A’raf Tempat Antara Surga dan Neraka, Karakteristik dan Nasib Para Penghuninya

DEMOCRAZY.ID – Dalam khazanah Islam, paling populer adalah surga dan neraka.

Surga adalah destinasi bagi orang beriman, sedangkan neraka adalah tempat akhir untuk kafir dan pendosa.

Sangat jarang dibahas mengenai A’raf tempat antara surga dan neraka.

Para ulama menjelaskan, A’raf adalah tempat yang terletak di antara surga dan neraka, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-A’raf (QS 7:46).

Dalam tafsir ulama klasik seperti Ibnu Katsir dan Imam Qurtubi, A’raf digambarkan sebagai tempat tinggi yang memisahkan kedua alam akhirat tersebut, di mana penghuni A’raf dapat melihat keadaan penghuni surga dan neraka.

Seringkali muncul pertanyaan, lanjutan, siapa penghuni A’raf, bagaimana keadaan di dalamnya, hingga bagaimana nasib akhir para penghuni A’raf. Untuk itu, mari simak ulasan berikut ini.

Pengertian A’raf

Merujuk Jurnal berjudul Ashabul A’raf Menurut Imam Qurthubi (560-671 H) dalam Tafsir Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur’an karya Maharani, Prof. Dr. H Ahmad Zuhri, M.A dkk pengertian A’raf (bahasa Arab: الأعراف) adalah sebuah tempat yang terletak di antara penghuni surga dan neraka, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-A’raf (QS 7:46).

Secara bahasa, A’raf (الأعراف) adalah bentuk jamak dari kata “Al-‘Urf” (العرف) yang berarti “sesuatu yang tinggi” atau “benteng yang tinggi”.

Nama ini secara gamblang menggambarkan sifat fisik dari tempat ini, yaitu sebuah tembok atau dinding tinggi yang memisahkan dua alam.

Dalam kosmologi Islam, A’raf bukanlah Surga dan juga bukan Neraka, melainkan sebuah dimensi atau wilayah pemisah yang memiliki karakteristik dan penghuni tersendiri.

Para ulama sendiri menafsirkan Al’Araf dengan pengertian sama, meski terdapat perbedaan dalam pilihan kosakatanya: Imam Ath-Thabari dalam Tafsir Ath-Thabari menjelaskan A’raf adalah tembok yang memiliki tempat tinggi, seperti jengger ayam.

Imam Qurtubi dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an menjelkaskan, A’raf adalah tembok pembatas antara Surga dan Neraka, bentuknya seperti pagar (kandang) ayam.

Dalil Keberadaan A’raf

Penjelasan mengenai Al-Araf secara umum termaktub dalam surat Al-A’raf ayat 46-49:

وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّا بِسِيمَاهُمْ وَنَادَوْا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ ۚ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ. وَإِذْ أُدْلِجَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي النَّارِ فَقَالُوا يَا لَيْتَنَا نُرَدُّ وَلَمْ نَكُ مِنَ الْمُجْرِمِينَ. وَقَالَ الَّذِينَ عَلِيَ الْأَعْرَافِ لِلذَّنِ الَّذِينَ عَرَفُوْا بِسِيمَاهُمْ أَلَا نَخْتَبِرَنَّكُمْ بِمَا كُنتُمْ تَكْتُنُونَ. وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا فَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ

Artinya: “Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A’raf itu orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga: “Salaamun ‘alaikum”. Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).

Dan ingatlah mereka dialihkan ke Arah penghuni neraka, mereka berkata: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang-orang yang zalim itu”.

Dan ingatlah mereka dialihkan ke Arah penghuni neraka, mereka berkata: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang-orang yang zalim itu”.

Dan orang-orang yang di atas berbicara tentang orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka kenal dengan tanda-tandanya dengan mengatakan: “Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang kamu bisa sombongkan itu, beri tahu bermanfaat kepadamu”.

