DEMOCRAZY.ID – Utang luar negeri oleh setiap negara sering dipromosikan sebagai jalan pintas menuju pembangunan.
Namun sejarah global menunjukkan sisi gelapnya, yakni ketika utang tumbuh lebih cepat daripada kemampuan ekonominya yang menyebabkan negara tersebut bisa terjerumus ke jurang gagal bayar atau sovereign default.
Dalam dua dekade terakhir—terutama pasca pandemi Covid-19—dunia menyaksikan gelombang kebangkrutan negara yang bukan hanya menimpa negara miskin, tetapi juga ekonomi menengah hingga anggota Uni Eropa.
Apa yang pernah dialami negara-negara bangkrut ini bisa menjadi pelajaran penting bagi Indonesia untuk berhati-hati dalam membuat kebijakan utang luar negeri.
Mengutip data Dana Moneter Internasional (IMF), setidaknya ada sembilan negara pernah bangkrut terhitung sejak 2019. Kebanyakan adalah negara berkembang. Berikut detailnya:
Argentina adalah contoh klasik bagaimana krisis utang bisa menjadi “penyakit kronis”. Lantaran seringnya gagal bayar utang, negara ini dikenal sebagai “juara dunia default”.
•Default besar: 2001 (terbesar dalam sejarah saat itu), disusul 2014 dan 2020.
•Masalah utama: utang dolar besar, inflasi kronis, kebijakan fiskal populis, dan krisis kepercayaan pasar
•Dampak: pembekuan bank, kemiskinan melonjak, dan nilai mata uang anjlok.
Argentina membuktikan bahwa default bukan akhir masalah, justru bisa menjadi siklus berulang bila reformasi struktural gagal.
Sejatinya, negara ini belum pulih sepenuhnya dari “penyakit kronis”. Solusi yang telah diambil adalah restrukturisasi utang (potong nilai dan perpanjang tenor), bailout IMF, dan mengontrol nilai mata uang dan subsidi.
Namun, yang jadi masalah reformasinya setengah-setengah. Saban ganti rezim, kebijakannya pun berubah.
Krisis finansial dialami Yunani pada 2010 hingga 2015. Krisis ini telah mengguncang Uni Eropa.
•Default besar: 2012 dengan rasio utang >180% PDB.
•Masalah utama: defisit fiskal kronis, data anggaran yang dimanipulasi, kehilangan kedaulatan moneter karena euro.
•Dampak: Gaji dan pensiun dipotong, pengangguran massal, dan migrasi tenaga muda.
Secara teknis, Yunani saat itu mengalami “default parsial”, tapi dampaknya nyata seperti resesi panjang, pengangguran massal, dan instabilitas politik.
Solusi yang telah diambil adalah bailout Uni Eropa dan IMF ratusan miliar euro, penghematan ekstrem, serta reformasi pajak dan birokrasi.
Kondisi Yunani sekarang secara teknis sudah pulih, tapi kedaulatan ekonomi berkurang.
Negara Timur Tengah ini juga pernah mengalami kebangkrutan karena berbagai masalah, termasuk korupsi yang merajalela.
•Default besar: 2020 (ditandai dengan kegagalan membayar obligasi luar negeri).
•Masalah utama: utang sangat tinggi, sistem perbankan rapuh, dan korupsi oleh kalangan elite.
•Dampak: nilai mata uang anjlok dan tabungan rakyat “menguap”.
Bank Dunia pernah menyebut krisis Lebanon sebagai salah satu krisis ekonomi terburuk dalam lebih dari 100 tahun.
Kondisi krisis ekonomi Lebanon sekarang belum pulih, bahkan nyaris kolaps total.
Solusi yang diambil pun buntu. Seperti negosiasi IMF mandek, reformasi ditolak elite politik, dan sistem perbankan masih terbilang lumpuh.
Lebanon menjadi contoh nyata bahwa tanpa stabilitas politik, IMF pun tidak bersedia menolong.
Jika ada yang bangkrut karena devisa habis, Sri Lanka adalah contoh nyata.
•Default besar: April 2022, di mana utang luar negeri mencapai sekitar USD50 miliar.
