DEMOCRAZY.ID – Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya, dalam Rakor Pengendalian Inflasi Daerah pada Senin (17/11/2025), menyampaikan bahwa inflasi Indonesia pada Oktober 2025 tercatat 2.86% secara tahunan.
Posisi ini menempatkan Indonesia di peringkat 88 dari 186 negara, serta peringkat 8 di kawasan ASEAN.
Menurut Bima Arya, kondisi tersebut tetap tidak terlepas dari dinamika global.
Jika dibandingkan dengan situasi global, inflasi Indonesia masih tergolong ringan.
Banyak negara saat ini berada dalam fase inflasi yang jauh lebih serius akibat tekanan fiskal, nilai tukar yang melemah, serta struktur ekonomi yang rentan.
Beberapa bahkan mencatat inflasi dua hingga tiga digit.
Dengan melihat perbandingan tersebut, lantas, negara mana saja yang mengalami inflasi tertinggi di dunia?
Berdasarkan tinjauan Nairametrics Research Team terhadap data terbaru, yang sebagian besar diperoleh dari kantor statistik masing-masing negara, beberapa negara tercatat memiliki tingkat inflasi yang sangat tinggi.
Kondisi ini mencerminkan ketidakseimbangan ekonomi makro yang berkelanjutan serta tantangan dalam tata kelola.
Di antara negara-negara tersebut, Sudan Selatan, Sudan, Iran, Burundi, Turki, Zimbabwe, Haiti, Argentina, Malawi, dan Angola menempati posisi dengan inflasi tertinggi.
Tingginya angka inflasi ini menandakan tekanan harga yang ekstrem dan berbagai kesulitan ekonomi serius yang dialami oleh negara-negara tersebut.
Berikut adalah daftar sepuluh negara dengan tingkat inflasi tertinggi di dunia menurut data Nairametrics:
Sudan Selatan mencatat inflasi sebesar 107.9% pada September 2025, menjadikannya sebagai negara dengan inflasi tertinggi dalam daftar ini.
Kondisi tersebut terutama dipicu oleh pelemahan tajam pound Sudan Selatan (£SSP), yang membuat barang impor, mulai dari pangan hingga bahan bakar, menjadi sangat mahal.
Ketergantungan besar negara ini pada pendapatan minyak membuat stabilitas ekonomi mudah terguncang ketika harga minyak turun atau produksi terganggu.
Selain itu, keterbatasan infrastruktur dan seringnya gangguan transportasi menyebabkan pasokan barang tidak lancar, sehingga kenaikan harga semakin sulit dikendalikan.
Inflasi Sudan turun dari 156.3% di bulan April 2025 menjadi 83.47% per September 2025, namun angka tersebut tetap mencerminkan tekanan ekonomi yang sangat berat.
Lonjakan harga di Sudan disebabkan oleh pertumbuhan uang beredar yang berlebihan, depresiasi nilai tukar yang terus-menerus, dan disrupsi struktural di pasar pangan dan energi.
Konflik berkepanjangan dan lemahnya koordinasi kebijakan membuat kemampuan produksi dalam negeri merosot tajam.
Kombinasi antara pasokan barang yang terbatas dan nilai tukar yang lemah membuat harga sulit dikendalikan.
Sebagai salah satu negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia mencapai 208.19 miliar barel, Iran mencatat inflasi sebesar 38.9% pada Oktober 2025, naik dari bulan sebelumnya.
Tekanan harga terutama disebabkan oleh lemahnya rial (IRR), defisit fiskal yang membesar, serta dampak sanksi internasional yang membatasi akses negara terhadap cadangan valuta asing.
Kondisi ini membuat biaya impor di Iran meningkat, sehingga barang-barang konsumsi menjadi semakin mahal.
Selain itu, kebijakan moneter yang kurang independen dan praktik pembiayaan defisit melalui pencetakan uang memperburuk inflasi.
Inflasi sebesar 36.9% di Burundi sebagian besar berasal dari tingginya harga pangan dan transportasi.
Negara ini memiliki struktur ekonomi yang sangat bergantung pada impor, sementara nilai tukar yang terus melemah membuat harga barang semakin mahal.
Keterbatasan infrastruktur dan produksi pertanian yang terpengaruh cuaca tak menentu membuat pasokan pangan tidak stabil.
