5 Mukjizat Nabi Nuh Sebagai Rasul Pertama, Jadi Pengingat Kekuasaan Allah

DEMOCRAZY.ID – Dalam Islam, salah satu kisah nabi yang paling berkesan adalah Nabi Nuh AS.

Kisahnya yang membuat bahtera dan menghadapi air bah yang dahsyat banyak diabadikan bukan hanya di Al-Quran, tapi juga lewat buku-buku.

Nabi Nuh AS termasuk nabi yang memiliki umur panjang. Beliau berdakwah hampir seribu tahun tanpa henti untuk mengajak kaumnya kembali kepada Allah SWT.

Meskipun dalam rentang ratusan tahun tersebut hanya sedikit yang mau beriman, namun Nabi Nuh AS tetap menjalankan perintah-Nya. Mukjizat Nabi Nuh AS juga menjadi bukti bagaimana sabarnya beliau dan kuatnya imannya menghadapi ujian-ujian berat.

Nuh sendiri termasuk ke dalam golongan Rasul Allah, yang ditugaskan untuk menyampaikan wahyu Allah kepada umat manusia, agar mereka kembali ke jalan yang benar dan meninggalkan penyembahan berhala.

Mukjizat Nabi Nuh bukan hanya bahtera yang besar atau dahsyatnya banjir, tapi juga keteguhan hati dan keajaiban batin yang menyertai perjuangannya.

Dalam artikel berikut ini, kami akan sampaikan apa saja mukjizat Nabi Nuh AS yang bisa menjadi renungan dan bukti kekuasaan Allah SWT.

1. Membuat Bahtera Raksasa atas Perintah Allah

Jika mukjizat Nabi Daud adalah mampu melunakkan besi dan membuat baju zirah yang kokoh, maka mukjizat terbesar Nabi Nuh AS ialah ketika beliau diperintah Allah untuk membuat kapal raksasa di daratan, yang jaraknya jauh sekali dari laut.

Perintah ini datang langsung dari Allah sebagai persiapan menghadapi azab besar bagi kaum yang menolak kebenaran.

Perintah ini juga terukir dalam sumber hukum Islam, Al-Quran, dalam surat Hud: 37, di mana Allah memerintahkan Nuh agar membangun bahtera di bawah bimbingan wahyu-Nya dan tidak lagi memohon ampun untuk kaum yang zalim.

Bagi kaumnya, perintah itu terlihat aneh. Mereka mengejek dan menertawakan Nuh karena membangun kapal besar di tempat yang tidak ada airnya.

Tetapi Nuh tetap meneruskan tugasnya dengan penuh keyakinan. Nantinya, kapal itu dibuat bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk orang-orang beriman dan sepasang dari setiap jenis hewan.

Mukjizat Nabi Nuh ini menunjukkan bahwa orang yang benar-benar beriman dan yakin kepada Allah SWT, akan menuruti segala perintah-Nya meskipun jauh dari logika manusia.

Nuh sendiri juga disebutkan tidak pernah belajar cara membuat kapal, namun bisa menyelesaikan bahtera yang kokoh dan tahan terhadap banjir besar. Ini menjadi bukti bahwa jika Allah menghendaki sesuatu, hamba-Nya bisa melakukan hal yang tampaknya mustahil.

2. Selamat dari Banjir Besar yang Menenggelamkan Dunia

Jika mukjizat Nabi Luth adalah selamatnya beliau dan pengikutnya dari azab Allah berupa gempa dahsyat dan hujan batu, maka salah satu mukjizat Nabi Nuh adalah selamatnya beliau dan para pengikutnya dari banjir besar yang dahsyat.

Sama seperti yang terjadi pada kaum Nabi Luth, banjir yang terjadi di masa Nabi Nuh adalah azab Allah SWT untuk kaum yang menolak dakwah utusan-Nya selama ratusan tahun.

Air keluar dari bumi dan turun dari langit sekaligus, sampai gunung-gunung tinggi pun tidak bisa dijadikan sebagai tempat berlindung.

Dalam surat Hud ayat 42–43, diceritakan bagaimana salah satu anak Nabi Nuh menolak naik ke kapal. Ia berpikir gunung bisa menyelamatkannya, tetapi Allah menegaskan bahwa tidak ada yang bisa selamat dari azab-Nya kecuali orang yang diberi rahmat.

