7 Keutamaan Orang yang Meninggal di Hari Jumat, Tinjauan Hadits

DEMOCRAZY.ID – Kematian adalah ketetapan Allah yang pasti akan menghampiri setiap makhluk tanpa terkecuali, namun waktunya menjadi rahasia Ilahi yang tidak dapat diprediksi oleh siapa pun.

Meski begitu, keutamaan orang yang meninggal di hari Jumat menjadi harapan bagi umat Islam untuk diwafatkan pada Sayyidul Ayyam tersebut.

Rujukan dalilnya adalah hadis Nabi SAW yang diriwayatkan melalui jalur Tirmidzi dan Imam Ahmad.

“Tidaklah seorang Muslim meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat, kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah (siksaan) kubur.”(HR. Tirmidzi no. 1074, Ahmad no. 169–176).

Dalil keutamaan meninggal di hari Jumat banyak dikaji para ulama hingga pelajar.

Muhammad Hidayat, dkk dalam ‘Jurnal Shahih: Analisis Hadis Tentang Keistimewaan Meninggal pada Hari Jumat’. UIN Sumut (2023).

Hidayat menjelaskan, dalil yang menjadi dasar keutamaan meninggal di hari Jumat bisa dilacak dari berbagai periwayatan yang menyimpulkan bahwa hadis tersebut berstatus hasan lighairihi.

“Karena hadis ini didukung oleh jalur lain yang lebih kuat, maka kualitasnya dapat diterima sebagai hasan lighairihi dan layak dijadikan hujjah.,” demikian kesimpulan Hidayat, dkk.

Keutamaan Orang yang Meninggal di Hari Jumat

Perlu dicatat, bahwa waktu dan bagaimana kematian menghampiri menjadi rahasia Ilahi.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, ketidaktahuan manusia terhadap saat kematian berfungsi sebagai dorongan untuk memperbanyak amal saleh, karena siapa pun bisa dipanggil kapan saja tanpa peringatan.

Merujuk Skripsi berjudul Hadis tentang Keistimewaan Meninggal pada Hari Jumat (Kajian Sanad dan Matan) oleh Muslimin (2014, UIN Sunan Kalijaga) dan sumber lainnya, berikut ini adalah keutamaan meninggal di hari Jumat.

1. Terlindung dari Fitnah (Siksaan) Kubur

Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang Muslim meninggal dunia pada hari Jumat atau malam Jumat, melainkan Allah akan menjaganya dari fitnah kubur.” (HR. Tirmidzi No. 1074 dan Ahmad No. 169–176).

Hadis ini dinilai hasan lighairihi oleh banyak ahli hadis, seperti disebut oleh Al-Munawi dalam Faid al-Qadir dan dikaji mendalam oleh Muhammad Hidayat dkk (2023) serta Muslimin (2014).

Imam Al-Munawi menjelaskan bahwa “fitnah kubur” adalah pertanyaan dan siksa yang dialami oleh ruh manusia setelah kematian.

Maka, seseorang yang meninggal di hari Jumat mendapatkan perlindungan khusus dari Allah, karena hari itu adalah waktu turunnya rahmat dan ampunan.

Hari Jumat adalah waktu yang paling mulia dalam sepekan, sehingga siapa yang diwafatkan di dalamnya dilindungi oleh keberkahan waktu tersebut dari ketakutan dan azab kubur.

2. Tanda Wafat Husnul Khatimah

Diriwayatkan dalam hadis shahih bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, maka Dia akan memberinya husnul khatimah.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Lathāif al-Ma‘ārif menjelaskan bahwa hari Jumat disebut sayyidul ayyam (penghulu segala hari) karena padanya Allah menyempurnakan penciptaan Adam, memasukkannya ke surga, dan mengeluarkannya darinya.

Oleh sebab itu, wafat di hari ini menandakan seseorang berpulang dalam keadaan mulia. Jika seorang mukmin wafat pada hari yang diberkahi ini, maka itu pertanda baik bahwa Allah memilih waktu terbaik untuk menutup kehidupannya di dunia.

Artinya, meninggal di hari Jumat tidak otomatis menjamin surga, namun menjadi tanda husnul khatimah karena Allah telah memilihkan waktu mulia untuk kematiannya.

