampu mengatasi persoalan bangsa ini dengan independensinya tanpa “cawe-cawe” dari pihak manapun,” ujarnya.

Ia mengajak semua pihak untuk menghormati independensi Prabowo sebagai seorang presiden.

“Karena rakyat Indonesia sudah memilih beliau. Maka kita hormati pilihan rakyat dan independensi beliau sebagai presiden,” ucap Guntur.

Guntur menambahkan sebagai partai di luar pemerintahan, PDIP tetap membersamai Prabowo.

“PDIP tetap akan membersamai pemerintahan Presiden Prabowo dengan posisi di luar pemerintahan,” imbuhnya.

Pertemuan kedua tokoh tersebut sebelumnya dibenarkan oleh ajudan Jokowi, Kompol Syarif Muhammad Fitriansyah.

Pertemuan itu berlangsung di kediaman Prabowo di Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (4/10/2025).

Syarif mengatakan pertemuan Jokowi dan Prabowo dilaksanakan secara tertutup.

“Pertemuan berlangsung 4 mata. Hanya Pak Presiden Prabowo dan Pak Jokowi,” kata Syarif, Sabtu (4/10/2025).

Perwira menengah Kepolisian tersebut mengatakan bahwa Jokowi bertemu Prabowo selama hampir dua jam, dari pukul 13.00 WIB sampai pukul 15.00 WIB.

“Pertemuan dimulai pukul 13.00. Hampir 2 jam,” katanya.

Sumber: Kompas

Artikel terkait lainnya