DEMOCRAZY.ID – Seorang profesor asal China Tiongkok, Jiang Xueqin, membuat tiga prediksi untuk Amerika Serikat (AS) pada tahun 2024 lalu. Dua diantaranya ternyata benar.
Prediksi sang profesor mencuat di tengah terus memanasnya ketegangan antara Iran dan AS-Israel.
Cuplikan dari ceramahnya tahun 2024 banyak dibagikan secara online.
Beberapa pengguna media sosial bahkan mulai menyebutnya sebagai “Nostradamus-nya China”.
Prediksinya bermula saat dia memberikan kuliah di kampus pada 2024.
Jiang Xueqin memprediksi Donald Trump akan kembali berkuasa dan Amerika Serikat akan menghadapi perang dengan Iran .
Dalam sebuah kuliah yang direkam pada Mei 2024, Jiang membuat tiga prediksi yang mengejutkan.
Pertama, dia mengatakan Donald Trump akan kembali ke Gedung Putih dan itu terbukti Trump kembali menjabat Presiden AS.
Kedua, ia mengatakan terpilihnya kembali Trump sebagai presiden dapat menyebabkan konflik militer dengan Iran.
Ketiga, ia memperingatkan bahwa perang semacam itu dapat berakhir buruk bagi Amerika Serikat (AS), yang ini masih berproses belum terbukti saat ini.t
Jiang Xueqin adalah seorang pendidik yang mengajar filsafat dan sejarah di Beijing.
Ia adalah lulusan Yale College dan telah bertahun-tahun bekerja di bidang reformasi pendidikan dan perancangan kurikulum di Tiongkok.
Dia juga mengelola saluran YouTube bernama Predictive History, di mana ia menganalisis siklus sejarah, kepentingan geopolitik, dan teori permainan dalam upaya untuk meramalkan peristiwa global.
Dengan dua perkembangan pertama yang tampaknya terjadi, kuliah tersebut mendapatkan daya tarik baru secara daring.
Selama kuliah tersebut, Jiang membandingkan kemungkinan invasi AS ke Iran dengan kampanye militer yang gagal yang dilancarkan oleh Athena di Yunani kuno yang berakhir dengan bencana.
Dalam ceramah terbarunya, Jiang mengemukakan bahwa konflik tersebut mungkin tidak akan berakhir dengan cepat.
Ia percaya perang tersebut dapat berlangsung lama dan berpotensi membentuk kembali politik global.
Selama diskusi, ia berpendapat bahwa Iran saat ini memiliki beberapa keunggulan strategis atas Amerika Serikat.
Ia mengatakan bahwa situasi telah berubah menjadi perang gesekan, dan Iran telah menghabiskan hampir dua dekade untuk mempersiapkan konfrontasi semacam itu.
Ia juga menunjukkan bahwa Iran telah menguji kemampuannya melalui konfrontasi sebelumnya.
Merujuk pada konflik 12 hari pada Juni lalu, Jiang mengatakan bahwa episode tersebut memungkinkan pasukan Iran untuk mempelajari dan mengevaluasi kemampuan serangan Israel dan Amerika Serikat secara cermat.
Dia menambahkan bahwa bulan-bulan sejak saat itu telah memberi Iran waktu tambahan untuk mempersiapkan konfrontasi yang lebih besar.
Sumber: Tribun