3. Hari Jumat adalah Hari Pengampunan dan Mustajabnya Doa

Rasulullah SAW bersabda: “Pada hari Jumat terdapat satu waktu, tidaklah seorang Muslim berdoa kepada Allah ketika itu, melainkan Allah akan mengabulkan doanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Al-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa keberkahan hari Jumat mencakup seluruh amal dan keadaan seorang mukmin, termasuk waktu kematian.

Karena pada hari itu doa diijabah dan rahmat Allah melimpah, maka wafat di hari Jumat berarti meninggal dalam suasana penuh pengampunan.

Hari Jumat adalah momen penghapusan dosa bagi mereka yang beristighfar, sehingga siapa yang diwafatkan di hari itu, maka ruhnya keluar di waktu yang suci, disertai limpahan rahmat.

4. Terhindar dari Azab dan Kesulitan di Alam Kubur

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya kematian pada hari Jumat atau malamnya menjadi pelindung dari azab kubur.” (HR. Ahmad)

Imam Al-Qurthubi dalam At-Tadzkirah fi Ahwal al-Mauta wa Umur al-Akhirah menulis, barang siapa meninggal di hari Jumat, maka ia selamat dari kesempitan dan kegelapan kubur.

Sebab hari itu adalah hari di mana Allah melimpahkan cahaya dan rahmat di bumi.

Hal ini bukan hanya keistimewaan waktu, melainkan juga tanda penerimaan amal baik semasa hidup.

Orang yang taat lalu diwafatkan di waktu yang penuh rahmat, akan menerima kemuliaan ganda: dari amalnya dan dari waktu kematiannya.

5. Wafat di Hari yang Dikelilingi Malaikat dan Rahmat

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya malaikat berdiri di pintu masjid pada hari Jumat, mencatat siapa yang datang lebih dahulu hingga imam keluar, lalu mereka melipat catatan itu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Al-Nawawi menjelaskan bahwa banyaknya malaikat yang turun di hari Jumat menunjukkan turunnya rahmat Allah yang luas.

Maka, siapa yang meninggal pada hari itu berarti ia berpulang dalam suasana dunia yang dilingkupi malaikat dan doa kaum mukmin.

Hari Jumat adalah hari turunnya malaikat rahmat dan naiknya amal manusia. Siapa yang wafat di hari itu, maka ruhnya dibawa bersama ruh-ruh yang naik dalam keadaan bersih.

6. Dihimpunkan Bersama Orang Saleh di Akhirat

Ibn Qayyim al-Jauziyah dalam Zād al-Ma‘ād menulis bahwa hari Jumat adalah “hari kebangkitan” karena di hari itulah kiamat akan terjadi.

Menurut Ibn Qayyim, hari Jumat adalah cermin hari kebangkitan.

Barang siapa meninggal di hari itu, maka seakan-akan ia dipanggil dalam waktu yang sama ketika orang-orang saleh kelak dikumpulkan di padang mahsyar.

Artinya, kematian di hari Jumat menjadi isyarat bahwa seorang mukmin akan dikumpulkan dalam golongan orang-orang beriman yang mendapat naungan Allah di akhirat.

Ibn Qayyim melihat hari Jumat bukan sekadar hari ibadah mingguan, melainkan cermin atau bayangan dari peristiwa-peristiwa besar pada Hari Pembalasan (al-Qiyāmah).

Dalam pandangannya, beberapa fenomena penting berhimpun pada Jumat: penciptaan Nabi Adam, dimasukkannya Adam ke surga dan dikeluarkannya darinya, serta menurut sebagian riwayat adanya “saat” khusus yang mustajab untuk doa.

Karena itu Jumat berfungsi sebagai pola skematik yang memuat tema-tema kebangkitan, penghisaban, pengumpulan manusia, dan manifestasi rahmat ilahi.

Dengan metafora itu, peristiwa kematian yang terjadi pada hari Jumat dianggap seolah-olah “terkait” dengan skenario akhirat.

Seseorang yang wafat pada hari tersebut seakan-akan dipanggil kembali pada waktu yang sama ketika seluruh manusia akan dikumpulkan di Padang Mahsyar.

7. Waktu Wafat yang Disaksikan Rahmat dan Cahaya

Dalam pandangan sufistik, Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menulis bahwa waktu kematian seseorang memantulkan “rahmat Ilahiyyah” yang melingkupinya.

