Apakah Penghuni Surga Bisa Melihat Neraka? Simak Penjelasannya!

DEMOCRAZY.ID – Pertanyaan apakah penghuni surga melihat neraka kerapkali menjadi perbincangan menarik di antara pemikir, atau bahkan dalam tongkrongan di warung kopi.

Hal ini berangkat dari keyakinan Islam bahwa surga dan neraka merupakan dua entitas yang pasti keberadaannya.

Deddy Ilyas, dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam IAIN Raden Fatah Palembang, dalam jurnalnya berjudul Antara Surga dan Neraka: Menanti Kehidupan nan Kekal Bermula menjelaskan, perbincangan itu terutama muncul dalam memahami hakikat keberadaan surga dan neraka, kekekalan keduanya, serta kemungkinan interaksi antara keduanya.

Keragaman pandangan ini lahir dari perbedaan paham di tengah ulama dan pemikir Islam mengenai hakikat, kekekalan, serta hubungan antara keduanya. Dalam hal ini, Deddy menegaskan bahwa surga dan neraka memiliki kedua aspek yakni jasmani dan rohani.

“Ini menunjukkan bahwa keduanya menyediakan balasan penderitaan dan kenikmatan kepada jasmani dan rohani manusia,” tulisnya.

Apakah Penghuni Surga Bisa Melihat Neraka?

Menjawab kemungkinan apakah penghuni surga dapat melihat neraka, mengacu pada istilah Qur’ani yaum al-tanād (يَوْمَ التَّنَادِ) atau hari saling panggil-memanggil, sebagaimana disebut dalam QS. Ghafir ayat 32:

وَيَا قَوْمِ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ يَوْمَ التَّنَادِّ
Artinya: “Dan wahai kaumku! Sesungguhnya aku khawatir atasmu akan datangnya hari saling memanggil (hari kiamat).” (QS. Ghafir ayat 32).

Yaum al-tanad adalah hari di mana manusia dipanggil namanya untuk hisab dan menerima ganjaran, juga hari di mana saling panggil-memanggil antara ahli surga dan neraka.

Dalam Tafsir Al-Tabari, Imam Al-Tabari menjelaskan bahwa kata يَوْمَ التَّنَادِّ (yaum at-tanād) berasal dari kata nida’ (نِداء) yang berarti seruan atau panggilan.

Menurutnya, pada hari kiamat, manusia akan saling memanggil dalam berbagai keadaan — penghuni surga memanggil penghuni neraka, malaikat menyeru kepada manusia, dan para pendosa menjerit memohon pertolongan.

“Dinamakan yaum at-tanād karena pada hari itu manusia saling menyeru, malaikat menyeru, dan para penghuni surga menyeru penghuni neraka.” (Tafsir al-Tabari, Juz 21, hlm. 404).

Dengan demikian, Al-Tabari menegaskan bahwa terjadi komunikasi nyata antara penghuni surga dan neraka, sebagaimana disebut pula dalam QS. Al-A‘raf: 44–50, ketika penghuni surga memanggil penghuni neraka untuk mengingatkan janji Allah.

Ayat ini mengandung indikasi teologis kuat bahwa penghuni surga dapat menyaksikan kondisi penghuni neraka. Interaksi itu bukan semata simbol, tetapi merupakan manifestasi dari keadilan dan kebesaran Allah yang menampakkan akibat dari amal setiap manusia.

Apakah Penghuni Surga Takut Melihat Neraka?

Pertanyaan yang muncul berikutnya adalah, respons penghuni surga saat melihat neraka atau penghuni neraka yang disiksa, apa mereka takut?

Syamsul Yakin Dosen Magister KPI FIDIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam artikelnya yang berjudul Kesibukan Penghuni Surga menjelaskan bahwa keseharian penghuni surga adalah bersenang-senang. Mereka jauh dari susah dan takut.

Hal ini bisa dilihat dalam Surat Yasin ayat 55-56:

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan pasangan-pasangan mereka berada dalam tempat yang teduh, bersandar di atas dipan-dipan” (QS. Yasin/36: 55-56).

Yakin mengutip pendapat Syaikh Hamami Zadah dalam Tafsir Surah Yasin, kesibukan penghuni surga itu beraneka rupa.

Pertama, mereka tidak lagi peduli dengan penghuni neraka dan segala siksa yang ada yang ada di sana.

Kesibukan dalam konteks ini berarti para penghuni surga lupa terhadap berbagai siksa yang dialami oleh penghuni neraka.

Dengan demikian, para penghuni surga tidak merasa takut melihat keberadaan penghuni neraka.

“Bagi Syaikh Hamami Zadah sendiri, penghuni surga yang memiliki sanak keluarga di neraka, maka dibuat sedemikian rupa sehingga mereka melupakannya. Tujukan agar penghuni surga tidak resah melihat keadaan mereka,” demikian dikutip dari uinjkt.ac.id.

Penghuni Surga dan Neraka Bahkan Bercakap

Allah swt. berfirman di dalam surah Al-A’raf ayat 44

وَنَادَىٰ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابَ النَّارِ أَنْ قَدْ وَجَدْنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقًّا فَهَلْ وَجَدْتُمْ مَا وَعَدَ رَبُّكُمْ حَقًّا ۖ قَالُوا نَعَمْ ۚ فَأَذَّنَ مُؤَذِّنٌ بَيْنَهُمْ أَنْ لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ
Artinya: Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada Penghuni-penghuni neraka (dengan mengatakan): “Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Tuhan kami menjanjikannya kepada kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Tuhan kamu menjanjikannya (kepadamu)?” Mereka (penduduk neraka) menjawab: “Betul”. Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu: “Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim.”