Sebagai negara berpenghasilan rendah, ruang fiskal dan moneter Burundi sangat terbatas, sehingga respons kebijakan sulit dilakukan.
Turki mencatat inflasi sebesar 33.29% pada September 2025, yang mencerminkan dampak berkepanjangan dari kebijakan moneter longgar di tahun-tahun sebelumnya.
Depresiasi tajam lira (TRY) membuat impor energi dan pangan menjadi lebih mahal, sehingga mendorong harga-harga domestik naik.
Selain itu, pertumbuhan konsumsi yang didukung ekspansi kredit dan belanja pemerintah turut menambah tekanan inflasi.
Zimbabwe mengalami penurunan inflasi tajam dari 82.7% di September menjadi 32.7% pada Oktober 2025.
Meskipun angka tersebut terlihat membaik, kondisi ekonomi di Zimbabwe masih rapuh karena kepercayaan publik terhadap mata uang Zimbabwe yang baru, yaitu Zimbabwe Gold (ZWG), belum sepenuhnya pulih.
Negara ini telah lama menghadapi masalah inflasi ekstrem akibat ketidakseimbangan moneter dan lemahnya kapasitas produksi.
Ketergantungan tinggi pada impor juga menciptakan tekanan harga yang besar ketika nilai tukar melemah.
Inflasi Haiti sebesar 31,9% mencerminkan dampak kombinasi antara instabilitas politik, krisis keamanan, dan lemahnya infrastruktur ekonomi.
Gourde (HTG) terus terdepresiasi, sehingga biaya impor, khususnya pangan dan bahan bakar, meningkat tajam.
Karena produksi lokal terbatas dan distribusi sering terganggu, harga barang di Haiti sangat mudah naik meskipun tekanan global tidak terlalu besar.
Stabilitas jangka panjang membutuhkan perbaikan kondisi keamanan, penguatan produksi pangan lokal, serta investasi pada infrastruktur logistik agar pasokan barang lebih terjamin.
Argentina mencatat inflasi 31.8% pada September 2025, angka yang memang lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya tetapi masih menunjukkan masalah struktural yang belum terselesaikan.
Negara ini menghadapi defisit fiskal besar, nilai tukar peso yang terus melemah, dan ekspektasi inflasi yang sulit ditekan.
Ketergantungan pemerintah pada pembiayaan dari bank sentral selama bertahun-tahun menciptakan ekspansi moneter berlebihan yang memicu kenaikan harga.
Untuk keluar dari pola inflasi kronis, Argentina membutuhkan kebijakan fiskal yang lebih disiplin, bank sentral yang lebih independen, serta strategi nilai tukar yang lebih stabil.
Inflasi Malawi naik menjadi 28.7% pada September 2025, terutama karena kenaikan harga pangan dan energi.
Negara ini sangat bergantung pada impor, sehingga setiap pelemahan kwacha berdampak langsung pada harga domestik.
Tingginya biaya logistik dan gangguan rantai pasokan semakin memperburuk situasi.
Selain itu, produktivitas pertanian masih rendah, sehingga kebutuhan pangan sering kali bergantung pada impor.
Angola mencatat inflasi 18.2% pada September 2025, menunjukkan tren penurunan dari angka tinggi pada tahun sebelumnya.
Stabilitas nilai tukar kwanza (AOA) dan kebijakan moneter yang lebih ketat membantu meredam inflasi, terutama pada barang-barang impor, seperti pangan dan bahan bakar.
Meskipun demikian, ketergantungan Angola pada sektor minyak membuat perekonomiannya sensitif terhadap fluktuasi harga global.
Dari 10 negara dengan inflasi tertinggi di atas, bagaimana dengan Indonesia?
Berikut pergerakan inflasi Indonesia sepanjang tahun 2025 berdasarkan data dari Bank Indonesia yang diambil pada 18 November 2025:
Dari data ini terlihat bahwa inflasi Indonesia mengalami fluktuasi hingga Oktober 2025.
Terjadi deflasi ringan pada Februari, diikuti kenaikan bertahap hingga mencapai puncak di Oktober, menunjukkan tekanan harga yang meningkat namun masih relatif terkendali dibanding beberapa negara dengan inflasi tertinggi.
Sumber: Inilah