Wafat di hari Jumat, katanya, adalah tanda bahwa Allah menutup hidup hamba dengan kelembutan (luthf) dan rahmat (rahmah)”. Beliau menegaskan:

“Barang siapa meninggal di waktu di mana Allah melipat gandakan cahaya, maka ia termasuk orang yang dirahmati dan dimudahkan perjalanannya menuju akhirat.” jelasnya.

Dengan demikian, meninggal di hari Jumat menunjukkan su’ul khatimah (akhir yang buruk) telah dijauhkan, dan husnul khatimah (akhir yang baik) telah didekatkan.

Para ulama hadis, tafsir, dan tasawuf sepakat bahwa kematian di hari Jumat merupakan tanda kemuliaan dan rahmat Allah SWT.

Kajian Hadis Keutamaan Meninggal di Hari Jumat

Kerapkali muncul pertanyaan, apabila ada keutamaan meninggal di hari Jumat, bagaimana dengan hari lainnya?

Hidayat dalam penelitiannya menjelaskan bahwa makna hadis ini tidak meniadakan keadilan Allah dalam memberi balasan, tetapi menandakan kemuliaan tambahan bagi seorang mukmin yang wafat di hari Jumat.

“Keistimewaan ini adalah karunia Allah yang menandai akhir kehidupan dalam keadaan husnul khatimah, bukan jaminan keselamatan bagi semua yang meninggal di hari Jumat.” demikian dinukil dari Jurnal Shahih.

Sementara, Muslimin, dalam riset matan menjelaskan, wafat di hari Jumat tidak otomatis menghapus dosa, melainkan menjadi indikasi baik atas kehidupan iman seseorang yang dirahmati Allah.

Keduanya menegaskan bahwa maksud dari dijaga dari fitnah kubur adalah perlindungan Allah dari azab kubur, khusus bagi hamba beriman yang meninggal pada hari tersebut dalam keadaan taat.

Dari aspek spiritualitas, hari Jumat menjadi momentum refleksi diri bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah dan doa agar diwafatkan dalam keadaan terbaik.

“Hadis ini menjadi dorongan spiritual agar umat Muslim senantiasa memohon husnul khatimah, salah satunya dengan berharap wafat di hari Jumat,” tulis Hidayat.

Kesimpulannya, hadis ini bersifat motivatif, bukan jaminan otomatis selamat dari azab kubur, melainkan tanda kebaikan akhir hayat bagi hamba yang beriman.

Hari Jumat memiliki posisi spiritual khusus dalam Islam, sehingga kematian di hari itu dipandang sebagai penutup hidup yang mulia.

Konteks pemaknaan harus proporsional, tidak memunculkan kultus berlebihan terhadap waktu kematian, melainkan memperkuat semangat beramal saleh sepanjang hayat.

Pertanyaan Seputar Tema

1. Apa pahala meninggal dunia di hari jumat?

“Barangsiapa yang meninggal pada malam Jum’at atau siang Jum’at, maka ia akan terbebas dari siksa kubur dan pada hari kiamat akan datang dengan tanda-tanda orang yang mati syahid.”

2. Meninggal yang baik hari apa menurut Islam?

Menurut Islam, hari meninggal yang baik adalah hari Jumat, yang diyakini sebagai tanda husnul khatimah (akhir yang baik). Orang yang meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat disebut akan dilindungi dari fitnah kubur, yang juga menjadi salah satu keistimewaan karena hari Jumat adalah hari yang mulia.

3. Apa ciri orang meninggal husnul khotimah?

Ciri-ciri husnul khatimah meliputi mengucapkan kalimat syahadat saat meninggal, dahi yang berkeringat, meninggal pada malam Jumat atau hari Jumat, mati syahid, dan meninggal saat melakukan amal saleh.

Tanda-tanda ini juga dapat berupa meninggal saat sakit perut, tenggelam, atau tertimpa reruntuhan.

4. Apakah arwah akan pulang setiap malam Jumat?

Tidak benar jika setiap malam Jumat arwah orang meninggal pulang ke rumah seperti orang hidup.

Namun, menurut beberapa riwayat dan pandangan ulama, arwah orang meninggal, terutama yang beriman, bisa naik ke langit dunia dan berdiam di dekat rumah mereka, memohon doa dari keluarga yang masih hidup.

Kepercayaan bahwa arwah pulang dan menangis jika tidak didoakan adalah mitos yang tidak sesuai dengan ajaran agama, dan sebaiknya kita fokus mendoakan mereka daripada mempercayai khayalan.

Sumber: Liputan6

Artikel terkait lainnya