DEMOCRAZY.ID – Pedihnya siksa neraka merupakan salah satu ancaman yang sangat berat dalam ajaran Islam yang bertujuan untuk memberi peringatan agar manusia menjauhi perbuatan dosa dan berbuat kebajikan.
Ada tingkatan neraka, mulai dari yang ringan hingga berat.
Kerapkali muncul pertanyaan, penghuni neraka paling ringan azabnya: Siapakah mereka dan kenapa?
Dalam Buku Dahsyatnya Neraka, Ibnu Rajab Al-Hambali, penerjemah Ba’asyir Muhammad Uyun digambarkan bahwa bagi kaum kafir dan orang-orang yang selalu berbuat dosa dan kemaksiatan, siksa neraka telah menantinya. Siksa Neraka tidak seorang makhluk pun selamat darinya.
Para ulama menjelaskan bahwa siksa neraka merupakan pembalasan setimpal bagi dosa-dosa besar yang dilakukan manusia tanpa bertaubat.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menegaskan bahwa siksaan neraka tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga psikologis, berupa penyesalan dan kepedihan akibat perbuatan dosa yang telah dilakukan.
Merujuk buku Surga yang Dirindukan, Neraka yang Ditakutkan karya Abu Utsman Kharisman, neraka bertingkat-tingkat sebagaimana Surga.
Namun, tingkatan Surga menaik, dalam bahasa Arab disebut darojaat. Sedangkan tingkatan Neraka menurun, disebut darokaat.
Di Neraka semakin rendah tingkatannya semakin berat penderitaan yang dirasakan. Karena itu, penghuni Neraka paling ringan adalah yang berada di tingkatan paling atas.
Dalam berbagai riwayat hadis, penghuni Neraka yang paling ringan siksaannya adalah Abu Thalib. Ia mendapat syafaat dari Nabi karena banyak membela Nabi dari berbagai tindakan permusuhan orang-orang musyrikin Quraisy.
عَنْ عَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ نَفَعْتَ أَبَا طَالِبٍ بِشَيْءٍ فَإِنَّهُ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَغْضَبُ لَكَ قَالَ نَعَمْ هُوَ فِي ضَحْضَاحٍ مِنْ نَارٍ لَوْلَا أَنَا لَكَانَ فِي الدَّرَكِ الْأَسْفَلِ مِنْ النَّارِ
Dari Abbas bin Abdil Muththolib beliau berkata: Wahai Rasulullah, apakah engkau bisa memberi manfaat kepada Abu Tholib dengan sesuatu. Karena dia menjagamu dan marah (kepada pihak yang memusuhimu). Nabi menyatakan: Ya. Abu Tholib berada di permukaan dangkal di anNaar, kalaulah tidak (dengan sebab) aku niscaya ia berada di dasar paling bawah anNaar (Neraka). (H.R al-Bukhari dan Muslim).
Kata “Dhadhdhah” menurut para mufasir dan ulama berarti siksa yang ringan, tempat yang rendah dalam neraka, yang berbeda dengan tingkat paling bawah neraka yang sangat berat. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan, hadis ini menunjukkan rahmat Allah yang luas, namun keimanan tetap menjadi syarat utama memperoleh surga.
Meski Dikatakan paling ringan, neraka yang dihuni Abi Thalib tidaklah sebagaimana pandangan ringan di dunia. Rasulullah SAW dalam hadis menjelaskan, bahwa siksa paling ringan tersebut adalah diletakannya bara api yang karenanya kepalanya mendidih.
Hal ini dijelaskan dalam hadis riwayat Ibnu Abbas:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ أَهْوَنُ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا أَبُو طَالِبٍ وَهُوَ مُنْتَعِلٌ بِنَعْلَيْنِ يَغْلِى مِنْهُمَا دِمَاغُهُ
Artinya: dari Ibnu Abbas –semoga Allah meridhainya- bahwa Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya penduduk Neraka yang paling ringan siksaannya adalah Abu Tholib yang memakai dua sandal sehingga otaknya mendidih (H.R Muslim)
Para ulama menafsirkan, ‘memakai sandal di neraka sehingga otaknya mendidih’ adalah gambaran kerasnya azab neraka yang dialami Abu Thalib meski termasuk dalam golongan siksa paling ringan. Ini menandakan bahwa azab neraka tetap nyata dan menyakitkan, namun lebih ringan dibanding yang lain.
Ibn Hajar al-Asqalani menafsirkan bahwa posisi Abu Thalib di neraka adalah bentuk siksaan yang berat, namun tetap lebih ringan daripada bagian neraka yang paling dalam, sebagai bentuk pengakuan atas jasanya melindungi Rasulullah, meskipun tidak meraih keselamatan akhir di surga.
Menurut Abu Utsman Kharisman dalam bukunya meskipun mendapat siksaan paling ringan, namun orang tersebut merasa dia adalah yang paling menderita di Neraka.
Dalam hadits dinyatakan: “Sesungguhnya penduduk Neraka yang paling ringan siksanya adalah seseorang yang memakai dua sandal dan dua tali sandal dari Neraka yang dengan itu otaknya mendidih, sebagaimana mendidihnya periuk. Ia menyangka bahwa ia adalah orang yang paling keras siksanya padahal ia adalah orang yang paling ringan siksanya,”. (H.R Muslim dari an-Nu’man bin Basyir)
Sungguh ini adalah siksaan pula secara psikis. Kalau seandainya ia melihat ada yang sama dengan dia dalam penderitaan, atau bahkan ada yang lebih menderita dibandingkan dia, perasaan ini akan membuat siksaan yang diterima terasa lebih ringan. Namun perasaan semacam itu tidak ada di Neraka.
Kalau di dunia, saat seseorang yang mengalami siksaan menyadari bahwa ia tidak sendiri dalam penderitaan itu, hal itu akan membuat penderitaan yang dirasakan terasa lebih ringan. Namun, di Neraka hal itu tidak memberikan pengaruh.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan tidaklah akan bermanfaat bagi kalian pada hari tersebut jika kalian berbuat dzhalim meski kalian bersama-sama mendapatkan adzab (Q.S az-Zukhruf ayat 39)(faidah disarikan dari penjelasan Syaikh Ibn Utsaimin dalam Syarh Shahih Muslim (1/458)).
Sumber: Liputan6