Berdasarkan ayat tersebut, maka penghuni surga bisa bercakap-cakap dengan penghuni neraka.

Imam Al-Ṭabari menjelaskan bahwa ayat ini terjadi setelah semua manusia menerima balasan masing-masing.

Penduduk surga menyeru penduduk neraka dari tempat tinggi yang dapat memandang mereka, lalu mereka berkata: “‘Kami telah melihat janji Tuhan kami benar-benar nyata, apakah kalian juga?’” (Tafsir al-Ṭabari, Juz 9, hlm. 119)

Menurut Al-Ṭabari, ini adalah bentuk penghinaan lembut terhadap penghuni neraka, sekaligus penghiburan bagi penghuni surga bahwa janji Allah kepada mereka benar adanya.

Sementara, dalam Tafsir Ibn Katsir, Ibnu Katsir menegaskan bahwa dialog ini menunjukkan kemampuan penghuni surga untuk melihat dan berinteraksi langsung dengan penghuni neraka.

“Mereka (penghuni surga) berkata dengan rasa bahagia dan penuh kemenangan, ‘Kami telah mendapatkan janji Allah kepada kami benar,’ yakni berupa surga dan segala kenikmatannya. Dan mereka bertanya kepada penghuni neraka sebagai bentuk celaan: ‘Apakah kalian juga mendapatkan janji Tuhanmu benar?’ yakni azab dan kehinaan.” (Tafsir Ibn Kathir, Juz 3, hlm. 471). Ketika penghuni neraka menjawab ‘Na‘am’ (ya), itu adalah pengakuan pahit atas kebohongan dan kezaliman yang pernah mereka lakukan di dunia.

Penghuni Surga Bersyukur

Merujuk artikel berjudul Penghuni Surga Melihat Siksa Penghuni Neraka, Semakin Bersyukur karya Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK, salah satu bentuk kenikmatan yang akan dirasakan oleh penduduk surga adalah kebahagiaan yang besar telah terhindar dari neraka.

Bagi para penduduk neraka yang sedang menjalani azab demi azab, penderitaan demi penderitaan, tentu mereka akan semakin tersiksa ketika melihat orang lain justru dalam kenikmatan.

Mereka melihat penghuni surga sedang makan dan minum, sementara mereka kelaparan dan kehausan. Itulah siksaan batin penduduk neraka.

Sebaliknya, penduduk surga akan semakin bersyukur menyaksikan itu karena mereka telah dihindarkan dari azab yang begitu pedih di neraka lalu diberikan kenikmatan yang berlimpah di surga.

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْٓ اَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَۗ اِنَّ رَبَّنَا لَغَفُوْرٌ شَكُوْرٌۙ
Artinya: Mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS Fathir: 34).

Prof M Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa kalimat “adz-haba ‘annā al-ḥazan” mengandung rasa syukur eksistensial — bukan hanya karena dihindarkan dari azab, tetapi karena kini manusia merasakan makna hidup yang sesungguhnya.

“Kesedihan yang hilang bukan hanya kesedihan dunia, tetapi juga ketakutan batin terhadap kemungkinan buruk di akhirat. Maka rasa syukur mereka menjadi ungkapan totalitas kebahagiaan dan kepuasan batin.” (Tafsir al-Mishbah, Vol. 10, hlm. 78).

Apa Penghuni Neraka Melihat dan Mendengar Penghuni Surga?

Terkadang Allah terkadang memberikan mereka para penghuni neraka kesempatan dapat mendengar dan menjawab seruan dari para penghuni surga.

Dan kadang mereka berada di dalam peti yang terbuat dari api.

Hal ini sebagaimana riwayat imam Al-Baihaqi yang menukil perkataan Ibnu Mas’ud sebagai berikut, “

Ketika orang itu kekal di dalam neraka, maka mereka ditempatkan di dalam peti dari api, yang di dalamnya terdapat paku-paku.

Kemudian peti-peti itu ditempatkan lagi di dalam peti-peti dari neraka. Kemudian peti-peti tersebut ditempatkan lagi di dalam peti-peti dari api.

Lalu, mereka dilemparkan ke dalam paling bawahnya neraka jahim. Maka, mereka pun tidak melihat seorang pun yang diazab di dalam neraka kecuali mereka.

Lalu Ibnu Mas’ud membaca firman Allah swt.

لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَهُمْ فِيهَا لَا يَسْمَعُونَ
Artinya: Mereka merintih di dalam api dan mereka di dalamnya tidak bisa mendengar. (Al-Anbiya’: 100).

Oleh karena itu, karena mereka berada di dalam peti yang berisi penghuni neraka saja, maka mereka pun tidak dapat mendengar apapun yang bisa mendatangkan manfaat.

Mereka hanya mendengar suara azab atau suara malaikat yang mengazab mereka. Inilah yang dimaksudkan di dalam surah Al-Anbiya’ tersebut, yakni penduduk neraka tidak dapat mendengar apapun.

Jadi, penghuni neraka dan surga bisa bercakap-cakap dan saling menjawab di satu waktu.

Namun, di satu waktu mereka tidak mampu mendengar apapun kecuali suara azab mereka atau suara malaikat yang mengazab mereka. Hal ini dikarenakan mereka berada di peti khusus penghuni neraka.

Sumber: Liputan6

Artikel terkait lainnya