DEMOCRAZY.ID – Turki menjadi negara yang getol menyuarakan pembelaan terhadap Palestina.
Sikap ini sungguh berbeda dengan sejumlah negara Arab yang memilih tidak begitu proaktif terhadap krisis kemanusiaan yang terjadi di kawasan tersebut.
Dengan nada keras yang khas, Presiden Turki Erdogan tidak hanya menyebut serangan Israel sebagai pelanggaran HAM biasa, melainkan secara tegas mendakwanya sebagai kejahatan kemanusiaan terencana yang bertujuan memusnahkan eksistensi Palestina.
Pernyataan ini bukan sekadar kecaman diplomatik biasa, melainkan sebuah sikap konfrontatif yang menempatkan Turki sebagai garda terdepan pembela Gaza di tengah lemahnya respon dunia Arab.
Di balik retorika kerasnya, langkah Erdogan ini merupakan bagian dari strategi besar Turki untuk memperkuat pengaruhnya di kawasan Timur Tengah.
Dengan konsisten membangun narasi sebagai “penjaga keadilan” bagi Palestina, Erdogan berusaha memposisikan Turki sebagai pemimpin dunia Muslim yang progresif dan berani melawan hegemoni Barat.
Sikap tegas ini tidak hanya memperkuat legitimasinya di dalam negeri, tetapi juga menjadi alat diplomasi untuk merangkul negara-negara Arab yang selama ini kecewa dengan ketidakberdayaan pemimpin tradisional mereka dalam menghadapi Israel.
Berikut ini adalah 6 perkataan Erdogan yang membuat kuping Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu panas.
“Israel adalah negara teroris. Ia melakukan terorisme negara. Ia tidak berbeda dari organisasi teroris.”
Pernyataan ini kerap diulang Erdogan dalam berbagai kesempatan, terutama setelah serangan-serangan militer Israel di Gaza.
Ia menegaskan bahwa tindakan Israel bukanlah operasi militer yang sah, melainkan aksi teror yang dilakukan oleh sebuah negara.
“Kita sedang menyaksikan kekejaman, pembantaian, dan teror yang tidak kalah kejinya dari yang dilakukan Hitler.”
Ini adalah salah satu tuduhan paling pedas Erdogan, di mana ia secara terbuka menyamakan tindakan Israel di Gaza dengan Holocaust yang dilakukan oleh rezim Nazi Jerman. Pernyataan ini selalu memicu kecaman keras dari Israel.
“Apa yang dilakukan Israel di Gaza adalah pembantaian, genosida, dan pembersihan etnis. Mereka bertujuan untuk menghapus Gaza dari peta.”
Erdogan konsisten menggunakan istilah-istilah terkuat dalam hukum humaniter internasional, seperti “genosida” dan “pembersihan etnis,” untuk menggambarkan operasi militer Israel. Ini adalah upaya untuk mendeskreditkan legitimasi aksi Israel di mata dunia.
“Netanyahu, si pembantai Gaza… Kami akan membuatnya membayar mahal untuk setiap tetes darah yang dia tumpahkan.”
Erdogan sering menyasar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara personal dengan kata-kata yang sangat tajam.
Ia menggunakan julukan-julukan seperti “tiran”, “pembantai” (butcher), dan “penjahat perang” untuk mengisolasi dan mendemonisasi pemimpin Israel tersebut.
“Israel telah melanggar semua hukum, moral, dan nilai kemanusiaan. Mereka tidak memiliki hukum, tidak ada keadilan, dan tidak ada hati nurani.”
Pernyataan ini menyerang legitimasi moral dan hukum Israel. Erdogan berusaha menggambarkan Israel sebagai entitas yang liar dan di luar peradaban, yang tidak menghargai norma-norma internasional maupun nilai-nilai kemanusiaan universal.
Erdogan berulang kali menyebut Netanyahu sebagai penjahat perang sebagai respons atas agresi militer Israel di Jalur Gaza sejak Oktober 2023.
Dia menuduh Israel melakukan kejahatan kemanusiaan dan genosida terhadap warga Palestina, mengklaim bahwa tindakan yang diperintahkan oleh Netanyahu telah menyebabkan puluhan ribu korban sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.
Komentar ini merupakan bagian dari retorika dirinya yang sangat vokal dan kritis terhadap kebijakan Israel, yang menganggap respons Israel sebagai tindakan di luar batas hukum internasional dan etika.
Kecaman itu juga mencerminkan sikap Turki yang secara konsisten mendukung hak-hak Palestina dan mengkritik pendudukan Israel.
Puncaknya, Erdogan bahkan membandingkan Netanyahu dengan pemimpin Nazi Adolf Hitler, menyebut bahwa Netanyahu telah melampaui kekejaman Hitler.
Pernyataan ekstrem ini tidak hanya meningkatkan ketegangan diplomatik antara Turki dan Israel, tetapi juga menyoroti perbedaan pandangan yang tajam antara kedua negara.
Lebih jauh lagi, dia menggunakan platform internasional, seperti pidatonya di Majelis Umum PBB, untuk menyerukan agar Netanyahu diadili di pengadilan internasional atas tuduhan kejahatan perang.
Seruan ini menggarisbawahi upaya dirinya untuk menggalang dukungan global bagi upaya hukum terhadap kepemimpinan Israel dan menyoroti kekhawatiran yang mendalam atas krisis kemanusiaan di Gaza.
“Kami akan melakukan segala daya kami untuk memastikan bahwa para penjahat perang, terutama Netanyahu, tidak luput dari hukuman. Kami akan membawanya ke pengadilan internasional.”
Ini adalah bentuk komitmen politik dan diplomatik. Erdogan tidak hanya mencaci, tetapi juga berjanji untuk menggunakan semua saluran diplomasi dan hukum internasional untuk meminta pertanggungjawaban Netanyahu, yang ia sebut sebagai “penjahat perang”.
Sumber: Republika