•Masalah utama: pemotongan pajak besar-besaran, utang proyek infrastruktur, dan cadangan devisa terkuras.
•Dampak: kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) karena diperoleh dari impor, krisis listrik, krisis obat-obatan, dan kerusuhan nasional.
Kasus Sri Lanka menunjukkan bahwa utang luar negeri begitu diremehkan sampai menyadari bahwa cadangan devisanya habis. Yang menyakitkan adalah rakyat menanggung beban berat.
Solusi yang telah diambil adalah restrukturisasi utang global, mengikuti program IMF, menaikkan pajak, dan penghapusan subsidi.
Pelajaran dari langkah yang diambil Sri Lanka adalah disiplin fiskal yang menyakitkan, tapi perlahan efektif.
Venezuela terbilang sebaga ironi dari negara dengan kekayaaan alam yang melimpah, yakni pemilik cadangan minyak terbesar di dunia, tapi miskin.
•Default besar: sejak 2017.
•Masalah utama: ketergantungan ekstrem pada minyak, salah urus ekonomi, dan sanksi internasional yang mencekik.
•Dampak: hiperinflasi, dan eksodus jutaan warga ke luar negeri.
Solusi yang telah diambil adalah bertahan lewat barter dan ekonomi informal, serta mengandalkan ekspor minyak yang terbatas.
Kondisi krisis ekonomi yang dirasakan Venezuela sekarang belum pulih, bahkan cenderung berkepanjangan.
Zambia telah menjadi simbol krisis utang di benua Afrika.
•Default besar: 2020 (gagal bayar karena utang yang terus melonjak)
•Masalah utama: ketergantungan pada ekspor tembaga dan utang luar negeri tak terkendali, termasuk dari kreditur bilateral.
•Dampak: politik tidak stabil dan cadangan devisa terus terkuras.
Solusi yang telah diambil adalah membuat kesepakatan restrukturisasi dengan kreditur, mengikuti program IMF, dan reformasi fiskal.
Kondisi krisis ekonomi Zambia sekarang perlahan menuju stabil.
Pandemi Covid-19 tak hanya memakan korban jiwa, tapi juga memicu kebangkrutan Ekuador.
•Default besar: 2020, tak lama setelah dilanda pandemi Covid-19.
•Masalah utama: pandemi Covid-19 menghantam penerimaan negara dan gagal membayar utang luar negeri.
•Dampak: kemiskinan dan pengangguran langsung melonjak, proyek infrastruktur melambat, dan subsidi untuk rakyat dipangkas.
Solusi yang telah diambil adalah melakukan restrukturisasi cepat dan disiplin fiskal pasca-pandemi.
Kondisi krisis ekonomi Ekuador sekarang mulai relatif stabil.
Negara kecil ini juga pernah mengalami kebangkrutan karena utang besar.
•Default besar: 2020, di mana penerimaan negara tidak sebanding dengan lonjakan utang luar negeri.
•Masalah utama: defisit fiskal besar, nilai mata uang lemah, utang melonjak, terlalu bergantung pada ekspor minyak, emas, dan bauksit.
•Dampak: inflasi tinggi dan daya beli turun.
Solusi yang telah diambil adalah terpaksa mengikuti program IMF dan melakukan pengetatan anggaran.
Kondisi krisis ekonomi yang melanda Suriname sekarang️ perlahan terkendali, tapi masih rapuh.
Belize mengalami gagal bayar utang karena tidak seimbang antara ukuran ekonomi dan jumlah utangnya.
•Default besar: 2020–2021, ditandai dengan kegegalan membayar obligasi luar negeri (Eurobond).
•Masalah utama: warisan utang lama ditambah utang baru, dan terlalu bergantung pada pariwisata.
•Dampak: sempat menutup perbatasan untuk menghentikan keluarnya devisa dan pariwisata lumpuh, terutama saat pandemi.
Solusi yang telah diambil adalah restrukturisasi utang, termasuk membuat kesepakatan pengurangan nilai utang dan bunga.
Belize lebih beruntung karena default yang dialami tidak sampai berimbas pada krisis politik.
Sumber: SindoNews