DEMOCRAZY.ID – Mantan Menko Polhukam Mahfud MD mengingatkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahwa dua dari empat area korupsi terbesar di Indonesia kini berada di bawah tangannya, dan di sana “mafianya luar biasa”.
“Sumber korupsi ada empat area korupsi terbesar yang selalu disebut oleh masyarakat: satu pajak, dua bea cukai, tiga pertambangan, empat perkebunan. Dua di antaranya sekarang di bawah tangannya Menteri Keuangan baru,” Mahfud dalam podcast Terus Terang yang diunggah Selasa (7/10/2025).
Mahfud mengapresiasi bahwa Purbaya sudah menyatakan akan menangani sendiri masalah di Ditjen Pajak dan Ditjen Bea Cukai.
“Dua di tangan dan dia sudah menyatakan itu karena di sana mafianya itu luar biasa. Itu sebabnya saya dulu pernah mengungkap, kita ungkap sekarang mudah-mudahan dimasukkan juga kepada Pak Purbaya,” jelasnya.
Mahfud membongkar secara detail modus operandi korupsi di Bea Cukai yang harus ditangani Purbaya.
Pertama, turunkan tarif 5 persen jadi 0 persen.
“Singapura kirim barang dengan HS Code 5 persen.Tapi tiba-tiba di Bea Cukai kita dicoret diturunkan jadi 0 persen,” ungkap Mahfud.
Ketika ditanya alasannya, jawaban petugasnya menggelikan.
“Kita tidak harus ikut Singapura, kita bisa menghitung sendiri. Memang boleh, tapi aneh kalau 5 persen Anda turunkan nol. Ini penerimaan negara hilang.”
Mahfud menegaskan, “Kalau Singapura nulis 0 persen lalu kita tulis 5 persen, itu baru bagus.
Tapi ini dari 5 persenmalah diturunkan ke 0 persen, negara kehilangan kesempatan.”
Kasus kedua, selisih 3,5 ton emas. Mahfud mengungkap temuan yang lebih mengejutkan: adanya selisih 3,5 ton emas dalam satu transaksi importasi.
“Saya mendapat informasi dari orang dalam: selisih 3,5 ton emas. Ton lah, bukan 3,5 gram, bukan 3,5 kilo, tapi 3,5 ton emas baru dalam satu kasus,” tegasnya.
Selisih tersebut ditemukan ketika membandingkan laporan Bea Cukai dengan Ditjen Pajak.
“Ketika masuk lewat Bea Cukai nilainya hanya 4,3 ton. Tapi ketika keluar dari Ditjen Pajak berdasar hasil transaksi nilainya 7,9 ton. Sehingga ada selisih 3,5 ton emas.”
Mahfud mencurigai ada permainan antara pihak Bea Cukai dan importir.
“Setiap diberi tugas menemui tersangkanya, menemui importirnya, Bea Cukai bilang orangnya tidak bisa ditemui, sakit. Tapi pajak laporkan ‘Kami sudah nemui orangnya, gampang nemuinya kok’. Itu kan jelas ada permainan,” jelasnya.
Mahfud mengaku mendapat informasi modus tersebut dari whistleblower di internal Bea Cukai.
“Saya mendapat informasi dari orang dalam yang kemudian tersingkir menjadi Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai suatu tempat. Lapor, ‘Pak, ini caranya, Pak. Ini buktinya, Pak. Dulu saya ikut melakukan ini’. Dari pejabat struktural, dia juga sekarang di penjara sudah. ‘Oh ini sudah mempola ini, Pak’,” tuturnya.
Mahfud mengungkap bahwa kasus selisih 3,5 ton emas senilai 189 triliun tersebut sudah ditetapkan untuk disidik oleh Satgas yang dibuatnya, namun tidak tahu apakah ditindaklanjuti setelah ia berhenti.
“Ini sudah ditetapkan oleh Satgas yang saya buat agar disidik. Apakah ini ditindaklanjuti atau tidak? Kalau tidak, ini harus diburu. Kami punya datanya, 189 triliun,” tegasnya.
Mahfud menjelaskan bahwa hak penyidikan untuk kasus ini ada di PPNS Dirjen Bea Cukai dan Pajak yang bisa melakukan penyidikan sendiri.
Mahfud memberikan pesan khusus untuk Menteri Keuangan baru.
“Ini sekaligus pesan buat Menteri Keuangan yang baru. Mudah-mudahan Pak Purbaya bisa menangani ini. Kebetulan Pak Prabowo juga sudah menyediakan dirjen yang baru untuk Bea Cukai sehingga dia tidak terkontaminasi. Harus tahu ini pola ini berlaku di mana-mana,” pesannya.
Ia menegaskan bahwa yang begini-begini banyak terjadi.
“Anda bayangkan itu baru satu importasi emas, baru satu orang dari 300 surat.”
Mahfud menantang keberanian Purbaya untuk menangani kasus-kasus ini.
“Kalau berani, itu bagus. Yang akan menekan dia seperti halnya menekan saya dulu itu adalah orang-orang besar juga. Ada yang dengan terang-terangan, ada yang mau nyuap, ada yang ngancam juga. Saya ancam balik,” tantangnya.
Mahfud berharap dengan gaya tegas dan ceplas-ceplos Purbaya, kasus-kasus korupsi di dua area terbesar ini bisa dituntaskan.
Sumber: JakartaSatu