Orang-orang di atas A’raf bertanya kepada penghuni neraka, “Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?”. (Kepada orang mukmin yang dikonfirmasi): “Masuklah ke surga, tidak ada yang menentangmu dan tidak (kamu) kamu bersedih hati”. (QS: al-A’raf ayat 46-49).

Karakteristik A’raf

Terkait karakteristik atau sifat A’raf, dalam Tafsir Al-Qur’an al-Adzim, Ibnu Katsir menjelaskan A’raf berada di tempat yang tinggi, memisahkan penghuni surga dan neraka. Posisi ini memungkinkan penghuni A’raf untuk melihat keadaan kedua kelompok tersebut.

A’raf juga merupakan pemisah antara Surga dan Neraka. A’raf berfungsi sebagai penghalang atau sekat antara surga dan neraka, sebagaimana dijelaskan dalam ayat di atas.

Penghuni A’raf dapat mengenali penghuni surga dan neraka melalui tanda-tanda khusus yang diberikan oleh Allah.

Mereka mengenali penghuni surga dengan wajah yang berseri-seri dan penghuni neraka dengan wajah yang muram.

Merujuk Jurnal Surga Dan Neraka: Kekekalan Umat Manusia Di Akhirat Dalam Perspektif Al-Qur’an karya Muhammad Saekul Mujahidin yang menjelaskan bahwa surga dan neraka kekal, maka A’raf adalah tempat sementara.

Siapa Penghuni A’raf?

Mengutip Jurnal Karakteristik Ashabul A’arf Perspektif Tafsir Ibnu Katsir oleh Asmuni, mayoritas ulama tafsir berpendapat bahwa penghuni A’raf adalah orang-orang yang amal kebaikan dan keburukannya seimbang.

Mereka tidak dapat masuk surga karena dosa-dosanya, namun juga tidak masuk neraka karena amal kebaikannya.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa mereka diselamatkan oleh kebaikan-kebaikannya dari neraka tetapi terhalang masuk surga karena dosa-dosanya.

Sementara, Imam Qurtubi dalam Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur’an juga menyatakan hal serupa, bahwa mereka adalah orang-orang yang amalnya seimbang antara baik dan buruk.

Mengutip Jurnal Ashabul A’raf Menurut Imam Qurthubi (560-671 H) dalam Tafsir Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur’an karya Maharani, dkk, Imam Qurtubi mengutip pendapat Mujahid: “Ashabul A’raf adalah orang-orang yang ahli fikih, saleh, dan ulama”, Al-Qusyairi: “Ashabul A’raf adalah para pemimpin kaum muslimin dan syuhada, Al-Zujaj: “Ashabul A’raf adalah kaum para nabi.

Golongan lainnya adalah, anak-anak orang kafir yang meninggal sebelum baligh, orang yang syahid di jalan Allah tetapi durhaka kepada orang tua, Orang yang memiliki dosa kecil yang menghalangi mereka masuk Surga.

Nasib Ashabul A’raf

Merujuk Jurnal Surga Dan Neraka: Kekekalan Umat Manusia Di Akhirat Dalam Perspektif Al-Qur`Ankarya Muhammad Saekul Mujahidin, neraka dan surga bersifat abadi. Kondisi ini berbeda dengan A’raf dan penghuninya.

Meskipun berada di A’raf, nasib penghuni tempat ini pada akhirnya adalah masuk surga. Allah berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 49:

وَفَتَحَتْ أَبْوَابَهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ ۚ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ (QS 7:49)

Artinya: “Dan pintu-pintu surga dibuka untuk mereka, dan penjaga-penjaga surga berkata kepada mereka: ‘Selamat sejahtera atas kamu, masuklah ke dalamnya, kekal selama-lamanya.'” (QS. Al-A’raf: 49).

Dengan demikian, meskipun mereka berada di A’raf untuk sementara waktu, pada akhirnya mereka akan memasuki surga tanpa rasa takut dan tanpa kesedihan.

Imam Ibnu Katsir berkata “Mereka adalah golongan terakhir yang masuk Surga”.

Sumber: Liputan6

Artikel terkait lainnya