DEMOCRAZY.ID – Pengerahan militer Amerika Serikat (AS) dalam skala besar ke Timur Tengah kembali memanaskan tensi geopolitik global.
Setelah memerintahkan penumpukan kekuatan militer terbesar di kawasan itu sejak awal Perang Irak, Presiden Donald Trump kini berada di persimpangan penting, yakni menyerang Iran atau memberi ruang bagi diplomasi.
Langkah besar itu diambil oleh Trump di tengah kebuntuan negosiasi nuklir dengan Iran.
Dua kapal induk, puluhan kapal perang, serta ratusan pesawat tempur kini berada di sekitar perairan Iran, menciptakan tekanan militer yang belum pernah terlihat dalam beberapa tahun terakhir.
Sejumlah opsi kini berada di meja Trump. Dalam beberapa sesi tanya jawab informal selama beberapa pekan terakhir, ia mengonfirmasi secara samar berbagai kemungkinan langkah yang sedang dipertimbangkan.
Opsi tersebut berkisar dari menahan diri dan melanjutkan diplomasi, melakukan serangan terbatas terhadap target militer, hingga operasi besar yang bertujuan menggulingkan pemerintahan di Teheran sekaligus opsi paling ekstrem dengan risiko terbesar.
“Semua yang telah ditulis tentang potensi perang dengan Iran telah ditulis secara tidak benar, dan memang sengaja demikian,” tulis Trump di Truth Social, sebagaimana dikutip CNN International, Selasa (24/2/2026).
“Saya yang membuat keputusan, saya lebih memilih ada kesepakatan daripada tidak, tetapi jika kita tidak mencapai kesepakatan, itu akan menjadi hari yang sangat buruk bagi negara itu dan, sangat disayangkan, bagi rakyatnya.”
Meski demikian, belum jelas secara pasti apa tujuan akhir yang ingin dicapai Trump.
Tidak sepenuhnya terang pula mengapa momentum aksi dipertimbangkan saat ini, maupun dasar hukum apa yang akan digunakan untuk meluncurkan serangan kedua terhadap Iran dalam kurun delapan bulan.
Di balik layar, Trump menerima masukan yang saling bertentangan dari sekutu, penasihat, dan mitra asingnya.
Sebagian mendesak kelanjutan diplomasi, sementara lainnya menilai Iran sedang dalam posisi lemah dan momen bertindak adalah sekarang.
Pejabat tinggi Gedung Putih menegaskan preferensi Trump adalah mencapai kesepakatan yang menghindari konfrontasi militer.
Utusan khususnya, Steve Witkoff, bersama menantunya Jared Kushner, telah melakukan pembicaraan tidak langsung dengan pejabat Iran dalam beberapa pekan terakhir. Keduanya dijadwalkan kembali ke Jenewa, Swiss, Kamis ini, untuk putaran negosiasi lanjutan.
Witkoff pada Sabtu mengatakan Trump merasa “penasaran” mengapa Iran belum “menyerah” dalam perundingan.
Namun kedua pihak memiliki garis merah yang saling bertentangan. Trump menegaskan Iran tidak boleh memperkaya uranium dalam bentuk apapun.
Sebaliknya, Iran menyatakan itu adalah haknya dan menegaskan program nuklirnya semata untuk tujuan damai.
Seorang sumber yang mengetahui proses negosiasi menyebut Iran tengah menyusun proposal yang diharapkan dapat menjembatani perbedaan tersebut dan akan dibagikan kepada mediator dari Oman sebelum pembicaraan penting Kamis.
“Hari Kamis ini akan menentukan segalanya, perang atau kesepakatan,” ujar seorang sumber regional yang mengetahui jalannya perundingan.
Tahun lalu, Trump melancarkan serangan mendadak terhadap program nuklir Iran menjelang putaran pembicaraan AS-Iran.
Namun kali ini, sumber regional memperkirakan tim Trump akan terlebih dahulu mengikuti perundingan di Jenewa sebelum mengambil langkah militer.
Meski begitu, beberapa hari menjelang pembicaraan, tampaknya proposal Iran tidak akan mencakup komitmen nol pengayaan uranium.
Tuntutan tersebut sejak lama menjadi garis merah Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran berusia 86 tahun yang memiliki kewenangan menyetujui atau memveto setiap kesepakatan.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan pada Minggu bahwa nol pengayaan bukan opsi.
“Kami telah mengembangkan teknologi ini sendiri, oleh para ilmuwan kami, dan teknologi ini sangat berharga bagi kami, karena kami telah membayar banyak. Kami telah mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk itu,” kata Araghchi kepada CBS.