Kisah ini memberi pelajaran bahwa iman lebih penting dari hubungan keluarga, dan keselamatan sejati hanya untuk yang patuh kepada Allah.

Setelah kaum kafir binasa, air pun mulai surut. Kapal Nabi Nuh akhirnya berhenti di Bukit Judi, seperti disebutkan dalam Al-Quran.

3. Doa Nabi Nuh yang Langsung Dikabulkan

Setelah berdakwah berabad-abad namun tetap ditolak, Nabi Nuh menyampaikan doanya kepada Allah.

Ia memohon agar orang-orang kafir yang terus menolak kebenaran tidak dibiarkan hidup dan menyesatkan generasi berikutnya.

Dalam surat Nuh ayat 26, beliau berdoa agar Allah tidak membiarkan satu pun orang kafir tersisa di bumi.

Doa ini langsung dikabulkan. Tak lama setelah itu, air bah turun dari langit dan memancar dari bumi, menenggelamkan seluruh kaum yang membangkang.

Ingat, bahwa peristiwa besar yang berdampak sangat luas ini berawal dari sebuah doa sekaligus menjadi bukti nyata kekuasaan Allah.

Mukjizat ini mengajarkan bahwa doa hamba yang sabar dan ikhlas pasti akan mendapatkan hasil, meski tidak selalu cepat terlihat. Ketika kezaliman sudah melewati batas, Allah sendiri yang akan menegakkan keadilan.

4. Umur Panjang dan Keteguhan Berdakwah

Sama seperti mukjizat Nabi Adam yang diberi umur panjang, Nabi Nuh AS juga diberi umur yang sangat panjang, yaitu sekitar 950 tahun berdakwah kepada satu generasi manusia.

Usia ini bahkan juga tertera dalam surat Al-‘Ankabut: 14 disebutkan dengan jelas lamanya beliau tinggal bersama kaumnya.

Umur panjang ini bukan hanya keistimewaan fisik, tapi juga mukjizat yang menunjukkan betapa kuat dan sabarnya beliau menjalankan tugas dakwah.

Selama ratusan tahun, Nabi Nuh tidak pernah berhenti. Ia berdakwah siang dan malam, mengajak dengan lembut maupun memberi peringatan, tetapi hanya sedikit yang beriman, bahkan disebutkan tidak lebih dari 80 orang. Walaupun begitu, beliau tidak menyerah.

Nabi Nuh menjadi salah satu simbol kesabaran luar biasa dari seorang rasul yang benar-benar menjalankan amanahnya.

Mukjizat umur panjang ini juga mengingatkan bahwa waktu adalah anugerah besar. Umur yang diberkahi adalah umur yang digunakan untuk kebaikan, bukan untuk hal sia-sia.

5. Menjadi Rasul Pertama yang Diutus ke Bumi

Sebelum Nabi Nuh, manusia masih mengikuti ajaran dari Nabi Adam AS. Namun seiring waktu, banyak yang mulai menyimpang dan menyembah berhala.

Pada saat itulah Allah mengutus Nabi Nuh sebagai rasul pertama yang membawa risalah dan hukum bagi umat manusia.

Menurut penjelasan ulama seperti Ibnu Katsir, beliau adalah rasul pertama yang diutus untuk memperbaiki akidah umat.

Mukjizat ini bukan berupa tanda fisik saja, tapi juga berupa wahyu dan bimbingan langsung dari Allah.

Nabi Nuh diangkat sebagai utusan untuk seluruh umat pada masanya, tidak hanya untuk satu suku atau kelompok tertentu.

Beliau menjadi pembuka jalan bagi para nabi setelahnya sampai akhirnya risalah ditutup oleh Nabi Muhammad SAW.

Peran Nabi Nuh sebagai rasul pertama menunjukkan betapa berat amanah yang ditanggungnya.

Dari sinilah tradisi kenabian mulai berjalan, dan dari perjuangan Nabi Nuh lah kemudian lahir pondasi bagi agama-agama samawi.

Sumber: Liputan6

Artikel terkait lainnya