DEMOCRAZY.ID – Perdebatan panjang seputar Kontroversi Keluarbiasaan Dajjal: Hakiki atau Semata-Mata Sihir? masih menjadi bahasan hangat dalam kajian akhir zaman.
Dalam akidah Islam, kemunculan Dajjal bukan sekadar kisah mistis, melainkan bagian dari ujian besar yang Allah SWT tetapkan untuk menguji keimanan manusia.
Mayoritas ulama menyepakati bahwa keajaiban Dajjal bersifat hakiki, bukan ilusi sihir.
Ia mampu menurunkan hujan, menghidupkan orang mati, dan menumbuhkan tanaman—semua terjadi atas izin Allah.
Namun, sebagian kecil kalangan menganggap hal tersebut hanya tipuan, agar tidak tampak menyerupai mukjizat para nabi.
Perbedaan pandangan inilah yang memunculkan Kontroversi Keluarbiasaan Dajjal: Hakiki atau Semata-Mata Sihir?
Dalam pandangan Islam, peristiwa-peristiwa luar biasa yang menyertai Dajjal disebut sebagai istidraj, yakni keistimewaan yang diberikan kepada orang durhaka agar semakin jauh dari kebenaran.
Istidraj berbeda dari mukjizat yang dimiliki para nabi, yang bertujuan menunjukkan kebenaran risalah ilahi.
Nabi Muhammad ﷺ telah memberikan banyak peringatan tentang Dajjal. Dalam hadis disebutkan bahwa fitnah Dajjal adalah yang terbesar sepanjang sejarah manusia. Rasulullah bersabda:
لَا فِتْنَةَ أَعْظَمُ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ
Lā fitnata a‘zama min fitnati ad-Dajjāl
“Tidak ada fitnah yang lebih besar daripada fitnah Dajjal.” (HR. Muslim)
Sebagian ulama seperti Ibnu Katsir dan Al-Qadhi ‘Iyadh menegaskan bahwa seluruh keajaiban Dajjal adalah hakiki, bukan sihir.
Mereka menilai kekuatan itu sebagai bagian dari sunnatullah yang berlaku untuk menguji umat manusia di akhir zaman.
Al-Qadhi ‘Iyadh menyatakan bahwa Dajjal benar-benar dapat menurunkan hujan dan menumbuhkan tanaman atas izin Allah.
Ia bukan nabi, melainkan manusia yang diberi kemampuan luar biasa untuk menyesatkan mereka yang lemah imannya.
Sebaliknya, Abu ‘Ali al-Juba’i dari kalangan Mu’tazilah berpendapat bahwa keistimewaan Dajjal hanyalah khayalan.
Ia menolak menganggap kemampuan tersebut nyata agar tidak menyerupai mukjizat para nabi. Pandangan ini kemudian menuai bantahan keras dari banyak ulama.
Syaikh Rasyid Ridha dalam tafsir Al-Manar juga menolak keluarbiasaan Dajjal secara literal.
Ia menilai bahwa hal itu bertentangan dengan sunnatullah yang tetap, dan hadis-hadis tentang keajaiban Dajjal dianggapnya saling bertentangan.
Para ulama hadis menilai pendapat seperti Rasyid Ridha tidak berdasar kuat. Mereka menyebut bahwa semua hadis tentang Dajjal sahih dan tidak saling bertentangan, terutama jika dipahami dalam konteks ujian akhir zaman.
(Salah satu hadis yang menjadi titik perdebatan adalah sabda Nabi ﷺ kepada Al-Mughirah bin Syu‘bah:
بَلْ هُوَ أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ ذَلِكَ
Bal huwa ahwanu ‘alallāhi min dzālik
“Bahkan dia lebih mudah bagi Allah daripada menjadikannya sebagai bukti kebenaran.” (HR. Bukhari & Muslim)
Ulama menjelaskan, maksud hadis tersebut bukanlah menolak kemampuan Dajjal, melainkan menegaskan bahwa fitnahnya tidak sampai menandingi mukjizat para nabi.
Keajaiban Dajjal tetap terjadi, namun fungsinya hanya sebagai ujian, bukan bukti kebenaran.
Menurut Ibnu Katsir, jika Allah mengizinkan Dajjal menunjukkan keajaiban, itu bukan berarti Allah meridhainya.
Sebab, Allah menurunkan ujian sesuai kadar keimanan hamba-hamba-Nya.
Banyak hadis menggambarkan bahwa Dajjal mampu memerintahkan langit menurunkan hujan, bumi menumbuhkan tanaman, dan menyimpan harta bumi.
Namun semua itu hanya berlaku sementara hingga Allah membatalkan kekuatannya menjelang kemunculan Nabi Isa AS.
Dajjal juga dikisahkan membawa surga dan neraka, padahal “surganya” adalah neraka dan “nerakanya” adalah surga di sisi Allah.
Hadis ini menjadi simbol bahwa fitnah Dajjal dapat membolak-balikkan persepsi manusia.
Orang beriman yang kuat tidak akan tertipu olehnya. Bahkan disebutkan bahwa seseorang yang dibunuh dan dihidupkan kembali oleh Dajjal akan berkata:
“Aku semakin yakin bahwa engkau adalah Dajjal yang dusta.”
Karena itu, Rasulullah ﷺ menganjurkan agar umatnya berlindung dari fitnah Dajjal dalam setiap sholat dengan membaca doa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
Allāhumma innī a‘ūdzu bika min fitnati al-Masīhi ad-Dajjāl“
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.” (HR. Muslim)
Beberapa kalangan modern mencoba menjelaskan fenomena Dajjal secara ilmiah, misalnya dengan teori teknologi ilusi atau hipnotik massal.
Namun mayoritas ulama menolak pendekatan ini karena hadis menjelaskan fenomena tersebut secara nyata dan fisik.
Ibnul ‘Arabi menegaskan bahwa seluruh fenomena luar biasa Dajjal merupakan cobaan yang nyata.
Ia tidak hanya berpengaruh secara spiritual, tetapi juga fisik dan sosial.
Menurutnya, Allah menurunkan Dajjal agar manusia dapat membedakan kebenaran sejati dari kepalsuan.
Mereka yang hanya beriman secara lemah akan mudah tergoda oleh janji duniawi Dajjal.
Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebut bahwa dalam tubuh Dajjal sendiri terdapat bukti kebohongan yang tak bisa disembunyikan, yakni kebutaannya dan tulisan “kafir” di antara kedua matanya yang bisa dibaca oleh semua orang beriman.
Sumber: Liputan6