“Itu kini menjadi masalah martabat dan kebanggaan bagi rakyat Iran, dan kami tidak akan melepaskannya.”
Sumber lain menyebut Iran belum menunjukkan kesiapan untuk menawarkan proposal yang secara substansial berbeda dari pembahasan sebelum serangan AS tahun lalu.
Namun kedua pihak disebut mencoba lebih “kreatif” dalam negosiasi.
Salah satu ide yang mencuat adalah mengizinkan Iran memperkaya uranium dalam jumlah sangat kecil dengan jaminan hanya digunakan untuk tujuan medis, gagasan yang juga sempat dibahas dalam diplomasi yang gagal tahun lalu.
“Saya rasa Amerika sedang menunggu jawaban yang tepat dari Iran. Saya tidak tahu apakah Iran mampu memberikan jawaban yang tepat seperti yang diharapkan Amerika.” ujar sumber regional kedua.
Trump juga mempertimbangkan serangan terbatas terhadap target militer tertentu di Iran untuk memaksa Teheran kembali ke meja perundingan dengan syarat Washington.
Target potensial meliputi situs rudal balistik, fasilitas yang terkait program nuklir, atau bangunan milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Trump pada Jumat mengonfirmasi opsi ini sedang dipertimbangkan. “Kurasa, bisa kukatakan aku sedang mempertimbangkan,” ujarnya di Gedung Putih.
Namun efektivitas langkah tersebut masih diperdebatkan. Banyak pejabat regional meragukan Iran akan segera kembali bernegosiasi jika diserang, terlepas dari skalanya.
Setiap serangan juga berisiko memicu pembalasan terhadap aset militer AS di Timur Tengah. Iran telah memperingatkan pangkalan militer Amerika dapat menjadi target jika negaranya diserang.
Meski dalam serangan Juni lalu tidak ada tentara Amerika yang tewas, Iran tetap melakukan aksi balasan.
Militer AS disebut telah menyiapkan berbagai skenario operasi, termasuk pemetaan senjata spesifik untuk setiap target dan penjadwalan sortie pesawat jika perintah final dikeluarkan.
Jika diplomasi gagal total, Trump dapat meluncurkan operasi skala besar yang bertujuan menggulingkan pemerintahan Iran.
Sumber yang mengetahui situasi menyebut daya tembak di sekitar Iran sudah cukup untuk melaksanakan opsi paling ekstrem.
Serangan bisa berupa gelombang simultan terhadap berbagai target, mulai dari pemimpin Iran, instalasi militer, sistem pertahanan udara, lokasi produksi rudal, hingga fasilitas nuklir.
IRGC hampir pasti menjadi sasaran utama dalam operasi militer apapun. Namun menargetkan pemimpin politik atau tokoh agama jauh lebih rumit.
Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine dan sejumlah pemimpin militer lainnya disebut mengkhawatirkan skala, kompleksitas, serta potensi korban AS dalam operasi besar dan berkepanjangan.
Mereka juga memperingatkan dampak terhadap kesiapan pasukan serta stok persenjataan AS, terutama yang digunakan untuk mendukung Israel dan Ukraina.
“Caine, seperti kita semua, tentu tidak ingin melihat perang, tetapi jika keputusan untuk melawan Iran di tingkat militer diambil, menurutnya itu akan menjadi sesuatu yang mudah dimenangkan,” kata Trump.
Namun menggulingkan pemerintahan menimbulkan pertanyaan besar tentang siapa yang akan menggantikan kepemimpinan di Teheran.
Pemerintahan Trump tampaknya belum memiliki gambaran jelas mengenai alternatif kekuasaan di Iran maupun jaminan bahwa operasi militer besar akan benar-benar menjatuhkan kekuasaan di Iran.
Ketidakpastian itulah yang mendominasi diskusi intensif di Situation Room Gedung Putih dalam beberapa hari terakhir.
Di lingkaran dalam Trump, sebagian berharap diplomasi masih bisa menang, meski parameter kesepakatan yang dapat diterima belum jelas.
Namun ada pula yang menilai Iran kini dalam posisi lemah dan momen untuk bertindak tidak boleh dilewatkan.
Dengan pengerahan militer besar yang sudah terlanjur dilakukan, keputusan akhir Trump akan menentukan apakah kawasan kembali dilanda perang terbuka atau justru menemukan jalan keluar melalui meja perundingan.
Sumber: CNBC